image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Berita

Cacing Baru Hidup di Kedalaman 900 Meter

Cacing Halicephalobus mephisto

KOMPAS.com — Tullis Onstott, ilmuwan dari Princeton University, bersama rekannya dari Afrika Selatan, Belgia, dan Belanda menemukan spesies cacing baru yang disebut Halicephalobus mephisto. Ilmuwan menemukan cacing ini hidup di kedalaman 900-3.600 meter di lapisan air bawah tanah pada sebuah lokasi penambangan emas di Afrika Selatan.

Onstott mengaku terkejut dan tak menyangka menemukan cacing di kedalaman tersebut. "Menakutkan setengah mati ketika pertama kali melihat cacing itu bergerak. Cacing itu terlihat seperti benda hitam kecil yang bergerak berputar-putar," ungkap Onstott seperti dikutip Dailymail, Kamis (2/6/11).

Sebelumnya, banyak ilmuwan mengira bahwa hanya mikroorganisme yang mampu hidup pada kedalaman tersebut. Sebabnya, oksigen dan nutrisi yang terbatas serta temperatur yang ekstrem. Namun, dengan penemuan ini, Onstott membuktikan bahwa organisme multiselular pun bisa hidup di lingkungan itu.

Dalam publikasinya di jurnal Nature, Rabu (1/6/11), Onstott menguraikan bahwa Halicephalobus mephisto masuk dalam filum Nematoda. Ia memiliki ukuran kecil, sekitar 0,55 mm serta bisa menoleransi temperatur hingga lebih dari 48 derajat celsius. Cara bereproduksi ialah secara aseksual (tanpa kawin) dan memilih makanan bakteri di bawah permukaan tanah.

Analisa karbon menunjukkan bahwa air pada lapisan tempat spesies cacing itu ditemukan berusia 3.000-12.000 tahun.  Dipercaya bahwa spesies cacing itu mulanya hidup di permukaan, namun dibawa ke lapisan bawah oleh air hujan masa lalu. Cacing ini mirip dengan cacing yang membusukkan buah dan mungkin memiliki kekerabatan dengannya.

Penemuan ini bisa menunjukkan bahwa lingkungan bawah tanah ternyata lebih kompleks dari yang diduga. Penemuan makhluk multiselular ini juga memberi implikasi penting bagi pencarian makhluk hidup bawah tanah di planet lain di Tata Surya. Selain menemukan Halicephalobus mephisto, Onstott dan rekannya juga menemukan cacing lain, di antaranya Plectus aquatilis. Sumber: Nature, Daily Mail. Yunanto Wiji Utomo | A. Wisnubrata (Sumber: www.kompas.com).