image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Berita

Pengembangan Wisata Alam TN. Babul

Pengembangan Wisata Alam TN Bantimurung Bulusaraung Provinsi Sulawesi Selatan Perlu Komitmen Semua Pihak.

Pengembangan dan promosi wisata alam di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul) di Sulawesi Selatan perlu komitmen dari berbagai pihak yang terkait. Keikutsertaan berbagai pihak ini sangat penting dalam upaya menggali dan mengembangkan potensi wisata alam di Provinsi Sulawesi Selatan khususnya di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, sehingga dapat memberikan manfaat secara ekonomi, sosial dan ekologis.

Untuk membangun komitmen tersebut, pada tanggal 8 Juli 2010, Pusat Informasi Kehutanan bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan telah melaksanakan Pertemuan Multipihak guna membahas rencana Pengembangan Serta Strategi Promosi Wisata Alam Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.

Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung dan Provinsi Sulawesi Selatam memiliki banyak obyek wisata alam yang menganggumkan para wisatawan baik domestik maupun manca negara, namun masih memerlukan promosi lebih luas, untuk mampu menarik minat bagi para wisatawan untuk datang dan berkunjung.

Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung memiliki berbagai keunikan, yaitu: kars, goa-goa dengan stalaknit yang indah, dan yang paling dikenal adalah kupu-kupu yang menjadikan Bantimurung dikenal sebagai kawasan The Kingdom of Butterfly (kerajaan kupu-kupu).

Untuk itu, Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo dalam arahan pada pembukaan Pertemuan tersebut mengatakan, bahwa dalam upaya pengembangan wisata alam, ada lima hal yang perlu diperhatikan:

1. Pengaturan kelembagaan dalam aspek koordinasi Tk. Propinsi, Kabupaten/kota dan pusat);
2. Aspek regulasi, pengaturan kewenangan, dan lain-lain;
3. Aspek SDM, agar ada training, juga melibatkan masyarakat tempatan;
4. Aspek penganggaran, saling mendukung antara pemerintah pusat dan daerah;
5. Pengembangan agenda yang terpadu (desain dan proses melibatkan para pihak pemangku kepentingan).

Dalam pertemuan tersebut hadir sebagai pembicara Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan Wisata Alam Kementerian Kehutanan, Kadis Budaya dan Pariwisata Provinsi Sulsel, Kepala Balai TN Babul dan Ketua DPD Asociation of the Indonesian Tour and Travel (ASITA) Provinsi Sulawesi Selatan. Hadir dalam pertemuan tersebut, pihak-pihak yang terkait erat dengan pengembangan wisata alam yaitu : wakil dari instansi terkait dari Provinsi Sulawesi Selatan, Kabupaten Maros, Kabupaten Pangkep, wakil dari LSM, Perguruan Tinggi, masyarakat sekitar Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, pelaku usaha wisata, serta media massa. (Sumber: www.dephut.go.id)