image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Artikel

Desa Mandiri Energi

Peresmian Desa Mandiri Energi oleh Menteri Kehutanan RI Bapak Zulkifli Hasan pada tanggal 6 Desember 2009.

Indonesia kaya akan sumber-sumber energi alamnya dan tersebar di lautan hingga daratan. Namun pemanfaatan sumber-sumber energi di Indonesia belum optimal. Pemanfaatan energi belum bervariasi, saat ini energi yang digunakan dalam kehidupan masyarakat Indonesia hanya terpaku pada energi yang berasal dari fossil yaitu bahan bakar minyak (BBM).  Padahal telah diperkirakan persediaan bahan bakar minyak telah menipis.  Pada suatu saat nanti bahan bakar ini benar-benar tidak ada dari dalam bumi.  Sementara untuk mendapatkan penggantinya tidaklah mudah dan instan. Maka perlu adanya alternatif untuk mendapatkan energi baru pengganti bahan bakar minyak. Salah satu energi yang dapat dimanfaatkan adalah energi biomassa.

Biomassa merupakan segala jenis sumber yang berasal dari bahan biologis yang masih hidup ataupun sudah mati yang dapat digunakan sebagai bahan bakar atau untuk produksi industrial. Biomassa biasanya merujuk pada tumbuhan dan hewan yang digunakan untuk produksi serta, bahan kimia atau panas. Namun biomassa tidak termasuk pada sumber-sumber bahan energi yang berasal dari hewan yang telah mengalami transformasi menjadi batu bara atau minyak bumi. Biomassa yang digunakan dalam pembahasan ini dapat berasal dari berbagai jenis tumbuhan seperti tanaman jarak pagar, tanaman nyamplung, kelapa sawit, kelapa, jarak pagar, kemiri sunan, tebu, ubi kayu, sorghum, jagung, ubi jalar, aren, sagu.  Pemanfaatan tanaman sebagai alternatif sumber energi ini dikenal sebagai bahan bakar nabati (BBN).

Berbagai jenis biomassa ini sangat potensial dalam perkembangan pemanfaatan energi untuk kehidupan sehari-hari. Sementara itu pemanfaatan sumber-sumber energi tersebut haruslah didukung dengan kebijakan-kebijakan yang berpihak sehingga pengolahannya dapat dengan mudah diaplikasikan dan hasil produksinya dapat dirasakan oleh masyarakat luas.  Salah satu bentuk pemanfaatan potensi-potensi tanaman sebagai sumber-sumber energy ini adalah dengan kebijakan pembentukan Desa Mandiri Energi. Oleh karena itu perlu dipahami apa dan bagaimana Desa Mandiri Nergi tersebut.

Maksud dari penulisan ini adalah memberikan data dan informasi sehubungan dengan pemanfaatan potensi tanaman yang ada di Indonesia yang dikaitkan dengan pembentukan DME sebagai motor penggerak pemanfaatan potensi tanaman-tanaman tersebut. Tujuannya adalah untuk mempersiapkan masyarakat agar tidak bergantung pada energi/bahan bakar yang berasal dari fosil (selama ini dikenal sebagai bahan bakar minyak/BBM) sebagai bahan energi kehidupan/perekonomian.

PENGEMBANGAN DESA MANDIRI ENERGI

Pengembangan DME ini berlandaskan pada :

  1. PERPRES No. 5/2006: Kebijakan Energi Nasional : Penyediaan biofuel  minimal 5% pada tahun 2025.
  2. Inpres Nomor 1 Tahun 2006 : Inpres Nomor 1 Tahun 2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (Biofuel) sebagai Bahan Bakar Lain.
  3. Kepres No. 10 Tahun 2006 : tentang Pembentukan Tim Nasional Pengembangan BBN untuk Percepatan Pengurangan Kemiskinan dan Pengangguran.
  4. Peraturan Pemerintah Energi dan Sumber Daya Mineral No. 32 Tahun 2008 : tentang Penyediaan, Pemanfaatan dan Tata Niaga Bahan Bakar Nabati (Biofuel) sebagai bahan bakar lain.

 

Berdasarkan pada dasar-dasar pengembagan DME tersebut dan sebagimana uraian dalam pendahuluan, maka Pemahaman Desa Mandiri Energi dalam pemanfaatan energi berbasis bahan bakar nabati, yaitu

  1. Untuk mencukupi kebutuhan energi maupun peluang pengembangan kegiatan produktif di desa/wilayah bersangkutan.
  2. Memanfaatkan potensi tanaman yang bisa diolah menjadi bahan bakar untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, industri kecil, petani, nelayan dan transportasi local.
  3. Meningkatkan kesejahteraan rakyat.
  4. Membuka lapangan kerja baru (pengambil biji, pengepul dan pengolah) Meningkatkan pasokan energi baru untuk masyarakat.
  5. Meragamkan Kebutuhan Energi untuk Masyarakat.
  6. Meningkatkan produktivitas ekonomi masyarakat.
  7. Membantu pengentasan kemiskinan dan peningkatan daya beli masyarakat.

 

Sehubungan dengan ketersediaan tanaman sebagai sumber energi yang lebih banyak dan mudah dijumpai di pedesaan dibandingkan pada daerah perkotaan dan sesuai arah kebijakan pemerintah, untuk itu tahap awal perkembangan pemanfaatan tanaman ini sebagai alternatif sumber energi, ditempuh melalui konsep Desa Mandiri Energi (DME)sperti yang diuraikan di atas.

Desa Mandiri Energi merupakan desa yang dipersiapkan untuk memiliki bahan bakar dari unsur nabati yang digunakan sebagai energi untuk menggerakkan roda perekonomian khususnya di dalam desa tersebut.  Menurut Pusat Inovasi LIPI : DME adalah desa yang masyarakatnya memiliki kemampuan memenuhi lebih dari 60% kebutuhan energinya (energi listrik dan bahan bakar dari energi yang terbaharukan) yang dihasilkan dari potensi sumberdaya setempat.

Pemanfaatan potensi tanaman yang bisa diolah menjadi bahan bakar untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, industri kecil, petani, nelayan dan transportasi lokal ini dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat selain itu juga dapat membuka lapangan kerja baru (pengambil biji, pengepul dan pengolah).

Saat ini pengembangan Desa Mandiri energi baru pada pengembangan tanaman yang menghasilkan bahan bakar nabati seperti :

  • Kelapa sawit, kelapa, jarak pagar, kemiri sunan, nyamplung sebagai Penghasil biodiesel untuk substitusi solar dan minyak bakar.
  • Tebu, ubi kayu, sorghum, jagung, ubi jalar, aren, sagu sebagai penghasil bioethanol untuk substitusi premium.

Penandatanganan oleh Menteri Kehutanan RI Bapak Zulkifli Hasan pada tanggal 6 Desember 2009.

Pengembangan DME Melalui Budi Daya Jarak Pagar

Penanaman jarak pagar dilakukan pada lahan kritis, dengan tujuan untuk:

  1. Peningkatan Pendapatan
  2. Penghijauan-Kesuburan tanah
  3. Pola Usaha Penanaman : Sebagai Usaha Sampingan
  4. Tidak mempengaruhi  usaha utama yang berjalan (pertanian/peternakan)
  5. Lokasi-Penanaman : 1. Lahan galengan sawah; 2. Tanggul/Bantaran Sawah; 3. Pagar rumah; 4. Tepian jalan desa/Jalan KA; 5. Lahan Kritis & Marginal
  6. Pengembangan Penanaman : 1. Pendekatan kelompok tani; 2. Sosialisasi dari instansi terkait; 3. Pelatihan langsung.

 

Penyediaan BBN dari Jarak Pagar :

  • Pengembangan jarak pagar dilakukan dengan prinsip kehati-hatian  -> kesiapan bahan tanaman anjuran, teknologi pengembangan, kepastian pemanfaatan dan pemasarannya.
  • Departemen Pertanian melalui Puslitbangbun telah dan sedang menyiapkan benih jarak pagar unggul terseleksi -> bahan tanaman terseleksi ini dapat dikembangkan dengan berbagai teknik perbanyakan (benih, stek, kultur jaringan dll).
  • Wilayah pengembangan utamanya di KTI dan wilayah lain yang secara agroklimat sesuai.
  • Penyuluhan kepada masyarakat  -> teknologi, pengolahan dan pemanfaatan
  • Pengembangan tanaman jarak pagar pada lahan tidur yang sesuai agroklimatnya dan secara tumpang sari.
  • Penyediaan dan sosialisasi alat pengolahan jarak pagar skala rumah tangga (alat pengepres, kompor, penerangan)  -> pertanaman dan CJCO oleh petani, biodiesel plant oleh investor bermitra dengan petani/kelompok/koperasi.

Pengembangan Jarak Pagar Tahun 2010 :

Saat ini tanaman Jarak pagar sebagai pengembangan bahan bakar nabati dikembangkan pada sebagian besar propinsi di Indonesia, untuk propinsi Sulawesi Selatan dikembangkan di Kabupaten Luwu dengan volume pengukuhan tanaman seluas 20 Ha dan bantuan kompor sebanyak 80 unit.

Sedangkan Lokasi Desa Mandiri Energi di Propinsi Sulawesi Selatan berada di Kabupaten Maros dan Kabupaten Luwu.  Dalam pengembangan Jarak pagar pada Desa Mandiri Energi didapatkan beberapa hal manyangkut permasalahan dari tanaman tersebut maupun kelembagaan Desa Mandiri serta dukungan-dukungan pelaksanaannya.

Untuk dapat memberdayakan petani melalui Desa Mandiri Energi dan mendapatkan banyak manfaat seperti yang telah diuraikan dalam keunggulan jarak pagar, maka tanaman jarak pagar harus dapat dikembangkan sampai pada level pengembangan turunannya.  Turunan-turunan jarak pagar ini telah terbukti memiliki banyak manfaat dan memiliki variasi produk- produk turunan berkualitas antara lain :

  1. MINYAK JARAK PAGAR MURNI. Minyak Nabati ramah lingkungan, menghasilkan Energi Panas tinggi dari BBN (BAHAN BAKAR NABATI), dapat digunakan sebagai bahan Produksi Sabun Perawatan dan Industri Bio Pharrmasi berkualitas lainnya,
  2. MINYAK BIO FUEL- KEROSIN ,  PENGGANTI MINYAK TANAH. Bahan Bakar Nabati pengganti BBM (Minyak Tanah), ramah lingkungan dengan Kalori Energi lebih besar dibanding Energi dari BBM (Minyak Tanah).
  3. MINYAK BIO DIESEL PENGGANTI SOLAR. Bahan Bakar Diesel Nabati pengganti BBM (Solar), ramah lingkungan, Emisi Gas Buang lebih kecil dan Kalori Energi lebih besar . Dibanding Energi dari BBM (Solar).
  4. MAKANAN HEWAN MEMAMAH BIAK. Makanan Ternak berkualitas dengan kandungan gizi tinggi dan lebih dapat disesuaikan pada kebutuhan kandungan Hewan Pemamah Biak, dengan bahan baku yang mudah dan murah didapatkan pada Daerah Industri Bio Diesel di Kabupaten – Kabupaten.
  5. MAKANAN HEWAN UNGGAS. Makanan Ternak berkualitas dengan kandungan gizi tinggi dan lebih mudah  disesuaikan pada kebutuhan kandungan Hewan Unggas, dengan bahan baku mudah dan murah didapatkan.
  6. MAKANAN IKAN-UDANG AIR TAWAR & PAYAU. Makanan Ternak berkualitas dengan kandungan gizi tinggi dan lebih dapat sesuaikan pada kebutuhan kandungan untuk Hewan Ikan dan Udang, dengan bahan baku yang mudah dan murah didapatkan.
  7. MINYAK GOSOK REMATIK & MINYAK LULUR. Obat-obatan Alami  jenis Herbal. Baik untuk proses penyembuhan dan perawatan kesehatan Tulang dan Kulit khususnya.
  8. SABUN PERWATAN ANTI SEPTIK & HERBAL.  Sabun untuk konsumsi Rakyat ataupun Perawatan Berkualitas, penuh manfaat untuk Kesehatan. Sehubungan dengan bahan baku dari minyak Jarak Pagar didalamnya.
  9. BIO PESTISIDA LIMBAH JARAK PAGAR..  Bahan Pestisida Herbal  yang berkhasiat tinggi . Mudah terurai di Lahan dan Air. Mudah dan Murah untuk didapat dari Pemberdayaan Limbah . Menguntungkan dalam proses mendukung Pertumbuhan  Pertanian dan Perekonomian Pedesaan.
  10. GLYCERIN BAHAN KOSMETIK.  Bahan dasar produksi Kosmetik Herbal yang banyak diperlukan Industri Kosmetik. Tersedia dengan murah dan mudah didapat. Melalui hasil produk sampingan Industri Bio Diesel.
  11. TUMPANG SARI PERKEBUNANNYA ; RUMPUT, PORANG, ROSELA DAN PALAWIJA.  Tumbuhan yang bersifat Simbiose Mutualistis. Mempunyai nilai tambah ekonomi tinggi dipasaran, sehingga dapat mendukung Pertumbuhan  Ekonomi Pedesaan.
  12. HASIL BUDI DAYA HEWAN MEMAMAH BIAK.  Masa Panen Hewan Memamah Biak menjadi lebih Singkat  dan Mudah, Produk yang berkualitas, sangat diminatI Pasar .Membantu  dalam perkembangan Ekonomi Pedesaan.
  13. HASIL BUDI DAYA HEWAN UNGGAS.  Masa Panen Hewan Unggas menjadi lebih Singkat  dan Mudah, Produk yang berkualitas, sangat diminati Pasar. Membantu  dalam perkembangan Ekonimi Pedesaan.
  14. HASIL BUDI DAYA HEWAN IKAN & UDANG.  Masa Panen Hewan Ikan dan Udang   menjadi lebih Singkat  dan Mudah, Produk yang berkualitas sangat diminati Pasar.  Membantu dalam perkembangan Ekonimi Pedesaan.

Kebun jarak pagar di masyarakat Kab. Maros.

Keunggulan Jarak Pagar :

  1. Banyak manfaatnya : sebagai obat tradisional, bahan bakar memasak, penerangan, biodiesel, dll
  2. Tidak bersaing dengan kebutuhan pangan
  3. Dapat berfungsi sebagai pagar sekaligus tanaman penghijauan
  4. Dapat diusahakan hingga 30 tahun
  5. Pengolahan hasil biji dapat dilakukan mulai skala rumah tangga hingga industry

 

Kelemahan Jarak Pagar :

  1. Untuk dikembangkan oleh petani, belum tersedia bahan tanaman yang “memberikan keuntungan” seperti yang diharapkan (tingkat produktivitas dirasa masih kurang menguntungkan)
  2. Untuk dapat berproduksi optimal, membutuhkan pemeliharaan yang “tidak murah dan sederhana

 

PENUTUP

1. Kesimpulan :

Pemanfaatan tanaman sangat mungkin dimanfaatkan untuk kebutuhan energi baik untuk kebutuhan rumah tangga ataupun untuk transportasi;

2. Saran :

  1. Program Nasional DME perlu dukungan di tingkat pemerintahan pusat, khusunya kementerian yang relevan dengan program ini (Kementrian Pertanian, ESDM, Kehutanan, dan lainnya).
  2. Mengusulkan agar program pengembangan BBN menjadi program pengembangan Bahan Bakar unggulan, bukan alternative.
  3. Pembagian peran antar Kementerian yang menuju sinergitas perlu diatur oleh Kementerian koordinator.
  4. Diperlukan Subsidi untuk menekan ongkos produksi sehingga mendorong usaha BBN.

 

DAFTAR PUSTAKA

Deputi Bidang Peningkatan Infrastruktur Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal Republik Indonesia.  2010.  DESA MANDIRI ENERGI (DME) dalam Perspektif Daerah Tertinggal.  Makalah. Pada Rakornas Desa Mandiri Energi pada 6 – 7 Mei 2010.

Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian.  2010.  STRATEGI PENGEMBANGAN JARAK PAGAR UNTUK BAHAN BAKAR NABATI (BBN).  Makalah. Pada Rakornas Desa Mandiri Energi pada 6 – 7 Maei 2010.

Kapala badan Litbang Kehutanan.  2010.  PERKEMBANGAN DAN PERMASALAHAN DALAM PENGEMBANGAN DME BERBASIS HUTAN TANAMAN NYAMPLUNG.  Makalah. Pada Rakornas Desa Mandiri Energi pada 6 – 7 Mei 2010.

www. Pusat Inovasi LIPI .co.id. 2010. Pengertian Desa mandiri Energi.

Oleh: SITI MARYAM, PEH MUDA Balai TN. BABUL.