image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Artikel

‘Dare’ Monyet Hitam Endemik Sulawesi Selatan

Jantan Dewasa/Adult (Macaca Maura).

Secara biologis, pulau Sulawesi adalah yang paling unik di antara pulau-pulau di Indonesia, karena terletak di antara kawasan Wallacea, yaitu kawasan Asia dan Australia, dan memiliki tingkat endemitas yang paling tinggi di Indonesia. Menurut Whitten et al. (1987) jumlah jenis-jenis mamalia, burung dan reptil yang ada di Sulawesi adalah berturut-turut 26, 27, dan 28% yang tidak terdapat di daerah lain, untuk jenis mamalia endemik akan naik sampai 98% bila kelelawar dikeluarkan.

Monyet-monyet Sulawesi merupakan salah satu satwa endemik Sulawesi. Luas pulau Sulawesi hanya 2% dari luas penyebaran jenis-jenis marga Macaca, namun jenis yang terdapat melebihi 25% dari keanekaragaman dari marga (Albrecht, 1978). Di pulau Sulawesi terdapat 7 jenis dari 19 jenis Macaca, yaitu Macaca maura di Sulawesi Selatan, M. tonkeana di Sulawesi Tengah, M. hecki di Sulawesi tengah-utara, M. nigrescens di dekat Gorontalo-Kotamubagu, M. nigra di Sulawesi Utara, M. ochreata di Sulawesi tenggara dan M. brunnescens di pulau Muna dan Buton (Fooden, 1969). Ketujuh jenis tersebut terdistribusi di Pulau Sulawesi pada geografis yang berbeda atau terpisah (Allopatric), dan dapat ditemukan di dataran rendah dan hutan pegunungan bawah (Whitten et al, 1987; Supriatna et al., 1992. et al).

Salah satu monyet tersebut yang tersebar mulai dari Bontobahari di bagian Barat Daya Semenanjung Sulawesi Selatan hingga ke utara sampai di Danau Tempe (sekitar Sakholi dan Matoangin) adalah Monyet Hitam Dare (Macaca maura) (Supriatna, 2000). Satwa ini hidup di hutan primer atau sekunder, seperti di Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung (TN. Babul) kabupaten Maros-Pangkep yang memiliki ekosistem karst, dan di Bontobahari kawasan hutan monsoon kering dekat perkampungan sampai pada ketinggian 2.000 m dpl. Di TN. Babul seperti Bantimurung, Pattunuang dan Karaenta merupakan lokasi Monyet Hitam Dare yang mudah dijangkau dari kota Makassar, dan mereka mudah dilihat bahkan dapat dipanggil oleh salah seorang staf TN. Babul.

Betina Dewasa/Adult dan Bayi/Infant (Macaca Maura).

A. Klasifikasi

Menurut Fooden (1969) Monyet Hitam Dare diklasifikasikan kedalam Ordo Primata, Subordo Antropoidae, Superfamili Cercopithecoidae, Famili Cercipithecidae, Genus Macaca, Spesies Macaca maura. Nama lokal: Lesang (Pinrang), Ceba (Bugis), Dare (Makassar).

Menurut Supriatna (2000) bahwa Panjang tubuh Monyet Hitam Dare sekitar 500 – 690 mm, panjang ekor 30 – 35 mm, dengan berat berkisar antara 5-6 kg. Warna rambut dari jenis ini bervariasi dari coklat muda hingga coklat kehitaman, dengan warna pucat di bagian tunggingnya. Terkadang terdapat individu yang berwarna putih atau abu-abu karena umur yang tua. Salah satu ciri untuk membedakan monyet-monyet di Sulawesi adalah bantalan pada tunggingnya (Ischial callocity). Bantalan tungging berbentuk oval ini berguna sebagai bantalan pada waktu duduk di pohon atau tempat-tempat yang keras lainnya.

B. Aktifitas

Monyet Hitam Dare lebih banyak memakan buah (frugivorous) dibandingkan daun-daunan (Watanabe and Brotoisworo, 1982). Mereka sering dijumpai ketika makan di pohon-pohon yang sedang berbuah. Selain itu beberapa jenis serangga dan jamur.

Seperti halnya Macaca lain, Monyet Hitam Dare aktif pada siang hari (diurnal). Mereka hidup di pohon (arboreal), namun kebanyakan hidup di permukaan tanah (teresterial) karena kerapatan pohon yang rendah di hutan. Mereka tidak membuat sarang.

Di Karaenta mereka beristirahat di pohon-pohon tinggi, batuan dan gua-gua dan pohon-pohon yang sedang berbuah. Pada musim kemarau mereka sering memasuki gua untuk beristirahat, dan lebih memilih pohon-pohon tinggi untuk beristirahat pada musim hujan. Mereka juga sering mengunjungi beberapa pohon yang sedang berbuah, kemudian beristirahat di tempat yang sama seperti pada hari sebelumnya.

Dalam pergerakan, kelompok ini sering kali melakukannya bersama-sama. Pergerakan di tanah atau saat mencari makanan biasanya dimulai oleh jantan pimpinan kelompok, kemudian diikuti oleh anggota lain. Pergerakannya, umumnya meloncat saat pindah pohon atau menggunakan keempat anggota tubuhnya (quadropedal) bila berjalan di dahan atau bila turun di tanah.

Menurut Matsumura (1991) monyet hitam dare memiliki luas daerah jelajah (home range) berkisar 20 ha - 25 ha. Daerah jelajah antar kelompok tersebut biasanya tumpang tindih.

Jantan Remaja/Subadult (Macaca Maura).

C. Sosial

Jenis Monyet Hitam Dare membentuk kelompok – kelompok dengan jumlah individu, setiap kelompok terdiri atas 9 sampai 53 ekor (Supriatna, 2000). Dalam satu kelompok terdapat banyak jantan dan banyak betinanya (multimale/multifemale). Jantan dominan sering terlihat menentukan pergerakan kelompok. Sering kali terlihat multiple mating yaitu betina dikawini oleh beberapa jantan dalam kelompok tanpa adanya persaingan antar jantan. Persaingan antar jantan tidak begitu kuat dalam hal makanan maupun betina.

Apabila dua kelompok berada berdekatan, terdapat anggota kelompok meninggalkan tempat dimana betina dan alpha-jantan sedang beristirahat dan mendekati kelompok lain dengan ragu-ragu. Mereka biasanya diusir oleh laki-laki dewasa dari kelompok lain. Namun, mereka berulang kali akan mendekat dengan vokalisasi afiliatif (segala aktifitas bersuara di luar perkelahian).

Menurut Watanabe dan Brotoisworo (1982) bahwa terjadi interaksi antar kelompok di tempat makan, di mana satu kelompok menunggu sampai kelompok lainnya (yang telah datang terlebih dahulu) pergi. Dua kelompok yang saling berdekatan di tempat makan tanpa perkelahian merupakan fenomena yang jarang ditemui.

Suara Monyet Hitam Dare ini paling unik dibandingkan dengan monyet-monyet Sulawesi lainnya. Panggilan keras pemimpin kelompok (jantan dewasa) mengeluarkan suara seperti burung (pi…pi…pi…) terutama untuk mengkomunikasikan informasi mengenai lokasi dan gerakan dalam kelompok. Jika bertemu lain kelompok akan bersuara seperti hentakkan ‘Ha’ atau ‘Ga’, selain ‘pi…pi…pi…’. Bila suara ini terdengar, maka anggota kelompok kembali kearah suara tersebut dengan cepat atau diam dan bersiaga. Bila dare tertangkap, mereka bersuara menyerupai gonggongan anjing.

Keberadaan burung Kadalan Sulawesi/Salessere (Phaenicophaeus calyorhynchus) dan Srigunting Jambut-Rambut/Ciko Romang (Dicrurus hottentottus leucops) yang hinggap tidak jauh dari Monyet Hitam Dare sering di jumpai di Karaenta. Mekanisme hubungan antara Monyet Hitam Dare dengan burung tersebut belum diketahui jelas. Namun, aktivitas Monyet Hitam Dare di pepohonan menyebabkan serangga-serangga beterbangan sehingga memberikan kemudahan bagi burung-burung tersebut dalam mencari pakan (serangga).

Anak/Juvenile (Macaca Maura).

D. Konservasi

Berdasarkan status konservasinya, Monyet Hitam Dare telah dimasukan dalam Appendix II, Konvensi Internasional tentang Perdagangan Spesies Tumbuhan dan Satwa Liar (CITES). Sejak tahun 1987 primata ini digolongkan kedalam kelompok jenis mendekati kepunahan (Endangered Species) oleh IUCN (The International Union for Conservation of Nature) dan oleh Pemerintah Indonesia dilindungi berdasarkan PP. RI. No. 7 Tahun 1999.

Monyet Hitam Dare menghadapi ancaman kepunahan akibat pengurangan habitat dan perburuan oleh masyarakat karena dianggap sebagai hama pertanian. Pembukaan hutan menyebabkan satwa ini telah kehilangan sekitar 88% habitat awalnya, dari seluas 23.000 km2 menjadi hanya 2.800 km2. Populasi  Monyet Hitam Dare di alam dikhawatirkan terus menurun. Jumlahnya saat adanya penelitian tahun 1989 ditaksir tidak melebihi 4.000 ekor (Supriatna, 2000).

Meskipun manusia dan monyet di Sulawesi terjadi tumpang tindih dalam mereka penggunaan sumber daya alam, tingkat saat konflik yang dihasilkan relatif rendah. Petani di Sulawesi menunjukkan toleransi yang cukup besar. Toleransi ini dapat dijelaskan dengan penguatan positif lokal cerita rakyat petani, budaya dan agama. Kebanyakan petani tanaman lahan kering adalah Muslim. Mereka menjauhkan diri dari membunuh dan/atau makan monyet tersebut karena dianggap haram. Di dataran tinggi Lindu, monyet dianggap kerabat oleh Bagi orang Lindu. Di Buton, tempat-tempat tertentu di dalam hutan dianggap keramat, sehingga tempat ini dilindungi oleh penduduk setempat (Riley, 2005).

Hal yang sangat penting untuk diperhatikan adalah mencegah potensi konflik antara manusia – monyet (satwa) yang diakibatkan deforestasi dan degradasi hutan/penurunan kualitas habitat satwa. Oleh karena itu, pemahaman masyarakat yang mendalam tentang interaksi dan keterkaitan antar-komponen dalam suatu ekosistem serta pengembangan ekonomi masyarakat merupakan upaya-upaya yang harus dibangun untuk mendapatkan komitmen bersama. Upaya konservasi terhadap satwa agar dilakukan dengan konsisten dan didukung seluruh stake holder dengan merasa memiliki dan membantu upaya pelaksanaan konservasi.

Dokumentasi Atraksi Dare (Macaca maura)

DAFTAR PUSTAKAFooden, J. 1969. Taxonomy and evolution of the monkeys of Celebes (Primates: Cercopithecidae). Bibliotheca Primatol. 10: 1 – 148. Basel: Karger.

Matsumura, S. 1991. The Ecology and Social Behavior of Moor Macaca (Macaca maurus) in Sulawesi, Indonesia. Kyoto Univ. Overseas Res. Rep. Asian Nonhuman Primates 8: 27 – 41.

Riley, E. P. 2005. Ethnoprimatology of Macaca tonkeana: The Interface of Primate Ecology, Human Ecology, and Conservation in Lore Lindu National Park, Sulawesi, Indonesia. Ph.D. thesis, University of Georgia, Athens.

Supriatna, J dan E. H. Wahyono. (2000). Panduan Lapangan Primata Indonesia, Jakarta, Yayasan Obor Indonesia.

Watanabe, K. and E. Brotoisworo. 1982. Field observation of Sulawesi macaques. Kyoto Univ. Overseas Res. Rep. Asian Nonhuman Primates 2: 3 – 9.

Whitten AJ. Mustafa M dan Handerson GS. 1987. Ecologi Sulawesi. Gadja Mada University Press. Yogyakarta.
Penulis dan Dokumentasi: Kamajaya Shagir