image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Artikel

Kupu-kupu ke Mana Engkau Terbang

Andai masih hidup, Alfred Russel Wallace pasti bersedih. Naturalis asal Inggris ini tak akan pernah lagi menjumpai ribuan kupu-kupu nan indah terbang bergerombol di sekitar air terjun Taman Nasional Bantimurung, Sulawesi Selatan. Jangankan ribuan, kini puluhan pun sulit ditemukan. Terlebih kupu-kupu langka asli Sulawesi yang termasyhur di seantero dunia, seperti kupu-kupu raja (Papilio adamanthis), bidadari (Chetosia myrina), Troides hypolitus, Troides helena, dan Troides haliphron.

Untunglah, Wallace (1823-1913) tetap tersenyum bangga sampai akhir hidupnya. Dalam buku The Malay Archipelago, ia sempat menjadi saksi mata panorama surgawi yang dia sebut sebagai "Kingdom of the Butterfly", kerajaan kupu-kupu. Seantero dunia pun terpukau. Dia sebutkan sedikitnya 300 spesies kupu-kupu atau 10,8 persen dari jumlah spesies kupu-kupu di Indonesia hidup di sana. Kupu-kupu jugalah yang turut membantu Wallace merumuskan teori tentang garis batas pembagian fauna Asia dan Australia.

Seabad berselang, lebih dari dua pertiga spesies kupu-kupu di Bantimurung-dibanding jumlah spesies di catatan Wallace-diyakini hilang atau punah dari habitat aslinya. Menurut penelitian teranyar Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung periode 2008-April 2010, spesies kupu-kupu di kawasan seluas 118 hektare ini tinggal 89 jenis. "Populasinya jauh berkurang," kata Dedy Asriady, Kepala Seksi Pengelolaan Balai.

Minggu dua pekan lalu, Tempo menyambangi Bantimurung yang bertengger di ketinggian 45 meter di atas permukaan laut di Kabupaten Maros. Setelah menempuh satu jam perjalanan mobil dari Kota Makassar, gapura kupu-kupu raksasa berwarna biru kehitaman menyambut kedatangan pengunjung. Kesan Bantimurung sebagai kerajaan kupu-kupu masih terasa sampai di sini.

Selanjutnya, ratusan wisatawan yang berkunjung setiap akhir pekan disambut aneka hiasan kupu-kupu awetan yang dijual, yang menjadi mata pencaharian utama 100 keluarga sekitar Bantimurung. Setelah membayar tiket Rp 5.000 per orang, aliran Sungai Bantimurung selebar lima meter memandu pengunjung ke tempat lembah kars dan air terjun yang dipenuhi pohon menjulang tinggi, tempat Wallace terkagum-kagum pada serangga bersayap indah yang jago menari ini.

Sepanjang perjalanan Tempo, hanya sekali melihat satu hingga dua kupu-kupu yang terbang dari daun ke daun. Selebihnya, hanya gerombolan manusia yang memadati kawasan seluas 18 hektare yang sengaja disisihkan khusus untuk kawasan rekreasi. "Kawasan ini sudah lama mirip pemandian keluarga," kata Kristian, 37 tahun, salah satu pengunjung. Sejauh mata memandang, para wisatawan dalam dan luar negeri asyik berbasah-basah, makan bersama, hingga mandi di percikan jeram air terjun.

Lalu di mana kerajaan kupu-kupu yang diceritakan Wallace kini? Mungkin hanya penanda gapura kupu-kupu raksasa dan aneka jualan pernak-pernik hiasan kupu-kupu yang masih mengingatkan Bantimurung sebagai kerajaan kupu-kupu.

Tidak bisa dimungkiri, meski untuk ilmu pengetahuan, Wallace jugalah yang menjadi penyebab kelangkaan kupu-kupu di Bantimurung. Sejak Wallace bertolak ke Eropa dengan membawa kupu-kupu asal Indonesia, permintaan koleksi kupu-kupu meningkat. Akibatnya, perburuan kupu-kupu kian marak. Terang saja, serangga langka yang dibanggakan warga Sulawesi itu kian langka.

Menurut Dedy, faktor manusia dan alam menjadi penyebab penyusutan kupu-kupu di Sulawesi. Pembangunan sejumlah tempat wisata alam otomatis mengurangi tempat bertelur kupu-kupu. "Jumlah pakan pun berkurang." Akibatnya, kupu-kupu bermigrasi mencari tempat lain yang mampu menyediakan makanan bagi larva. Kehadiran turis di tempat wisata alam Bantimurung, khususnya di sekitar sungai di tempat wisata itu, mengusik aktivitas kupu-kupu yang memang menyenangi tempat basah dan lembap.

Faktanya, tetap saja banyak orang yang masih merambah hutan untuk sekadar mencari kupu-kupu. "Sekarang kupu-kupu sudah sulit didapat," kata Dedy. Kupu-kupu yang menjadi incaran warga adalah kupu-kupu yang dilindungi di Bantimurung, seperti Troides hypolitus, Troides helena, Troides haliphron, dan Chetosia myrina.

Di pasar harga kupu-kupu ini bisa mencapai jutaan rupiah per ekor. Bahkan, jika menemukan jenis raja dan bidadari atau jenis Papilio alexandria, harganya bisa mencapai puluhan juta rupiah. Inilah yang membuat penyusutan jumlah kupu-kupu di Bantimurung. "Dulu, dalam sebulan 3.000 kupu-kupu di alam ditangkap dan dijual," kata Dedy.

Berbagai cara perbaikan kondisi telah dilakukan. Sejak 1990-an masyarakat digalakkan untuk menangkar kupu-kupu. Awalnya ada sampai 20 penangkaran kupu-kupu oleh masyarakat. "Kendalanya pada pakan yang sulit didapat," kata Haeruddin, petugas pusat penangkaran kupu-kupu Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kalaupun ada, biasanya pakan kupu-kupu langka dan mesti dicari di tengah hutan. Nah, sebagian masyarakat lebih memilih menangkap kupu-kupu di alam dibanding mencari pakan untuk penangkaran.

Ahli vegetasi dari Universitas Hasanuddin, Profesor Amran Achmad, mengatakan fenomena yang dialami Wallace bisa saja terulang kembali. "Kupu-kupu di Bantimurung belum tentu punah," katanya. Sejauh ini, menurut dia, belum ada penelitian pasti mengenai punah-tidaknya spesies kupu-kupu di Bantimurung. Amran memberikan contoh kupu-kupu jenis Graphium androcles yang ditemukan Wallace dan dilaporkan punah. Tiba-tiba dalam rentang waktu 45 tahun jenis ini ditemukan kembali.

Kesimpulannya, untuk menentukan kepunahan suatu jenis kupu-kupu diperlukan seri data yang panjang. Salah satu kemungkinan yang membuat kupu-kupu tidak ditemukan lagi di habitatnya adalah pergerakan populasinya yang bergerak ke tempat lain demi mencari pakan. "Solusinya, habitat asli kupu-kupu harus dikembalikan," ucapnya. Tapi kupu-kupu itu sudah terbang entah ke mana. 

Kupu-kupu Langka Sulawesi

Kupu-kupu adalah hewan yang mengalami metamorfosis sempurna (holometabolisme). Keindahannya tergambar dari berbagai macam bentuk sayapnya yang menawan. Kupu-kupu berawal dari telur yang biasanya terdapat di daun, menetas menjadi ulat (larva). Setelah ulat menjadi besar dan memanjang, ia akan berubah menjadi kepompong (pupa/chrysalis). Dan jadilah kupu-kupu dewasa (imago).

Setiap larva kupu-kupu hanya menyantap satu jenis spesies, semisal Troides Helena hanya menyantap daun Aristolochia tagala; Troides hypolitus dengan pakan daun Aristolochia tagala. Hilangnya pohon penyedia pakan menyebabkan hilanglah pula kupu-kupu. Tak aneh, keberadaan kupu-kupu di alam menjadi indikator kelestarian lingkungan.

Indonesia memiliki spesies kupu-kupu terbanyak di dunia setelah Brasil dengan 2.500 jenis dari total 20 ribu yang tersebar di dunia. Sulawesi dikenal dengan keanekaragaman kupu-kupu tertinggi di Indonesia. Kupu-kupu di Kerajaan Bantimurung bisa mencapai ukuran dengan bentang sayap selebar 18-20 sentimeter. Berikut ini beberapa kupu-kupu langka asal Sulawesi.

Troides hypolitus
Tergolong kupu-kupu jenis raja yang memiliki bentang sayap lebar mencapai 20 sentimeter. Selain di Sulawesi marga Troides hidup di Maluku dan Papua dengan warna yang berbeda.

Chetosia myrina
Kupu-kupu sayap renda atau lebih dikenal sebagai kupu-kupu bidadari. Warnanya yang cantik membuat setiap orang mudah terkesima. Ukuran sekitar 7 sentimeter.

Papilio blumei
Inilah jenis kupu-kupu yang ditemukan oleh pencinta kupu-kupu dari Sulawesi, Haji Bedu. Nama sebenarnya adalah bedumei, tapi karena salah pengucapan dari orang Eropa, kupu-kupu yang ditemukan pada Mei 1965 ini lebih dikenal dengan sebutan blumei. Ukuran sekitar 10 sentimeter.

Penulis: Rudy Prasetyo, Ichsan Amin (Makassar) (sumber: majalah.tempointeraktif.com)