image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Berita

Dilarang Menanam Sembarang Pohon

Ilustrasi Penanaman Pohon (Istimewa)

JAKARTA, KOMPAs.com- Meski bertujuan baik, yaitu menghijaukan kawasan demi menambah paru-paru dunia, penanaman pohon di kawasan taman nasional dilarang. Penanaman hanya diperbolehkan untuk jenis tanaman yang sesuai atau endemik wilayah itu.

Menteri Kehutanan Zulfikli Hasan, Selasa (9/8/2011), di Jakarta, mengatakan, penanaman pohon yang sembarangan di kawasan konservasi, termasuk taman nasional, bisa berimplikasi pada pelanggaran hukum. "Jadi saya 'bertengkar' dengan Pak Darori (Dirjen Perlindungan Hutan dan Kawasan Alam) karena tidak boleh menanam di taman nasional. Melanggar undang-undang," katanya saat membuka Diskusi Panel Menyongsong Peningkatan Gerakan Indonesia Menanam Pohon di Ruang Sonokeling, Kementerian Kehutanan.

Zulkifli memiliki ide agar penanaman pohon tampak nyata dan bisa dilihat semua orang. Karena itu, ia ingin penanaman difokuskan pada daerah konservasi yang terdegradasi.

Dicontohkan, penanaman 100 ribu pohon di Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Jawa Barat atau TN Way Kambas Lampung. Pasalnya, saat ini penanaman dilakukan sedikit-sedikit secara terpisah-pisah di seluruh daerah. "Kalau sedikit-sedikit dan menyebar daerahnya, tidak kelihatan. Padahal saya inginnya penanaman itu kelihatan dampak dan hasilnya secara jelas," ucap Zulkifli.

Karena itu, ia berharap diskusi yang diikuti lintas sektor itu bisa memberikan solusi untuk memungkinkan penanaman di kawasan taman nasional. "Tolonglah kami, Kementerian Kehutanan, supaya penanaman pohon tidak hanya gerakan simbolik atau pencitraan, tapi benar-benar kita ingin perbaiki hutan kita," tutur politisi dari partai PAN itu.

Zulkifli menegaskan, penanaman pohon telah berlangsung sejak lama. Karena itu, gerakan ini dilakukan bukan karena desakan asing atau perjanjian letter of intent dengan Norwegia dalam pengurangan emisi. Budaya Menhut Zulkifli pun memuji perilaku dan budaya masyarakat di Jawa yang rajin menanam pohon.

Ia mencontohkan di daerah Pacitan yang berupa batu-batu kapur mampu dihijaukan dengan pohon jati. Pasir besi hitam di Kebumen, bisa ditanami Cemara Laut. "Di Malang, di perhutani, pohon mahoninya gede-gede. Di bawah pohon ada tanaman kopi, bernuah lagi," ucapnya.

Ia berharap budaya ini juga ditularkan kepada masyarakat di luar jawa. Jika ini berhasil, ia yakin dalam waktu 15 tahun hutan-hutan terdegradasi Indonesia telah berubah menjadi lebat. Ichwan Susanto | Marcus Suprihadi (Sumber: www.kompas.com)