image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Berita

Tikus Berjambul Membunuh dengan Racun

Lophiomys imhausi/Kevin Deacon.

Tikus berjambul dari Afrika menggunakan sebuah racun tanaman untuk melumpuhkan, bahkan membunuh, predator yang ingin menyantapnya. Racun tersebut sama dengan racun yang digunakan suku pedalaman Afrika pada anak panah.

“Ini merupakan mamalia pertama yang ditemukan mengambil racun mematikan dari tumbuhan dan mengolesi ke tubuh tanpa membahayakan dirinya sendiri,” kata Jonathan Kingdon, peneliti dari Oxford University, Inggris, tentang tikus bernama latin Lophiomys imhausi tersebut.

Kingdon menambahkan bahwa racun itu sebenarnya tidak untuk membunuh. “Tujuan sebenarnya adalah agar pemangsa pergi lalu pulih dari racun dan kapok sehingga tidak akan mendekat lagi,” ucapnya. Sebagai contoh, Kingdon menggunakan anjing dalam percobaan. Saat berjumpa dengan tikus berjambul, anjing yang pernah mencoba memakannya gemetar ketakutan dan tidak mau mendekati tikus yang tampak lugu itu.

Untuk mengetahui rahasia racun, Kingdon dan rekan-rekan mengamati tikus berjambil di alam bebas. Mereka mengambil rambut yang tumbuh di punggung hewan. Peneliti juga membandingkan bahan-bahan kimia di rambut dengan Acokanthera schimperi, tanaman yang biasa dikunyah tikus.

Ternyata, agar bulunya beracun, tikus berukuran rata-rata 36 sentimeter itu mengunyah kulit pohon A. schimperi lalu menjilati dirinya sendiri agar racun yang terkumpul di ludahnya menempel di rambut. Perilaku ini sudah tertanam di otak, sama seperti perilaku burung yang membuang bulunya yang lepas atau kucing yang mandi dengan menjilati tubuhnya.

Rambut pada tikus itu sendiri memiliki struktur khusus yang mampu menyerap racun. Lapisan luar rambut itu penuh dengan lubang besar dan di dalamnya banyak serat yang mampu mengikat cairan. “Sepanjang ilmu pengetahuan, tidak ada rambut lain yang memiliki struktur seperti milik hewan ini,” kata Kingdon.

Tidak diketahui mengapa tikus itu tidak mati karena mengunyah racun dari tanaman tersebut. “Tikus itu harusnya langsung mati setiap kali mereka mengunyah kulit A. schimperi, tetapi ternyata tidak,” kata Kingdon.

Para peneliti menyebutkan bahwa mempelajari racun yang dikunyah tikus itu mungkin dapat membantu pengobatan pada manusia. Sebelumnya, bahan kimia serupa, disebut digitoxin, telah digunakan sebagai pengobatan untuk kegagalan jantung. Penelitian ini sendiri dipublikasikan di jurnal Proceedings of the Royal Society B: Biological Sciences. (Sumber: Livescience). Oleh Abiyu Pradipa (Sumber: www.nationalgeographic.co.id)