image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Berita

Indonesia Timur Kaya Spesies Baru

Kelelawar Yoda (kelelawar berhidung tabung buah) © Piotr Naskrecki/ILCP/SWNS.CO

Jakarta (ANTARA News) - Kawasan Timur Indonesia (KTI) kaya akan spesies baru ditemukan dalam studi lapangan Program Kaji Cepat (Rapid Assessment Program/RAP) yang dilakukan Conservation International (CI) selama 20 tahun terakhir.

"Sebagian besar spesies baru yang ditemukan berasal dari KTI, karena memang hutan di wilayah tersebut masih banyak yang belum terjamah," kata Komunikasi CI Indonesia, Fachruddin Mangunjaya yang dihubungi dari Jakarta, Rabu.

Ia mencontohkan, spesies baru yang ditemukan di Indonesia di antaranya, Smoky honeyeater atau memiliki nama ilmiah Melipotes carolae, Hiu berjalan yang nama ilmiahnya Hemiscyllium galei dan Flasher Wrasse, nama Ilmiahnya Paracheilinus Nursalim.

Sejumlah spesies baru itu juga ditemukan dikawasan Papua Nugini seperti "Kelelawar Yoda" (kelelawar berhidung tabung buah) dan Katak Pohon raksasa (Large Green Tree Frog).

Spesies baru tersebut merupakan bagian dari 1.300 spesies yang berhasil ditemukan dalam studi RAP CI di seluruh dunia dan dikompilasi dalam buku baru `Still Counting...` yang berisi sebagian memoar, laporan historis dan panduan metodologi ekspedisi RAP ke beberapa daerah yang paling terpencil dan paling dikenal di dunia.

Fachruddin mengatakan, studi tersebut sebagai upaya menginventarisasi spesies-spesies yang baru dan setelah diketahui bisa dibuat strategi untuk pelestariannya.

Menurutnya, karena spesis baru ini ditemukan di hutan pedalaman yang belum terjamah sehingga populasinya masih banyak.

Namun spesies-spesies tersebut harus dilindungi dan dilestarikan sebab belum diketahui manfaatnya bagi manusia dimasa depan.

"Sekarang kita masih terus meneliti bersama para ilmuwan dari seluruh dunia untuk mengetahui manfaatnya bagi kehidupan kita," tambahnya.(D016/S019) Editor: Aditia Maruli COPYRIGHT © 2011 (Sumber: antaranews.com)