image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Berita

Peringatan dari Bencana Senggerang

Desa Mangilu. Pengerukan di Desa Mangilu yang diklaim menyalahi prosedur teknis pertambangan (TIM/FAJAR).

Tak ada yang menyangka sebelumnya bahwa banjir akan terjadi di wilayah pegunungan. Namun itu realitasnya. Minggu, 24 April, banjir melanda Kampung Senggerang, Kelurahan Balleangin, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep. Banyak orang terperangah; bagaimana mungkin banjir terjadi di daerah pegunungan. Bukankah di sana terdiri atas tebing-tebing terjal, sungai yang dalam dan lebar, pepohonan yang rimbun, serta area resapan air yang banyak?!

Banjir yang datang dengan serta-merta tersebut bukan banjir biasa sebagaimana lazimnya yang terjadi di kota-kota besar ketika hujan deras mengguyur. Banjir di Senggerang tersebut bukan hanya membawa air, namun juga aneka material. Campuran berbagai jenis bahan alam, lumpur, tanah, pasir, bebatuan, kerikil, kayu aneka ukuran, dan lainnya. Keidakpercayaan sebagian orang atas terjadinya banjir bandang tersebut beralasan.

Senggerang merupakan salah satu kampung yang lokasinya berada di kawasan pegunungan yang ada di Pangkep. Bahkan kampung ini wilayahnya bersinggungan dengan gugusan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Hal ini bisa diartikan bahwa Senggerang secara geografis, berada pada ketinggian dari permukaan laut.

Bencana banjir bandang tersebut kemudian oleh beberapa  pihak dikait-kaitkan dengan adanya dugaan illegal loging di bagian hulu Sungai Selo MettiE yang diliputi oleh kawasan hutan. Bahkan laporan sejumlah LSM, di bagian atas Senggerang terdapat area pembukaan lahan menjadi areal pertanian. LSM dan legislator mensinyalir jika bencana tersebut diakibatkan karena aktivitas illegal logging alias penebangan liar dan penggundulan hutan di area hulu sungai.

Ketua LSM Basmalah, Nur Achmad Nur, mengatakan, besar kemungkinan banjir bandang terjadi karena adanya penggundulan hutan di area hulu. "Ini merupakan peringatan kepada pemkab untuk melakukan pengawasan hutan di area hulu sungai. Jika terus dibiarkan, maka ke depan bencana serupa akan terus terjadi," kata dia.

Wakil Ketua DPRD Pangkep, Rizaldi Parumpa juga berpendapat sama. Menurutnya, kendati belum jelas ada tidaknya perusahaan marmer atau perusahaan tambang lainnya di area hulu sungai yang merupakan kawasan hutan, namun bisa jadi penyebabnya karena adanya eksploitasi hutan yang berlebihan.

Rizaldi, mengatakan ada indikasi ilegal loging di sekitar Desa Tompo Bulu dimana lokasi tersebut berdekatan dengan Gunung Bulu Saraung. Pasalnya, kayu yang dipakai untuk kebutuhan pertambangan di Pangkep sebagian dipasok dari sana. Apalagi sebagian besar perusahaan tambang di Pangkep, kata dia, menggunakan kayu-kayu lokal untuk kebutuhan operasionalnya.

"Ini harus menjadi bahan introspeksi bagi pemerintah. Jangan lagi ada pembiaran terhadap aktivitas eksplorasi dan eksploitasi alam khususnya penggundulan hutan," katanya. Memang, sesuai informasi yang dihimpun, di area hulu sungai terdapat pembukaan lahan yang digunakan untuk lahan pertanian.

Hal ini juga diungkapkan Direktur Eksekutif Daerah Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sulsel, Zulkarnain Yusuf. Ia mengungkapkan, sejak 2005 ada indikasi alih fungsi lahan di bagian atas perkampungan. "Kami memang belum memiliki data penyebab utama banjir. Namun di sana, ada alih fungsi lahan. Kawasan hutan difungsikan menjadi lahan perkebunan atau pertanian. Jadi kalau itu yang dikatakan penyebab banjir, maka itu memungkinkan," katanya.

Yang ironis, kata Zulkarnain, justru karena hutan yang ada di sekitar Senggerang merupakan wilayah yang seharusnya begitu diproteksi mengingat statusnya sebagai hutan lindung karena masuk dalam Kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Lebih dari 50 persen wilayah hutan di daerah ini merupakan hutan yang dilindungi.

"Itu artinya, frekuensi atau intervensi orang luar untuk masuk ke kawasan tersebut menebang pohon, harusnya tidak terjadi karena kawasannya sangat diproteksi. Jadi ini memang ironis: satu sisi kawasanya dilindungi, namun di sisi lain faktanya ada banjir. Fakta itu mengungkapkan bahwa ada masalah di proses pengawasannya," ujar Zulkarnain.

Camat Balocci, Zuryamsyah, yang dikonfirmasi mengenai masalah ini, membenarkan jika di daerah hulu terdapat pembukaan lahan, kendati jaraknya agak jauh dari Sungai Selo MettiE. Namun, ia membantah terkait adanya asumsi illegal logging di area hulu Sungai Selo MettiE. Menurutnya, lokasi tersebut merupakan kawasan hutan lindung. "Memang ada pembukaan lahan sawah, tetapi itu hanya kebun yang dialihkan fungsinya," tandasnya.

Kepala Dinas Kehutanan, Mas'ud, juga membantah ada illegal logging di area hulu sungai. Menurutnya, di sana merupakan kawasan hulu sungai sehingga jika ada aktivitas penebangan pohon, akan diproses hukum. "Ini bencana. Ini musibah karena  hujannya cuma setengah jam (lalu banjir bandang datang, red)," ujar Mas'ud.

Sebelumnya staf Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Iskandar, juga sudah memaparkan hasil investigasi lapangannya terhadap lokasi banjir bandang Senggerang, Kelurahan Balleangin. Ia menyimpulkan, penyebab banjir bandang tersebut adalah akumulasi faktor alam. Curah hujan tinggi, kondisi kelerengan permukaan umumnya 45 persen, dan adanya kantong-kantong air di Sungai Selo MettiE. (tim) (Sumber: www.fajar.co.id)