image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Berita

Haro, Sang Jagawana dari Karaenta

Imam Dzulkifli/Fajar. Cinta Profesi. Haro, sang jagawana yang bertugas menjaga habitat dan populasi kera jenis Macaca Maura di TN. Babul/Karaenta.

Monyet-monyet itu diperlakukan dengan manja. Betul-betul seperti sahabat.

SIANG yang mendung. Rumput dan tumpukan dedaunan yang jatuh menjadi basah dan lembap. Di bawah pohon rindang, lelaki itu membuka tasnya, lalu mengambil segenggam butiran jagung. Dia bersiul sekali. Sekumpulan monyet pun datang dan antre.

Monyet-monyet itu jenis Macaca maura. Khas Sulawesi. Jenis fauna ini sudah endemis. Langka. Nah, pria yang memberi makan kepada monyet-monyet itu bernama Haro. Dia seorang jagawana atau polisi hutan. Tetapi dia tak hanya fokus menjaga hutan.

Perkenalan Haro dengan  Macaca maura dimulai pada 1979, saat pertama kali menjadi jagawana. Kala itu masih tenaga honorer. Tetapi prosesnya tidaklah gampang. Butuh waktu bertahun-tahun untuk membuat monyet-monyet itu "menurut".

Kesabaran Haro membuahkan hasil. Macaca Maura dibuatnya "kesengsem". Hanya dengan sekali siulan, ayah tiga anak itu bisa membuat 30-an  Macaca maura berkumpul. Hal yang sampai saat ini belum bisa dilakukan siapapun.

Itu juga yang membuat Haro menjadi "sahabat" bagi monyet-monyet langka yang ada di Cagar Alam Karaenta, Maros. Masih dalam wilayah Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Sehari-hari, Haro-lah yang menjaga binatang endemis itu.

Tugas Haro sesungguhnya tidaklah mudah. Di Karaenta, ada beberapa kelompok kera. Masing-masing punya wilayah. Nah, kalau tidak diawasi, bisa terjadi "invasi" yang berujung perang antar kelompok monyet.

Khusus  Macaca maura, juga terkenal liar. Mendengar gemeretak kayu saja, mereka bisa lari. Tetapi jika bersama Haro, keadaaan bisa lebih terkendali. "Saya butuh bertahun-tahun menciptakan nada siulan untuk memanggil mereka," ujar Haro.  

Peran Haro bagi kelestarian  Macaca maura pun sudah mendapat berbagai pengakuan. Di ruang tamu rumahnya di Dusun Kappang, Desa Labuaja, Kecamatan Cenrana, Maros, sebuah piala besar dipajang di sudut. Piala itu merupakan penghargaan Wana Lestari Satya Nugraha. Diberikan Menteri Kehutanan. Ada juga penghargaan dari Bupati Maros pada 2006. Sebagai PNS, Haro juga sudah mendapat Piagam Tanda Kehormatan; Satyalencana Karya Satya 10.

Sejak Haro menjadi jagawana, habitat dan populasi  Macaca maura memang terjaga. Saat ini, jumlah kera tanpa ekor ini tetap 30-an. Masih seperti dekade 1980-an. Ya, Haro terbukti mampu menjaga Macaca Maura.

Ramai Dikunjungi Turis dan Ilmuwan

Bukan hal baru lagi jika ada bule yang berkunjung ke rumah Haro. Sebab, dia memang menjadi buruan para ekspaktriat. Mulai dari turis hingga ilmuwan.

Bule yang datang pun berasal dari berbagai negara. Seperti saat ini, seorang ilmuwan asal Italia sedang melakukan penelitian dengan bantuan Haro.

Hal itu bermula pada 1980-an. Seorang ilmuwan asal Jepang, Suichi Matsumura meneliti di Karaenta. Matsumura pun meraih gelar doktornya berkat itu.

Kunjungan Matsumura termasuk paling berkesan bagi Haro. Keduanya pun sangat akrab. Kini Matsumura sudah di Jepang, tapi komunikasi jalan terus terus.

Matsumura sering mengirim surat untuk Haro. Kadang diselipi uang. Matsumura tampaknya tidak bisa melupakan jasa-jasa sahabatnya itu.

Abaikan Gelar Doktor HC

Haro hanya tamatan SD. Tetapi perannya menjaga habitat dan populasi Macaca Maura menarik perhatian berbagai pihak. Salah satunya universitas di Washington pernah mengundangnya menerima gelar doktor honoris causa (HC). Tetapi Haro mengabaikannya.

Haro sebenarnya bukan menolak. Waktu itu dia terkendala biaya. Ada orang yang meminta dia membayar akomodasi Rp10 juta. "Saya jelas tidak sanggup kalau biayanya sebanyak itu," ujarnya.

Apalagi, lanjut Haro, pemberian gelar itu hanya dilakukan di Jakarta. Biaya sebanyak itu dianggapnya terlalu mahal. Dia juga tidak begitu respek dengan oknum yang memintanya membayar.

Belakangan, Haro kembali mendapat kabar bahwa pemberian gelar tersebut dijadwalkan ulang. "Pihak pengundang ternyata tidak tahu kalau waktu itu saya diminta membayar. Makanya mereka kaget," tambahnya lagi.

Ilmunya Diwariskan ke Anak

Haro sadar betul, dia tak bisa seterusnya berkecimpung di hutan. Suatu saat dia mesti pensiun dan lebih menyibukkan diri di rumah. Makanya, dia pun mulai memikirkan regenerasi.

Beruntung, dia punya anak laki-laki. Namanya Hendra. Usianya 26 tahun. Hendra sudah rutin ikut ke hutan, memberi makan monyet-monyet. Dia juga sering menjadi "guide" untuk turis atau ilmuwan.

Hendra pun mulai akrab dengan  Macaca maura. Dia sudah bisa menjinakkan monyet-monyet endemis itu. Rupanya, ilmu sang ayah perlahan sudah dia warisi. "Baru belajar sih," katanya.

Haro pun berharap, anak keduanya itu bisa mengikuti jejaknya. Termasuk menjadi pegawai negeri. Hendra pun punya keinginan sama. Makanya, dia berharap bisa mendapat jalan menjadi abdi negara. (*) Laporan: IMAM DZULKIFLI (Sumber: www.fajar.co.id)