image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Berita

Hari Sayang Puspa dan Satwa

Menteri Lingkungan Hidup.

Menteri Negara Lingkungan Hidup RI Gusti Muhammad Hatta melepas ratusan ekor satwa dan puspa di Makassar, Kamis, (25/11/2010). Pelepasan satwa tersebut untuk memperingati puncak peringatan hari sayang puspa dan satwa untuk daerah Sulawesi Selatan, yang dipusatkan di Benteng Fort Roterdam, Makassar.

Adapun satwa dan puspa yang dilepas adalah pelepasan Anggrek jenis anggrek macan yang dikembalikan ke alam. Anggrek tersebut saat ini dikenal sudah langka sehingga perlu pelestarian khusus soal itu. Gusti bersama Istrinya, Violet Burhanuddin Hatta juga menggelar penanaman anggrek hasil penyilangan untuk anggrek jenis lokal Sulawesi. Sedangkan satwa yang dilepas antara lain Tukik atau anak penyu jenis sisik 36 ekor yang dilepas di Pulau Barranglompo, Lola Merah sebanyak 50 ekor Kima 50 ekor dan Kuda Laut sebanyak 50 ekor. Gusti M Hatta juga melepas ratusan ekor jenis burung lokal, seperti jalak, tekukur, pleci, kenari dan merpati. “Saya mendapat laporan burung yang dilepas hari ini sebanyak 400 ekor,” kata Gusti dalam sambutannya usai pelepasan satwa tersebut ke udara.

Gusti mengaku sangat apresiatif dengan apa yang dilakukan oleh Sulawesi Selatan dalam peringatan hari sayang puspa dan satwa tersebut. Pasalnya, kegiatan itu sebagai salah satu wujud kepedulian dalam melestarikan dan mengembangkan puspa dan satwa. Hal itu penting untuk mempertahankan Indonesia sebagai negara mega biodiversity, atau negara geografus yang memiliki kekayaan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi.

“Indonesia saat ini peringkat kedua dunia yang memiliki jumlah keanekaragaman hayati. Itu perlu kita pertahankan dan lestarikan demi kepentingan dunia,” tegasnya lagi. Makanya itu, ia mengingatkan agar seluruh warga Indonesia bisa mencintai dan menyayangi puspa dan satwa Indonesia. Selama ini, kata Gusti, lingkungan sedang mengalami degradasi yang cukup fatal dan memperihatinkan. Hal itu disebabkan oleh sejumlah factor, seperti penebangan hutan secara ilegal, penghilangan hutan mangrove, pengelolaan lahan pertanian dan limbah yan kurang baik serta penangkapan satwa secara berlebihan.

“Ini penting saya sampaikan bahwa hindari perbuatan negatif yang bisa merugikan dunia. Akibat semuanya itu akan berpengaruh pada pemanasan global dan berdampak pada kelestarian lingkungan,” pungkasnya. [hsb/is] (Sumber: www.seruu.com)