image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Artikel

Udang-udangan Air Tawar Terbaru Dari Karst Maros, Sulawesi

From: Record of the Western Australian Museum.

Satu jenis baru yang terlewat saya laporkan telah dipublikasi di jurnal “Record of the Western Australian Museum” nomer 24 pada tahun 2008. Jenis yang dideskripsi oleh Roger N. Bamber dari Natural History Museum, London ini ditemukan di salah satu gua di daerah Pangkajene tepatnya di Gua Dedeleang.

Udang ini pertama kali ditemukan oleh Dr. Louis Deharveng sekitar tahun 2005 ketika saya bersama beliau dan tim lain melakukan eksplorasi di beberapa gua di daerah Maros. Kemudian, pada tahun 2007 tim yang lebih besar dan tergabung dalam ekspedisi Zoologi yang mengambil lokasi di Maros, Sulawesi Selatan dan Muna, Sulawesi Tenggara diorganisir oleh Louis Deharveng bekerjasama dengan saya dan Dr. Yayuk R. Suhardjono.

Di dalam tim terlibat peneliti dari berbagai negara seperti Dr. Damia Jaume dari Spanyol dan Prof. Dr. Geoff. Boxshall dari London, Inggris yang berkolaborasi dengan peneliti udang dari Museum Zoologicum Bogoriense, Dr. Daisy Wowor.

Jenis baru

Jenis baru yang ditemukan di Gua Dedeleang, Pangkajene ini merupakan salah satu dari tiga jenis yand dikenal dari anggota marga Pseudohalmyrapseudes anggota suku Parapseudidae dan bangsa Tanaidacea kelas Crustacea.

Jenis yang diberi nama Pseudohalmyrapseudes linnaei Bamber 2008, yang berasal dari nama Carolus Linnaeus yang pada saat itu dalam rangka memperingati hari kelahiran beliau sekaligus memperingati 250 tahun terbitnya buku monumental “Systema Naturae“.

Habitat

Jenis baru ini ditemukan dalam lorong gua yang mempunyai substrat berlumpur dimana di tengahnya terdapat parit kecil yang mengalir air tawar. Udang ini ditemukan di dalam parit ini dengan substrat dasar yang berlumpur.

Sebaran

Dalam marga Pseudohalmyrapseudes yang dikenal dengan tiga jenis yang tersebar di Australasia. Selain jenis Pseudohalmyrapseudes linnaei dari Maros, Sulawesi Selatan, jenis Pseudohalmyrapseudes aquadulcis yang ditemukan di sekitar Darwin, Australia bagian utara yang terpisah dengan jenis dari Sulawesi oleh bentangan Laut Timor. Sedangkan jenis ketiga Pseudohalmyrapseudes mussauensis ditemukan di Pulau Bischmark di daerah Melanesia sebelah timur New Guinea.

Ketiga jenis tersebut terpisah satu sama lain secara reproduksi karena dipisahkan oleh bentangan laut yang asin. Selain itu, ketiga jenis tersebut ditemukan dan terbatas sebarannya di perairan air tawar di tiga lokasi yang sangat berjauhan satu sama lain.

Hutan Batu (Karst) Desa Salenrang Dusun Rammang-Rammang.

“Hutan batu” Karst Maros-Pangkep perlu dilestarikan

Mungkin bagaimana indahnya pemandangan hutan tropis di Indonesia sudah banyak yang tahu. Namun pasti tidak banyak yang tahu dan menyadari bahwa Indonesia juga mempunyai “hutan batu” yang sangat indah dan mungkin satu-satunya di Indonesia.

Hutan batu ini adalah salah satu bagian dari kekayaan kawasan karst Maros-Pangkep yang merupakan hasil dari proses pelarutan batu gamping atau disebut juga “residual karst”. Hutan batu ini sangat mudah ditemukan di sekitar persawahan di Kabupaten Maros dan Pangkep. Salah satu “taman alam” yang paling mudah dicapai adalah yang terdapat di Desa Salenrang Dusun Rammang-Rammang. Dari kejauhan, hutan batu ini menyerupai taman dengan berbagai macam pepohonan dari pandan sampai palem. Beberapa bentukan khas dari proses pelarutan gamping juga menimbulkan pemandangan yang sangat indah. Hutan batu ini tidak hanya ditemukan di Desa Salenrang namun juga dapat ditemukan disekitar Desa Leang-leang dan Desa Soreang.

Hutan batu dan masyarakat

Selain mempunyai pemandangan yang indah, hutan batu ini juga berfungsi sebagai sumber mata air bagi masyarakat di sekitarnya terutama pada musim kemarau. Masyarakat sekitar sangat bergantung dengan sumber air yang letaknya di tengah-tengah hutan batu dengan menyusuri lorong-lorong sempit dan berkelok-kelok. Meskipun airnya sedikit payau karena berdekatan dengan pantai, namun masyarakat biasa mempergunakan untuk mandi, cuci dan bahkan untuk keperluan minum dan memasak. Di dalam hutan batu tersebut terdapat sedikitnya lima sumber air yang biasa digunakan oleh masyarakat sekitar.

Selain sebagai sumber air, beberapa rumah penduduk juga dibangun di sela-sela bebatuan yang menimbulkan kesan tersendiri. Sepertinya masyarakat di sana sudah tidak perlu repot untuk membuat taman seperti yang banyak dilakukan oleh masyarakat di kota besar. Tuhan telah memberikan taman alam yang begitu indah di sekeliling mereka tanpa mereka mengeluarkan biaya sepeserpun.

Ancaman kelestarian dan potensi

Hutan batu di Desa Salenrang masih mempunyai harapan di masa yang akan datang. Karena masyarakat sekitar masih sangat tergantung dengan sumber air yang terdapat di tengah-tengah hutan batu. Namun sebaliknya, hutan batu dengan tegakan-tegakan yang indah di Desa Leang-leang mengalami nasib yang memprihatinkan. Beberapa tegakan yang dulu indah sekarang mengalami “illegal loging” yang banyak dilakukan oleh masyarakat sekitar untuk kepentingan ekonomi sesaat. Beberapa tegakan konon dipotong untuk dijadikan bahan bangunan, pengerasan jalan dan sekaligus membuat lahan untuk kandang ayam yang saat ini masih sangat menjamur di kabupaten Maros.

Beberapa tegakan yang indah telah berubah menjadi bahan untuk pengerasan jalan atau sebagai pondasi bangunan. Kondisi ini semakin memprihatinkan ketika aparat pemerintah khususnya dari pihak desa tidak menyadari adanya asset yang luar biasa dari tegakan hutan batu tersebut.

Seandainya pemerintah setempat dari tingkat desa sampai kabupaten bahkan propinsi menyadari akan potensi yang ada di sekitar mereka, pasti tegakan hutan batu tersebut akan tetap lestari dan dapat dinikmati sebagai obyek wisata tersendiri.

Mengingat letaknya yang strategis di poros makassar-tana toraja, hutan batu ini dapat dijadikan tempat tujuan wisata yang potensial dimana beberapa agen wisata menyempatkan untuk melihat kekayaan lain dari wisata alam Sulawesi Selatan.

Penulis dan Dokumentasi: Cahyo Rahmadi dan Hari Nugroho, Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi LIPI (Sumber: www.biotagua.org)