image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Berita

Taktik Laba-laba Cegah Kerusakan Jaring

Laba-laba dengan jaringnya yang unik/miamieverydayphoto

KOMPAS.com - Seabad yang lalu, ilmuwan pertama kali menemukan bahwa laba-laba orb weaving (famili Araneidae) menghias jaringnya. Lama setelah penemuan itu, ilmuwan berdebat tentang apa maksud pembuatan dekorasi itu, apakah sekedar untuk keindahan ataukah memiliki maksud lain.

Peneliti Departemen Zoologi Universitas Melbourne, Dr Andre Walter dan Professor Mark Elgar, berhasil menjawab pertanyaan itu dengan hasil risetnya. Menurut mereka, laba-laba membuat dekorasi berpola saling silang itu untuk mencegah kerusakan jaring-jaringnya.

Elgar mengatakan, kerusakan jaring-jaring sangat mahal "biayanya" bagi laba-laba sebab membutuhkan nutrisi dan energi yang tak sedikit untuk membangunnya lagi. "Jadi mereka berevolusi mengembangkan taktik jitu untuk meminimalisir kerusakan," ungkap Elgar.

Untuk menemukan jawaban ini, dua orang peneliti itu mengumpulkan laba-laba orb weaving dan membiarkannya membangun jaring-jaring di laboratorium. Keduanya lalu meneliti respon laba-laba ketika jaringnya rusak parah, rusak ringan dan tak mengalami kerusakan.

"Fakta bahwa laba-laba meningkatkan aktivitas dekorasi pada jaring rusak parah dan tak meningkatkannya pada jaring rusak ringan menunjukkan bahwa pola silang yang mencolok berfungsi membuat jaring-jaring lebih visible bagi hewan lain yang melewatinya atau terbang di atasnya," kata Elgar.

"Studi yang kami lakukan membantu menjawab misteri yang ada kini," tambah Elgar. Penelitian Elgar dan Walter dipublikasikan di jurnal Behavioural Ecology and Sociobiology yang terbit baru-baru ini. Sumber: SCIENCEDAILY. Yunanto Wiji Utomo | A. Wisnubrata (Sumber: www.kompas.com)