image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Berita

Ragam Kupu-kupu Bantimurung Menyusut

Jenis kupu-kupu di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, terus berkurang.

MAROS, KOMPAS.com — Jenis kupu-kupu di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, terus berkurang. Hal ini disebabkan habitat hidup mereka terganggu aktivitas manusia dan tanaman tempat mereka bertelur mulai hilang akibat pembangunan tempat rekreasi.

Dari penelitian Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (BTNBB) tahun 2008-April 2010, spesies kupu-kupu tinggal 89 dari total 107 spesies hasil penelitian tahun 1990-an. Adapun 18 jenis lainnya akan dicoba untuk ditemukan dalam sisa waktu delapan bulan ini.

Koordinator kelompok kerja Pemanfaatan Keanekaragaman Hayati Balai TNBB Putri Cendrawasih, Rabu (12/5/2010), memperkirakan, penurunan itu dipicu tiga hal. Pertama, pembangunan sejumlah bangunan tempat wisata alam yang mengurangi tempat bertelur kupu-kupu. ”Kupu-kupu hanya mau bertelur di tempat yang menjamin ketersediaan pangan untuk larva,” ujarnya. Akibatnya, kupu-kupu bermigrasi mencari tempat lain yang mampu menyediakan makanan bagi larva.

Kedua, aktivitas wisatawan di tempat wisata alam Bantimurung di sekitar sungai di dalam tempat wisata itu mengusik aktivitas kupu-kupu yang menyenangi tempat basah dan lembab. Ketiga, penangkapan liar yang marak sekitar dua tahun ini turut memengaruhi penurunan tersebut.

Dalam buku Indonesian Archipelago (2009), naturalis asal Inggris, Alfred Russel Wallace, menjuluki Bantimurung sebagai kerajaan kupu-kupu. Menurut Wallace, yang meneliti pada abad ke XIX, kelompok kupu-kupu yang terbang melintas bisa berjumlah ribuan dan digambarkan membentuk awan. Namun, menurut Iqbal, staf kelompok kerja Keanekaragaman Hayati TBNBB, tidak pernah ada lagi fenomena kupu-kupu bergerombol membentuk awan seperti digambarkan Wallace. (RIZ/NIT) (Sumber: Kompas Cetak)