image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Artikel

Inventarisasi dan Pemetaan Sebaran Gua Alam TN. Bantimurung Bulusaraung

Karst Maros-Pangkep/LIONMAG.

Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina. Di kaki dan lereng bukit karstnya dijumpai ratusan gua dalam berbagai bentuk maupun ukuran yang memiliki kekhasan dan keunikan alami seperti endokarst (gua alam beserta ornamen-ornamen dan fauna gua) dan eksokarst (tower karst, flora dan fauna beserta dengan keunikan lainnya).

Batuan kapurnya yang dapat terlarutkan dengan air membuat banyak lorong gua yang terbentuk di kawasan tersebut sehingga membentuk sistem drainase bawah tanah dan dispursi dari sistem perlembahan. Pelarutan secara lokal menyebabkan terbentuknya ruangan-ruangan dan lorong-lorong bawah tanah, yang di kenal dengan gua atau sistem perguaan (HIKESPI, 1991).

Pada Tahun 2004 Pemerintah telah menunjuk sebagian kawasan karst Maros-Pangkep menjadi Kawasan konservasi dengan luas ± 20.000 Ha sebagai upaya mempertahankan kekhasan dan keunikan ekosistem karst. Proses penunjukan sebagian kawasan karst Maros-Pangkep menjadi Taman Nasional memakan waktu yang cukup lama. Berbagai kajian  dan usulan para ilmuan dan pemerhati karst membuahkan hasil dengan diterbitkannya  surat keputusan Menteri Kehutanan pada tanggal 18 Oktober 2004, Nomor SK.398/Menhut-II/2004 tentang Perubahan Fungsi Kawasan Hutan pada Kelompok Hutan Bantimurung Bulusaraung seluas ± 43.750 Ha menjadi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN. BABUL).

 

Gua Paniki (Foto: Kamajaya/TN.Babul).

A. Gua Alam

Ilmu yang mempelajari tentang gua disebut Speleologi. Kata Speleologi berasal dari Bahasa Yunani : Spelalion yang artinya gua dan Logos yang artinya ilmu. Speleologi dapat diartikan secara umum sebagai ilmu yang mempelajari gua dan lingkungannya, oleh karena itu kita perlu mengetahui definisi dari gua alam.

Menurut Pedoman Identifikasi dan Inventarisasi Keunikan Alam (Gua) dari Departemen Kehutanan (1996) gua adalah ruangan di bawah tanah yang di bentuk oleh proses kompleks secara alami, baik kimiawi atau fisik, dimana air memegang pengaruh dominan dengan membentuk lorong-lorong yang pada umumnya berbeda luas, panjang serta bentuknya.

Menurut IUS (International Union Speleology) gua adalah setiap ruangan bawah tanah yang dapat dimasuki orang. Gua mempunyai sifat khas dalam mengatur suhu udara di dalamnya yaitu pada saat udara di luar panas maka di dalam gua akan terasa sejuk, begitu pula sebaliknya.

Gua alam berdasarkan letak dan batuan pembentuknya, dibagi dalam beberapa jenis :

  1. Gua lava : terbentuk akibat pergeseran permukaan tanah akibat gejala keaktifan vulkanologi, biasanya sangat rapuh karena terbentuk dari batuan muda (endapan lahar) dan tidak mempunyai ornamen batuan yang khas.
  2. Gua lithoral : sesuai namanya terdapat di daerah pantai, palung laut ataupun di tebing muara sungai, terbentuk akibat terpaan air laut (abrasi).
  3. Gua batu gamping (karst) : fenomena bentukan gua terbesar (70% dari seluruh gua di dunia) terbentuk akibat terjadinya peristiwa karst (pelarutan batuan kapur akibat aktifitas air), sehingga tercipta lorong-lorong dan bentukan batuan yang sangat menarik akibat terjadinya proses kristalisasi dan pelarutan gamping. Diperkirakan wilayah sebaran karst di Indonesia adalah yang terbesar di dunia.
  4. Gua pasir, gua batu halit, gua es : bentukan gua yang sangat jarang terjadi di dunia, kurang lebih hanya meliputi 5% dari gua di dunia.

 

Lukisan Dinding di Gua Leang-Leang.

Menurut para ahli sejarah purbakala, gua-gua merupakan bekas tempat hunian manusia beribu-ribu tahun silam, sebelum mereka mengenal cara membangun rumah sebagai tempat tinggal. Menurut Van Heekeren, gambar babi hutan pada beberapa, seperti gua Sumpangbita dan Leang-leang, Sulawesi Selatan umurnya kira-kira 4000 tahun, jadi bertepatan dengan berakhirnya jaman mesolithicum dan dimulainya jaman Neolithicum (R. Soekmono, 1998 : 48).

Bukti-bukti adanya kehidupan manusia pada masa prasejarah di tempat itu adalah ditemukannya alat dari batu, bekas perapian yang hitam, dan lukisan pada dinding berupa gambar jari tangan penghuninya dan juga lukisan babi hutan. (Ingeborg Gohlich, 1991). Gua – gua tersebut oleh sebagian besar peneliti diyakini pernah menjadi tempat tinggal Bangsa Towala (Manusia pertama Sulawesi). Bangsa (Manusia) Towala digolongkan sebagai Bangsa Negrito, yang digambarkan berperawakan pendek, berkulit hitam, berhidung pesek, berambut ikal dan mereka hidup sekitar 5000 tahun yang lalu. (Ingeborg Gohlich, 1991).

Gua Paniki (Foto: Kamajaya/TN.Babul).

Gua alam merupakan salah satu sumber daya alam yang sangat potensial untuk dikembangkan karena memiliki berbagai fungsi, potensi dan nilai tambah. Potensi dari setiap gua alam yang ada sangat besar, baik berupa dekorasi-dekorasi yang ada dalam gua misalnya stalaktit, stalagmit, flow stone, helektit, pilar, sodastraw, drapery dan bentuk yang lain. Fungsi gua alam misalnya sebagai sumber air, sebagai tempat hidup atau habitat dari berbagai satwa, contohnya kelelawar, burung wallet, seriti, serangga dan lain-lain.

Fungsi gua yang lain adalah; 1) tempat penambangan mineral (kalsit/gamping, guano), tempat perburuan (walet, seriti, kelelawar); 2) obyek wisata alam dan minat khusus; 3) obyek sosial budaya (legenda, mistik), gudang air tanah sepanjang tahun; 4) laboratorium ilmiah yang peka, lengkap dan langka; 5) indikator perubahan lingkungan paling sensitif dan 6) fasilitas penyangga mikro ekosistem yang sangat peka dan vital bagi kehidupan makro ekosistem di luar gua.

Potensi dan fungsi gua tersebut, sangat terkait dengan kebutuhan dan aktifitas sehari-hari penduduk sekitar. Air yang bersumber dari gua umumnya digunakan untuk mencuci, mandi dan untuk sumber irigasi sawah dan lahan. Satwa-satwa yang hidup di dalam gua menghasilkan guano yaitu kotoran binatang gua alam yang berasal dari bermacam-macam binatang gua. Yang paling dominan berasal dari kotoran (feaces) kelelawar dan burung wallet.

Dengan demikian gua alam mempunyai banyak potensi dan  fungsi, sehingga dapat digunakan untuk berbagai manfaat, misalnya untuk wisata alam, laboratorium alam untuk pendidikan dan penelitian. Berhubungan dengan potensi dan fungsi gua yang ada, maka akan terjadi tekanan akibat dari adanya aktivitas manusia yang masuk, baik untuk wisata alam, pendidikan, penelitian, pengambilan guano dan berbagai bentuk pemanfaatan yang lain.

 

Gua Patta (Foto: Iqbal/TN. BABUL).

B. Inventarisasi dan Pemetaan Sebaran Gua Alam TN. BABUL

Kegiatan Inventarisasi dan Pemetaan Sebaran Gua Alam Tahun 2010 oleh Tim dari Balai TN. Babul telah menyajikan data dan informasi mengenai letak entrace/mulut yang berada di kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kegiatan tersebut bertujuan untuk pendataan sebaran potensi gua alam di kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kegiatan ini masih terkonsentrasi di wilayah Resort Bantimurung dan Resort Pattunuang Karaenta TN. Babul.

Jumlah gua yang disurvei dalam Kegiatan Identifikasi dan Pemetaan Sebaran Gua Alam di TN. Babul Tahun 2010, khususnya wilayah Resort Bantimurung dan Resort Pattunuang Karaenta yaitu sebanyak 89 gua, 55 gua diantaranya belum pernah terdata sebelumnya. Gua tersebut mempunyai berbagai macam bentuk, ukuran dan panjang lorong. Letak mulut gua pun ada yang di atas tebing, pada dasar dinding tebing, ataupun dipermukaan tanah secara vertikal.

Berdasarkan data primer dan sekunder, jumlah potensi gua yang terdapat di kawasan karst Maros-Pangkep, khususnya yang berada di dalam kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, yaitu 257 gua terdiri dari 41 Gua Prasejarah dan 216 Gua Alam.

Beberapa gua di kawasan karst TN. Babul merupakan sekumpulan sistem perguaan/hidrologi yang sambung-menyambung. Di kawasan karst tersebut terdapat beberapa sistem perguaan diantaranya yaitu:

  1. Sistem perguaan Gua Salukkan Kallang-Towakkalak (SKT) memiliki panjang lebih dari 24 km meliputi Gua Wattanang/B6-7 (440 m, -40 m), Gua Tanette/K29 (9.692 m), Gua Batu Neraka/K34 (749 m, -85 m), Lubang Kabut/K33 (1.095 m, -74 m), dan Gua Salukkan Kallang (GSK)/K1-K4 (12.463 m).
  2. Sistem perguaan yg sifatnya kecil/pendek: a) Sistem perguaan Pangia meliputi daerah Pangia dan sekitarnya. Sistem perguaannya meliputi S. Pangia - Gua Tajuddin/N6 - Gua Saluaja/N5 - Sungai Pattunuang Asue. Daerah tangkapan airnya berasal dari kawasan di sebelah Barat ; b) Sistem perguaan Samangki meliputi daerah Samangki dan sekitarnya.  Sistem perguaannya meliputi Gua Suleman - Gua Anjing/Grotte Du Restaurant/N1 - Mata Air Samangki - S. Pattunuang Asue. Daerah tangkapan airnya berasal dari kawasan di sebelah Selatan ; c) Sistem perguaan Pattunuang Asue meliputi daerah Leang Rakko dan Pattunuang Asue. Sistem perguaannya meliputi Gua Patta/N7 - Gua Saleh – Gua Kolam Ikan/Grotte De La Piscine/N3 - Sungai Pattunuang Asue. Daerah tangkapan airnya bersumber dari kawasan sebelah Utara.

 

Gua Paniki (Foto: Kamajaya/TN.Babul).

Tim APS (Association Pyreneenne De Speleologie) telah melakukan ekspedisi gua di kawasan karst TN. Babul sejak tahun 1980-an, dan juga menelusuri beberapa gua Pangkep, Barru dan Tana Toraja. Beberapa diantara gua tersebut disurvei kembali dalam kegiatan Identifikasi dan Pemetaan Sebaran Gua Alam di TN. Babul 2010. Adapun diskripsi ringkas gua hasil survei antara lain sebagai berikut:

  1. Gua Salukkang Kallang (GSK)/K1 diyakini sebagai 'the mother of underground river' di kawasan karst Maros. Gua horizontal ini memiliki panjang 12.463 m dan sebagian besar lorong-lorongnya dialiri sungai bawah tanah yang bermuara di Air Terjun Bantimurung. Selain pintu masuk/entrance K1, penelusuran gua dapat melalui 3 pintu masuk/entrance vertical yaitu K2, K3 dan K4.
  2. Gua K11 berada di antara lapisan batu kapur dan basal. Di gua ini terdapat aliran air yang keluar dari sebuah terowongan kecil yang digali oleh warga desa. Panjang terowongan tersebut sekitar 8 meter.
  3. Gua Astaga/K10-K22/Gua Kelelawar 1 merupakan gua horizontal dengan panjang 460 m dan tepat berada di atas GSK. Setelah memasuki lorong sejauh 100 m terdapat chamber dan lubang. Lorongnya sedikit terjal dan terdapat lanau, bongkahan batu dan batuan beku.
  4. Gua K20 memiliki bentuk mirip dengan garpu tala. Gua vertical ini terbentuk akibat pelebaran rekahan. Hal ini terlihat dari lorong gua yang searah dengan arah umum rekahan dan koridor karst diatasnya. Di sebelah kiri teras terdapat sebuah lubang sedalam -160 meter dan sebelah kanan sedalam -132 meter.
  5. Gua Kharisma/K49 merupakan gua horizontal dengan interior yang indah. Gua ini memiliki panjang 330 m. Gua ini memiliki 3 pintu masuk. Dibeberapa bagian lorong terdapat lubang.
  6. Gua Baharuddin/B15 merupakan gua horizontal dengan panjangnya 137 m dan berada 2 meter di atas sungai Bantimurung. Air mengalir cukup deras dari mulut gua yang berasal dari sedikitnya 4 celah karst di dalam gua. Letak gua ini berada di tepi karst, di belakang Pondok Bunga Wana.
  7. Gua Mimpi/Istana Toakala/B30 telah dikembangkan untuk parawisata sejak 1987 dengan fasilitas berupa jalan dengan pencahayaan dari mesin generator, dan pertama untuk gua di Sulawesi. Di dalam gua horizontal ini terdapat sebuah runtuhan bongkahan batu yang luas dipercabangan lorong (Gua Mimpi adalah cabang kanan sedangkan kiri disebut Gua Istana Toakala). Pada beberapa bagian lorong terdapat ornamen gua yang menarik, sedikit terjal, berbelok dan berlumpur. Gua Mimpi/Istana Toakala memiliki panjang 1.415 m.
  8. Gua Batu/B12/B28 memiliki panjang sekitar 400 m. Gua horizontal ini memiliki 2 chamber yang mirip dengan ruang pertemuan, tiap chamber terdapat ornamen yang sangat menarik. Selain  Gua Mimpi, gua ini juga telah dimanfaatkan untuk kegiatan wisata alam pada kawasan wisata Bantimurung, dalam laporan Tim APS Prancis gua ini dinamakan sebagai Gua Bantimurung.
  9. Gua Saripa 1/S32 mempunyai lorong yang sangat rumit dan berliku-liku dengan panjang 1.736 m. Di beberapa tempat lorong gua berakhir dengan sebuah danau ataupun genangan air yang sudah tidak memungkinkan untuk ditelusuri lagi. Sebaliknya lorong-lorong yang berliku ini juga mempunyai ornamen-ornamen gua yang sangat indah dengan kristal kalsit yang memancarkan cahaya berkilauan. Beberapa lorong didominasi oleh lumpur yang tebal dan juga bongkahan-bongkahan batu yang tajam. Di beberapa tempat ditemukan kolam-kolam yang dihuni oleh berbagai jenis fauna akuatik. Dibawah Gua Saripa 1 terdapat Gua Saripa 2/S33 yang panjangnya lebih dari 50 m.
  10. Gua Anjing/Grotte Du Restaurant/N1 memiliki 3 pintu dengan panjang lorong 550 m. Ukuran lorong bervariasi dengan tinggi 1,5 - 10 m dan lebar lebar 3 – 6 m. Lorong horizontal ini berakhir pada lubang sedalam 4 - 5 m yang dibawahnya mengalir sungai bawah tanah. Gua ini merupakan satu sistem perguaan dengan Gua Suleman yang panjangnya sekitar 850 m.
  11. Gua Kolam Ikan/Grotte De La Piscine/N3 memiliki 2 pintu masuk yang berada di tepi sungai. Pintu pertama berada di atas tebing dan pintu kedua berada di dasar tebing. Air mengalir cukup deras dari Pintu ke dua dengan kedalaman air 1,5 – 2 m. Diperkirakan panjang gua sekitar 200 m.
  12. Gua Pattunuang 1/Gua Saluaja/N5 memiliki panjang 557 m. Gua horizontal ini memiliki 2 pintu masuk. Ukuran lorong bervariasi 1,5 - 2 x 2 - 3 m dan 5 x 1 - 1,5 m. Lorongnya dialiri sungai bawah tanah dengan kedalaman 0,5 – 2 m. Terdapat material tanah, pasir halus dan kerikil di lantai gua.
  13. Gua Pattunuang 3/Gua Batu Tumbung/Gua Tajuddin/N6 memiliki 3 pintu masuk dengan panjang gua 553 m. Terdapat lubang sedalam 20 m. Salah satu pintu gua merupakan jalan masuk aliran air Sungai Pangia menuju Gua Saluaja.
  14. Gua Patta/N7 memiliki beranda yang sangat mengesankan dengan panjang gua 965 m dan gua vertikalnya 110 m. Pintu masuk menurun dipenuhi bongkahan batu sejauh 150 m. Dibawah pintu masuk mengalir sungai bawah tanah menuju Gua Saleh dan Gua De La Piscine.
  15. Gua Lantang Huu/N8 memiliki ornamen yang indah pada kedalaman -40 meter. Gua vertikal ini memiliki kedalaman -54 m. Pada bagian lain terdapat gua horizontal 66 m dan tiga lubang vertikal yang akhirnya menuju ke areal longsoran.
  16. Gua Leang Rakko/N10 memiliki tinggi lorong sekitar 20 m. Sepanjang lorong horizontal yang panjangnya 788 m ditemukan beberapa lubang besar di langit gua. Bongkahan batu sebagian besar berasal dari runtuhan langit-langit gua.
  17. Gua Koridor 1 – 10 berada sepanjang koridor karst di belakang Kantor Resort Bantimurung/Pusat Infomasi, yaitu: B16/Trou du Pissadou/Koridor 1: Gua Horizontal, Panjang 2 m; B17/Grotte du Corridor/Koridor 2: Gua Horizontal, Panjang 20 m; B18/P1/Koridor 3: Gua Vertikal, Kedalaman 11 m; B19/P2/Koridor 4: Gua Vertikal, Kedalaman 7 m; B20/P3/Koridor 5: Gua Vertikal, Kedalaman 6 m; B21/P4/Koridor 6: Gua Vertikal, Kedalaman 9 m; B22/Koridor 7: Gua Vertikal, Kedalaman 10 m; Koridor 8: Gua Horisontal, Panjang 15 m; B23/Perte du Corridor: Gua Vertikal, Kedalaman 10 m; B24: Gua Vertikal, Kedalaman 15 m.
  18. Gua Kado/S14 merupakan gua horizontal dengan panjang 108 m. Di ujung lorong terdapat lubang yang digenangi air diperkirakan kedalaman 10 m.
  19. Gua Sambueja 1/S15 memiliki ornamen gua yang indah dan danau kecil. Gua horizontal ini memiliki 2 pintu dengan panjang lorong 131 m.

 

Karst Maros-Pangkep.

Bentang alam kawasan karst Maros-Pangkep memiliki keindahan, keunikan, flora dan fauna, nilai-nilai ilmiah dan sosial budaya yang tinggi. Dari sekian banyak bentukan alam yang ada ada di kawasan karst Maros-Pangkep, gua merupakan salah satu fenomena alam yang dimanfaatkan untuk parawisata. Di kawasan karst TN. Babul terdapat wisata gua yang telah dibuka untuk wisata massal (mass tourism) seperti Gua Mimpi, Gua Batu, Gua PettaE dan Gua Petta Kere. Beberapa gua alam lainnya juga tidak asing lagi bagi para penelusur gua dan juga para peneliti ilmiah (biota, geologi, hidrologi), seperti Gua Saripa, Gua Salukan Kallang, dan Gua Suleman.

Kerusakan lingkungan karst khususnya gua yang dimanfaatkan untuk pariwisata sering tidak terkendali. Dampak yang mungkin terjadi akibat pemanfaatan gua (IUCN, 1987) adalah sebagai berikut: 1. Perubahan struktur fisik gua; 2. Perubahan kimiawi air; 3. Perubahan hidrologi gua; 4. Perubahan gerak udara dan iklim mikro; 5. Terjadinya pemadatan/liquifaction lantai gua; 6. Erosi dan kerusakan pada sedimentasi gua beserta kandungannya; 7. Kerusakan fauna, gangguan terhadap organisme/material asing (seperti beton, polutan, panjat tebing, nutrisi, spesies binatang, alga dan jamur); 8. Dampak terhadap lapisan permukaan (erosi, siltasi dan perubahan vegetasi).

Sehubungan dengan hal tersebut, gua sebagai kesatuan ekosistem di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung harus dikelola dan dimanfaatkan berdasarkan zonasinya. Pengelolaan dan pemanfaatan untuk pariwisata harus lebih diarahkan pada peningkatan apresiasi dan interprestasi untuk pendidikan, penelitian dan kesadaran lingkungan di samping tujuan rekreasi, yang lebih dikenal sebagai wisata minat khusus atau laboratorium ekosistem gua. Dengan cara demikian, diharapkan dapat diwujudkan pengembangan pariwisata yang berwawasan lingkungan.

Selama penelusuran, penelusur harus bersikap berhati-hati terhadap kondisi gua terutama gua vertikal. Penelusur diharapkan mendalami, mengerti tentang gua dan kawasan disekitarnya, baik dari aspek pendidikan, penelitian dan pengelolaan gua. Kegiatan konservasi harus menjadi tujuan utama penelusuran dan dilaksanakan sebaik-baiknya oleh setiap penelusur. Kewajiban pertama adalah membersihkan gua serta lingkungan sekitarnya. Wajib memberikan pertolongan kepada penelusur lain ketika membutuhkan dan menaruh respek kepada penduduk sekitar. Setiap penelusur selain mempunyai kewajiban juga harus mempunyai etika dalam kegiatan penelusuran. Etika yang harus diterapkan selama penelusuran, sebagai contoh motto speleology dari NSS USA, yaitu: Jangan ambil sesuatu kecuali gambar, Jangan bunuh sesuatu kecuali waktu dan Jangan tinggalkan sesuatu kecuali jejak kaki.

Dokumentasi Inventarisasi dan Pemetaan Sebaran Gua Alam TN. Bantimurung Bulusaraung

DAFTAR PUSTAKAAnonim, 1996. Pedoman Identifikasi dan Inventarisasi Keunikan alam (Gua). Departemen Kehutanan. Direktorat Jenderal PHPA. Jakarta

Anonim, 2006. Laporan Identifikasi dan Inventarisasi Potensi Gua Alam di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Balai KSDA Sulawesi Selatan I. Makassar

Anonim, 2007. Buku Informasi Kawasan Konservasi Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Maros

Anonim, 2008. Rencana Pengelolaan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung periode 2008-2027. Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Maros

Anonim, 2010. Inventaisasi dan Pemetaan Sebaran Gua Alam Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Maros

Anthony J Whitten,Muslimin Mustafa,Gregory S Hendarson 1987.  Ekologi Sulawesi.  Gadjah Mada University.

Brouquisse, Francois, et. al.  (1997).  Expédition Maros 94.  Association Pyrénéenne de Spéléologie: Toulouse ISBN 2-906273-08-2.

Brouquisse, Francois, et. al.  (2002).  Expédition Maros 99.  Association Pyrénéenne de Spéléologie: Toulouse ISBN 2-906273-08-2.

Deharveng, Louis, et. al.  (1986).  Expédition Thaï-Maros 85.  Association Pyrénéenne de Spéléologie: Toulouse ISBN 2-906273-00-7.

Deharveng, Louis, et. al.  (1987).  Expédition Thaï-Maros 86.  Association Pyrénéenne de Spéléologie: Toulouse ISBN 2-906273-01-5.

Deharveng, Louis, et. al.  (1990).  Expédition Maros 85-Maros 86.  Association Pyrénéenne de Spéléologie: Toulouse ISBN 2-906273-05-8.

Deharveng, Louis, et. al.  (1992).  Expédition Indonesie 90.  Association Pyrénéenne de Spéléologie: Toulouse ISBN 2-906273-06-6.

Deharveng, Lois, et. al. (2007). Zoological Investigation’s in the Karst of South and Southest Sulawesi. 10 Agustus – 10 Oktober 2007.

HIMAKOVA IPB.  2007a.   Laporan Akhir. Surili 2007. Studi Konservasi Lingkungan. “ Eksplorasi Budaya, Flora dan Faunan Ekosistem Karst Maros- Pangkep Bagi Pengembangan Ekowisata di TN. Bantimurung Bulusaraung”. Kerjasama  Himakova. Fakultas Kehutanan. IPB dengan Departemen Kehutanan dan WWF-USA.

HIMAKOVA, IPB.    2007 b.   Field Identifikastion Guide of Mammals, Butterfield, Cave Fauna, Herpetofauna, Avifauna in Bantimurung Bulusaraung National Park, South Sulawesi Province, Indonesia. Kerjasama  Himakova. Fakultas Kehutanan. IPB dengan Departemen Kehutanan dan WWF-USA

Korpala Unhas (1999).  Laporan Akhir Operasi Jelajah Gua Pangkep ’99.  Makassar: Universitas Hasanuddin.
Penulis: Kamajaya Shagir dan Tim Inventarisasi dan Pemetaan Sebaran Gua Alam TN. BABUL Tahun 2010, Balai TN. Bantimurung Bulusaraung.