image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Berita

2.000 Wisman Hasilkan Rp 1,5 Miliar

Air Terjun Bantimurung.

MAKASSAR, KOMPAS - Sebanyak 2.000 wisatawan asing yang menumpang kapal pesiar Costa Romantica dari Singapura singgah di Pelabuhan Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (10/11/2010) sekitar pukul 08.00 Wita. Program berwisata di Kota Makassar dan sekitarnya selama 10 jam itu menghasilkan devisa Rp 1,5 miliar.

Devisa itu diperoleh dari penukaran uang yang dilakukan para wisatawan begitu menginjakkan kaki di Pelabuhan Makassar. Wisatawan asing itu antara lain berasal dari Jerman, Italia, Inggris, Perancis, Rusia, Belanda, Amerika Serikat, dan Jepang. Mereka menukarkan uang mulai dari 50 euro hingga 100 dollar AS di stan penukaran uang La Tunrung.

Menurut Wahyudi, staf penukaran uang La Tunrung, pihaknya mula-mula hanya menyediakan uang Rp 1 miliar untuk melayani para wisatawan. Namun, ia terpaksa meminta tambahan Rp 500 juta ke kantor pusat La Tunrung yang berlokasi sekitar setengah kilometer dari pelabuhan. ”Animonya cukup luar biasa,” tuturnya.

Andrew Peters (40), wisatawan asal Inggris, mengaku tak sabar menikmati keindahan alam Taman Nasional Bantimurung yang dikenal sebagai surga kupu-kupu. ”Selama ini saya tahu Bantimurung lewat internet sehingga saya senang sekali bisa melihat langsung dalam kunjungan pertama ke Makassar,” ujar lelaki yang datang bersama istrinya, Georgia (38).

Selain berwisata ke Bantimurung di Kabupaten Maros (sekitar 50 km dari Kota Makassar), para wisatawan juga berkeliling Kota Makassar untuk berwisata kuliner dan berbelanja. Kunjungan wisata hingga pukul 18.00 ini ditutup dengan berwisata ke Balla Lompoa, makam Raja-raja Gowa di Sungguminasa, ibu kota Kabupaten Gowa.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Makassar Rusmayani Madjid mengaku, kunjungan wisatawan asing yang menumpang kapal pesiar telah menjadi agenda rutin sejak tahun 2009. Tahun lalu 700 wisatawan asing yang menumpang kapal pesiar Costa Allegra berwisata ke Makassar.

”Kami berharap mereka (wisatawan asing) memperkenalkan Kota Makassar kepada para kerabat untuk menyukseskan program Tahun Kunjungan Makassar 2011,” ungkap Rusmayani.

Program kunjungan wisatawan mancanegara yang menumpang kapal pesiar terjalin berkat kerja sama Pemerintah Kota Makassar dengan agen perjalanan Grand Toraja sebagai pemegang hak dari perusahaan kapal pesiar Intercruises.

General Manager Grand Toraja Margaretha Lande memastikan kunjungan ke Makassar akan dilakukan lagi tahun depan. ”Kami sebenarnya menjadwalkan dua kali kunjungan lagi bulan depan, tetapi dibatalkan dengan alasan yang kurang jelas,” ujarnya.

Setelah singgah di Makassar, Costa Romantica akan mengunjungi Pulau Komodo (Nusa Tenggara Timur), Pulau Bali, dan DKI Jakarta. Kapal pesiar yang dikapteni Giorgio Moretti akan kembali ke Singapura pada 14 November mendatang.

Direktur Eksekutif Badan Pengembangan dan Promosi Pariwisata Makassar, Nico B Pasaka berharap pemerintah kota mampu mempertahankan tradisi kunjungan kapal pesiar setiap tahun. ”Pemkot sebaiknya mengidentifikasi dan membenahi secara serius tempat wisata agar Makassar tetap menjadi salah satu tujuan utama yang dibidik perusahaan pengelola kapal pesiar,” katanya.

Terkait dengan pengembangan sektor pariwisata, Makassar masih terkendala ketersediaan kamar hotel. Menurut Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sulsel Anggiat Sinaga, 80 hotel yang ada di Makassar saat ini sebenarnya mampu menampung sekitar 5.000 orang. Namun, jumlah itu kurang pada saat akhir pekan.

”Kami sering menerima keluhan tamu karena sulit mendapatkan kamar pada akhir pekan,” ujar Anggiat, yang juga direksi di Hotel Clarion Makassar.

Menurut dia, Kota Makassar idealnya masih membutuhkan 2.000 kamar guna memenuhi kebutuhan wisatawan. (RIZ). (Sumber: kompas cetak)