image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Artikel

Penemuan Jenis-jenis Baru Ikan Dari Kawasan Karst Indonesia Yang Dideskripsi Tahun 2009-2010

Oryzias woworae P & R, 2010; ikan padi jenis baru dari Pulau Muna, atas: jantan, bawah: betina (Foto by: Renny K. Hadiaty).

Penelitian di Kawasan Karst Indonesia

Kawasan karst di Indonesia terhampar dari ujung pulau Sumatera sampai ke Papua. Beberapa diantaranya telah terkenal di dunia karena keunikan dan keindahan dari bentuk ‘landscape’nya, dua  diantaranya adalah Karst Maros dan Pegunungan Sewu.

Kedua wilayah karst ini juga telah mendapat perhatian dari berbagai kalangan, baik pemerintah ataupun pemerhati lingkungan. Kawasan karst Maros telah lama diusulkan sebagai salah satu “Warisan Dunia” yang diusulkan ke UNESCO, sekalipun saat ini belum mendapat persetujuan, sedangkan Kawasan karst Pegunungan Sewu telah dicanangkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai kawasan ekowisata pada tanggal 6 Desember 2004.

Biodiversitas ikan karst di dua negara tetangga yaitu Vietnam dan Thailand telah banyak diungkap keberadaannya, sedangkan biodiversitas ikan di kawasan karst Indonesia belum banyak diungkap karena masih banyak wilayah karst yang sama sekali belum pernah diteliti biodiversitasnya.

Dalam upaya menginventarisir biodiversitas fauna di kawasan karst, Prof. Yayuk R Suhardjono telah memprakarsai penelitian dan mendapatkan dana DIPA yang dilaksanakan di Pusat Penelitian Biologi sejak tahun 2005. Penelitian dilaksanakan di Kawasan karst Maros dan Pegunungan Sewu, hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa jenis fauna di Maros dan Pegunungan Sewu diduga merupakan jenis baru, yang memerlukan ketelitian dan proses penulisan jenis baru memerlukan waktu yang tidak singkat. Dua tahun terakhir, 2009 dan 2010 dana penelitian jauh berkurang sehingga pelaksanaan penelitian hanya dilakukan di Jawa saja.

Penelitian di wilayah karst selain didanai oleh DIPA juga dilaksanakan dengan kerjasama dengan institusi ataupun penelliti lain, baik dalam maupun luar negeri.  Pada tahun 2004 dilakukan ekspedisi penelitian di kawasan karst Sangkulirang dibawah koordinasi dari The Nature Conservancy (TNC), peneliti yang terlibat kegiatan ini berasal dari Puslit Biologi_LIPI, ITB, Museum Perancis (MNHN) dan Kebun Raya Singapore, serta peneliti dari Amerika Serikat. Koordinator dari ekspedisi ini adalah Dr. Leo A. Salas. Kegiatan ekspedisi berikutnya dilakukan di Kawasan Karst Maros dan Pulau Muna pada tahun 2007, coordinator dari ekspedisi ini adalah Dr. Louis Deharveng dari The MNHN, Perancis.

Nemacheilus tebo H & K, 2009; ikan jenis baru dari kawasan karst Sangkulirang (Foto by: Renny K. Hadiaty).

Jenis Baru Ikan karst yang dideskripsi tahun 2009

Nemacheilus tebo dipublikasikan sebagai jenis baru di Jurnal Raffless Bulletin of Zoology 57(1): 119-125 (Hadiaty & Kottelat, 2009). Ikan ini merupakan hasil dari kerjasama penellitian di Kawasan Karst Sangkulirang, dan dikoleksi di area Danau Tebo, Desa Merapun, Kecamatan Kelai, Kabupaten Berau, Propinsi Kalimantan Timur.

Ikan ini dideskripsi bersama Dr. Maurice Kottelat, seorang Iktiologis berkebangsaan Swiss yang telah meneliti ikan air tawar di Asia dan Eropa selama hampir 30 tahun, revisi Indomalayan Nemacheilinae ditulisnya tahun 1984. Data gambar scanning electron microscope(SEM) dan X-ray dari jenis ini diambil di Amerika Serikat, yaitu saat penulis mendapat kesempatan mengunjungi USNM, Smithsonian Institution tahun 2007.

Holotipe dari spesies ini disimpan lemari tipe Laboratorium Ikan dengan nomer MZB  13367. Sedangkan paratipenya disebar di beberapa institusi yaitu : The Academy of Natural Sciences Philadelphia (ANSP); The Natural History Museum (BMNH), London; Collection of Maurice Kottelat (CMK); Museum Zoologicum Bogoriense (MZB) Indonesia; Florida Museum of Natural History (UF), University of Florida; United States National Museum (USNM), Washington DC; Zoological Reference Collections (ZRC), National University of Singapore.

Kawasan karst Danau Tebo merupakan wilayah pegunungan yang terisolir, kampung terdekat bila berjalan kaki  ditempuh dalam waktu 3 hari, tim peneliti mencapai tempat ini dengan menggunakan helikopter. Namun demikian wilayah ini merupakan lahan sengketa karena banyaknya sarang wallet  di gua-gua sekeliling danau, sering kali terjadi tindak kriminal di daerah ini, sehingga saat pelaksanaan penelitian tim dikawal oleh satuan keamanan bersenjata lengkap.

Ekspedisi bersama tim Perancis tahun 2007 berhasil mendapatkan ikan jenis baru yang hidup di gua bawah laut (anchiline cave). Koleksi oleh tiga orang ‘cave diver’ yaitu Stephan M Eberhard (Australia), Bernard C. Villanova (Spanyol) dan Franck Brehier (Perancis) berhasil mendapatkan 6 ekor ikan. Ke enam ekor ikan ini ditaruh dalam akuarium kaca dan hidup selama tiga hari, fotonya diambil oleh rekan, Dr. Daisy Wowor yang menyertai tim peneliti asing ke Pulau Muna bersama Cahyo Rachmadi SSi.

Ikan yang masih memiliki rongga namun tidak mempunyai bola mata ini diambil data pertulangannya (x-ray) saat penulis mendapat kesempatan mengunjungi Raffless Museum of Biodiversity Research (RMBR), Singapore.  Data morphologi, gambar dan x-ray dikirim ke Prof. Jørgen G. Nielsen, dari  Zoological Museum, University of Copenhagen, Denmark, yang merupakan ahli dari grup Bythithid, yang kemudian memastikan bahwa ikan ini merupakan jenis baru, hingga spesimen lalu dikirim ke Denmark. Otolith dari ikan ini diamati dan digambar oleh Dr. Werner Schwarzhans dari Hamburg, Germany. Disepakati ikan jenis baru ini ditulis bersama dan diberi nama Diancistrus typhlops (Nielsen, Schwarzhans & Hadiaty, 2009).

Mengingat ekspedisi ini didanai, dipimpin dan salah satu penangkapnya dari Perancis, maka penulis mengusulkannya untuk dipublikasikan di jurnal perancis. Dengan demikian tulisan ikan buta ini terbit di jurnal yang diterbitkan oleh Museum Perancis: Cybium 2009, 33 (3): 241-245.

Jenis baru ikan buta ini holotypenya disimpan di Laboratorium Ikan, Bidang Zoologi, dengan nomor: MZB 17174. Paratipenya disimpan di empat institusi yaitu MZB, Zoological Museum, University of Copenhagen (ZMUC), Denmark;  The Museum National d’Histoire Naturelle (MNHN), Paris; Zoological Reference Collections (ZRC), National University of Singapore.

Diancistrus typhlops N,S & H, ikan buta jenis baru dari gua bawah laut di Pulau Muna (Foto by: Daisy Wowor).

Jenis Baru Ikan karst yang dideskripsi tahun 2010

Selain ikan buta penelitian di Pulau Muna berhasil menemukan pula jenis lain yaitu ikan padi, genus Oryzias. Pola warna ikan ini sangat berbeda dengan kerabatnya yang umumnya mempunyai warna tubuh coklat muda kekuningan, ikan ini berwarna biru metalik dan merah cerah yang sangat  menarik.
Ikan ini ditulis bersama Dr. Lynne R. Parenti, curator ikan dari The United States National Museum (USNM), Smithsonian Institution, Washington DC, Amerika Serikat, yang menggeluti grup ikan padi selama ini. Sebagian specimen dikirimkan ke USNM, setelah proses korespondensi dalam rangka penulisan naskah selesai disepakati  untuk mempublikasikannya di Jurnal COPEIA (2010, 2: 268-273).

Ikan cantik ini kemudian diberi nama Oryzias woworae (Parenti & Hadiaty, 2010), yang didedikasikan pada Dr. Daisy Wowor, yang telah mengoleksi serta memotretnya, hingga menarik perhatian kami untuk meneliti dan mendeskripsikannya.

Peluncuran jenis baru ini dilakukan oleh Ibu Dr. Siti Nuramaliati Prijono, Kapuslit Biologi pada hari pertama Seminar Nasional Ikan VI dan Kongres Masyarakat Iktiologi III, tanggal 8 Juni 2010. Pada kesempatan yang sama Dr. Lynne R Parenti memberikan arahan sebagai pemakalah kunci.

Holotipe disimpan di Lab. Ikan, Bidang Zoologi dengan nomor MZB 15398, sedangkan paratipenya disimpan di The Academy of Natural Sciences Philadelphia (ANSP); The Natural History Museum (BMNH), London; Museum Zoologicum Bogoriense (MZB) Indonesia; Florida Museum of Natural History (UF), University of Florida; United States National Museum (USNM), Washington DC.

Ekspedisi di kawasan karst Sangkulirang tahun 2004 juga berhasil mendapatkan Ikan karst  jenis baru lainnya, yang dikoleksi dari perairan Marang. Ikan ini diberi nama sesuai dengan nama lokalitinya, yaitu Nemacheilus marang Hadiaty & Kottelat, dan dipublikasikan di jurnal Zootaxa 2557: 39-48 (2010).

Spesies ini dideskripsi bersama Dr. Maurice Kottelat, yang berawal saat penulis mendapat dana dari The All Catfish Species Inventory (ACSI) untuk mengunjungi museum-museum di Eropa tahun 2006 bersama Dr. Larry M. Page, principal investigator dari proyek ini. Perbandingan dengan specimen tipe di museum Eropa dilakukan pada saat tersebut. Data SEM dan X-ray dilakukan di USNM, namun demikian penulisan tahap akhir jenis ini dilakukan bersama Dr. Maurice Kottelat pada akhir tahun 2009, yaitu saat beliau memberikan arahannya dalam Seminar Nasional Taksonomi Fauna III dan Kongres Masyarakat Taksonomi Fauna ke II, 10-11  November 2009.

Holotipe jenis ini disimpan di koleksi Lab. Ikan dengan nomor MZB 13301, sedangkan paratipenya dideposit di Academy of Natural Sciences, Philadelphia (ANSP); Natural History Museum, London (BMNH); Collection of second author (CMK); Museum Zoologicum Bogoriense, Bogor (MZB); Florida Museum of Natural History, University of Florida, Gainesville (UF); United States National Museum, Washington (USNM);, dan Zoological Reference Collections, National University of Singapore (ZRC).

Nemacheilus marang H & K, 2010; ikan karst jenis baru dari kawasan karst Marang, Sangkulirang (Foto by: Renny K. Hadiaty).

Hasil penelitian di kawasan Karst Maros tahun 2006 dan 2007 berhasil mengoleksi ikan endemik Sulawesi Selatan yaitu Lagusia micracanthus. Ikan ini dideskripsi sebagai jenis Datnia micracanthus oleh Bleeker  tahun 1860 berdasarkan tiga specimen, yang kemudian direvisi namanya menjadi Therapon micracanthus oleh Bleeker sendiri (1873), namanya berubah menjadi  Papuservus micracanthus saat Munro (1958) menelitinya.  Pada tahun 1978, Dr. Richard Vari, seorang curator ikan dari USNM, Smithsonian Institution mempelajari analisa filogenetik dari familia Terapontidae dan mengusulkan nama baru bagi ikan ini yaitu Lagusia micracanthus.

Hasil koleksi dari proyek DIPA dan eskpedisi bersama tim Perancis tahun 2007 berhasil mendapatkan 48 ekor dari juvenile sampai dewasa. Dokumentasi pola warna ikan juga dilakukan selagi ikan masih hidup di lapangan. Setelah melakukan pengukuran morfologis, dilakukan upaya untuk mengontak Dr. Richard P. Vari untuk melakukan penulisan bersama dan beliau bersedia, kami bersepakat untuk melakukan redeskripsi ikan ini dengan memberikan informasi yang lebih lengkap. Saat ini penulisan telah mendekati tahap akhir, kami bersepakat untuk mempublikasikannya di Raffless Bulletin of Zoology, National University of Singapore.

DAFTAR PUSTAKAHadiaty, R. K & M. Kottelat, 2010. Nemacheilus marang, a new loach (Teleostei: Nemacheilidae) from Sangkulirang karst, Eastern Borneo. Zootaxa 2557: 39-48

Parenti. L.R. & R.K. Hadiaty, 2010. A new, remarkably colorful, small ricefish of the genus Oryzias (Beloniformes, Adryanichthyudae) from Sulawesi, Indonesia. Copeia, 2: 268-273.

Hadiaty, RK & M Kottelat, 2009. Nemacheilus tebo, a new loach from Sangkulirang Karst, East Kalimantan, Indonesia (Teleostei: Nemacheilidae). Raff. Bull. of Zool. 57(1): 119-125.

Nielsen, J.G., W Schwarzhans & R.K. Hadiaty, 2009. Ablind, new species of Diancistrus (Teleostei, Bythitidae) from three caves on Muna Island, southeast of Sulawesi, Indonesia. Cybium 33(3): 241-245.
Penulis: Renny K. Hadiaty. Laboratorium Iktiologi, Bidang Zoologi, Puslit Biologi-LIPI, Cibinong (Sumber: www.iktiologi-indonesia.org)