image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Berita

Wartawan se Sulawesi Kunjungi Hutan Karaenta

Macaca maura

MAROS, FAJAR -- Puluhan wartawan dari berbagai media cetak, elektronik dan online se Sulawesi mengunjungi kawasan hutan lindung Karaenta di Kabupaten Maros, Selasa 5 Juli.

Di kawasan ini, para wartawan yang didampingi staf Balai Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, diajak melihat beberapa spesies tanaman serta fauna yang menghuni kawasan hutan yang membentang hingga ke Kabupaten Pangkep ini.

Selain kawasan Karaenta, kegiatan dalam rangka pengenalan lingkungan kepada media yang dilaksanakan Lembaga Studi Informasi dan Media Massa (eLSIM) bekerjasama dengan WWF ini, peserta juga diajak melihat tempat penangkaran kupu-kupu yang berada dalam areal Taman Nasional Bantimurung. 

Setidaknya, ada sekitar 150 spesies kupu-kupu dari berbagai jenis yang diperkenalkan kepada wartawan, mulai yang masuk kelas dilindungi maupun tidak.

Menurut Agus Budiono, Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, kekayaan alam kawasan ini sudah dikenal dunia sejak tahun 1800-an. Baik kartsnya maupun keberadaan ratusan jenis kupu-kupunya.

"Namun berdasarkan temuan Wallacea, setidaknya pernah ditemukan sekitar 257 jenis kupu-kupu di kawasan ini. Nah, itu yang sementara kami buktikan. Hingga tahun ini, sudah ada sekitar 200 jenis kupu-kupu yang berhasil kita inventarisir," kata Agus.

Adapun kegiatan Jurnalis Roundtable in Sulawesi ini, digelar sebagai upaya memperdalam pemahaman media dalam hal pelestarian lingkungan. (sms). (Sumber : www.fajar.co.id)