image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Artikel

Eksotisme Di Tengah Ancaman Kawasan Karst Maros-Pangkep

Karst Kabupaten Maros-Pangkep.

Di sini bukan pohon yang ditebang, tetapi tebing-tebing tinggi yang merupakan sumber kehidupan masyarakat. Itulah kata yang terucap dari tokoh Pemuda masyarakat yang berada di Desa Belae, Kab. Pangkep, Sulawesi Selatan.”

Bentang alam Kabupaten Maros-Pangkep sebagian besar diantaranya merupakan kawasan karst yang bertipikal tower karst, karst yang berbentuk menara. Kawasan ini merupakan miniatur dari kawasan karst yang berada di Cina Selatan dan Halong Bay Vietnam. Tower-tower karst yang menjulang tinggi merupakan suatu bentang alam yang sangat unik dan indah untuk dilihat. Sebagian besar kawasan ini merupakan bagian dari kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung.

Kawasan karst meliputi endokarst, bagian karst yang berada pada bagian dalam karst dan exokarst, karst bagian atas. Salah satu penciri kawasan karst utamanya adalah adanya sistem pergoaan (cave system) yang berada di bagian endokarst. Terbentuknya Kawasan Karst Maros-Pangkep sudah terjadi berjuta-juta tahun lamanya melalui proses pengangkatan dari dasar laut. Sehingga terbentuklah lorong-lorong pergoaan yang diantaranya dialiri sungai bawah tanah akibat proses karstifikasi. Lorong-lorong goa yang terdapat di kawasan tersebut telah dimanfaatkan sejak lama oleh nenek moyang masyarakat seperti suku Bugis. Goa-goa tersebut sering dimanfaatkan baik sebagai tempat tinggal, pemujaan, maupun peletakan jenazah manusia yang telah meninggal. Di kawasan karst Maros-Pangkep sendiri banyak terdapat situs-situs purbakala seperti Leang-Leang, Leang Kasii, Leang Kajuara, Kalibong Aloa dan lain sebagainya. Dilokasi-lokasi tersebut banyak terdapat lukisan-lukisan goa (cave painting) dan artefak peninggalan sejarah. Lukisan dan artefak tersebut menggambarkan kehidupan masyarakat pada masa lalu. Situs-situs tersebut kini dikelola oleh BP3 Makassar sebagai cagar budaya peninggalan sejarah.

Lukisan dinding di Gua Leang-Leang.

Kondisi bentang alam karst yang unik tersebut menjadikan kawasan ini memiliki nilai penting tinggi. Adapun nilai penting yang dimiliki kawasan karst Maros-Pangkep tidak hanya sebatas nilai ekonomi, sosial budaya, dan nilai ilmiah. Bahkan nilai terpenting kawasan karst di Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung adalah nilai ekologi dan biodiversitas. Kawasan karst ini menjadi salah satu habitat Kupu-kupu Raja, satwa endemik, yang menjadi ikon taman nasional. Tidak hanya Kupu-Kupu Raja, tetapi juga Rangkong Sulawesi, burung endemik yang hanya dapat dijumpai di Sulawesi. Bahkan masih banyak satwa endemik lainya seperti biota goa endemik Maros-Pangkep, menambah tingginya nilai biodiversitas kawasan tersebut. Dengan begitu, wajar bilamana kawasan karst di taman nasional ini dianggap memiliki nilai konservasi tinggi (high conservation values).

Selain itu, kawasan karst juga dikenal sebagai salah satu pengatur tata  air untuk kawasan sekitarnya. Air yang mengairi kehidupan masyarakat di Kabupaten Maros dan Pangkep sebagian besar berasal dari kawasan karst ini. Nilai hidrologi karst ini secara nyata menunjang dan menjaga keberlanjutan kehidupan manusia di sekitarnya. Sungai-sungai bawah tanah yang terdapat di dalam kawasan karst banyak dimanfaatkat oleh masyarakat baik untuk ternak, pertanian, dan aktivitas kehidupan lainnya. Pemerintah daerah juga memanfaatkan air tersebut sebagai sumberdaya air untuk menjalankan PDAM yang menghidupi sebagian besar masyarakat Maros, Pangkep dan Kota Makassar.

Air Terjun Bantimurung.

Keberadaan dan kelestarian kawasan karst di Indonesia banyak mengalami ancaman. Sebagaimana diketahui kawasan karst merupakan kawasan yang rentan (fragile area) dari tekanan. Ancaman terbesar kawasan karst adalah kegiatan pertambangan. Begitu juga yang terjadi di kawasan karst Maros-Pangkep.  Hingar-bingar kegiatan ekstraktif pertambangan mengeksploitasi sumberdaya karst secara besar-besaran berupa batuan kapur (limestone) dan bahan galian tambang lainnya. Pertambangan kapur sebagai bahan baku industri semen dapat menyebabkan rusaknya sungai-sungai bawah tanah yang mengalir di sekitar kawasan tersebut. Pertambangan kapur di kawasan karst Maros-pangkep juga berpotensi mengancam hilangnya tutupan hutan yang menjadi habitat satwa-satwa endemik. Pada akhirnya fenomena biodiversity loss akan terjadi bilamana pertambangan batu kapur di kawasan karst tidak mengindahkan nilai ekologi dan konservasi. Pertambangan di kawasan tersebut menjadi momok yang paling menakutkan bagi kelestarian kawasan ini.

Bahkan potensi ancaman (hazard potency) yang lebih mengerikan adalah keberlangsungan hidup manusia di sekitarnya yang sedikit banyak berinteraksi dengan kawasan karst. Mereka yang terkena dampak paling besar adalah masyarakat yang memanfaatkan jasa lingkungan kawasan karst khususnya sungai bawah tanah. Berapa total kerugian ekonomi yang harus ditanggung oleh masyarakat yang sebagian hidupnya tergantung dari sumber-sumber air bawah tanah yang mengalir dari goa-goa di kawasan ini? Berapa luas sawah padi yang akan berkurang produktivitasnya karena berkurangnya dan atau hilangnya pasokan sumber pengairan dari sungai bawah tanah. Berapa kerugian yang harus diderita oleh petambak dan peternak di sekitar kawasan karst akibat hilangnya sumber pengairan bagi usaha mereka. Kelangkaan sumberdaya air bagi PDAM juga akan menjadi  imbasnya  yang tentu saja berpengaruh bagi warga kota Makassar yang mengaksesnya. Berapa banyaknya kerugian yang dialami petani karena hilangnya predator hama pertanian mereka akibat hilangnya kelelawar pemakan serangga yang hidup dalam goa. Dengan begitu fungsi ekologi kawasan karst yang tentu saja bernilai ekonomi sangat tinggi (high economic values) tidaklah suatu hal yang dibesar-besarkan.

Gua Leang Pute merupakan salah satu gua vertical di Kabupaten Maros.

Ancaman kerugian tersebut selayaknya menjadi rambu-rambu bagi kita untuk berlaku arif dan bijak dalam memanfaatkan sumberdaya karst. Tentu saja upaya perlindungan dan pemanfaatan lestari menjadi salah satu langkah untuk mengurangi ancaman dan kerugian tersebut.  Salah satu upaya nyata yang dilakukan untuk melindungi kawasan karst Maros-Pangkep dari praktek pertambangan yang merusak adalah dengan menentukan zonasi berdasarkan klasifikasi kawasan karst yang telah diamanahkan dalam peraturan Kementerian ESDM tentang kawasan karst dengan sebetul-betulnya. Tentunya kawasan karst Maros-Pangkep yang memiliki nilai konservasi tinggi selayaknya tidak ada praktek pertambangan sedikit pun.

Untungnya, willingness to conserve telah dijalankan pada level komunitas lokal melalui collective action. Upaya tersebut dilakukan karena kesadaran masyarakat di sana akan pentingnya perlindungan terhadap kawasan karst. Peran serta masyarakat dalam melestarikan kawasan juga dapat dilihat di Desa Tompobulu. Berbagai macam aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat di sana selalu disertai dengan penanaman pohon, seperti pernikahan dan kenaikan jenjang pendidikan. Aturan tersebut dibuat dan dijalankan oleh seluruh masyarakat Desa Tompobulu.

Meskipun advokasi untuk menolak pertambangan kapur dan industri semen telah diinisiasi oleh masyarakat dan dimobilisasi pemuda-pemuda di sekitar kawasan ini khususnya Desa Belae. Namun tetap saja angkuh alat-alat berat tersebut sedikit demi sedikit meremukkan bentang alam menara karst yang hanya ada di Indonesia. Untuk itu butuh kesadaran semua pihak akan pentingnya kelestarian fungsi ekologi kawasan karst Maros-Pangkep untuk mendukung keberlangsungan hidup manusia di dan sekitarnya demi keberlanjutan hidup yang baik bagi anak cucu kita kelak.

Pertambangan bukannya jalan satu-satunya untuk mendulang PAD, pemanfaatan jasa lingkungan menjadi solusi alternatif bagi peningkatan penerimaan daerah. Mungkin negara kita perlu meniru dan belajar banyak dari negara lain yang hanya menjual keindahan bentang alam karst. Sebut saja Vietnam, yang menjual keindahan karst-nya sebagai sumber penerimaan utama negara bukan dengan cara menambang sumberdaya mineral di kawasan karst. Mufti Ode / L290 (Sumber: lawalata.wordpress.com)