image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Berita

Demi Lindungi Diri, Kupu-kupu 'Ganti Baju'

Kupu-kupu/nytimes.com.

INILAH.COM, Jakarta - Kupu-kupu Brazil dapat mengubah sayapnya jadi tujuh pola berbeda. Ini untuk melindung diri dari burung.

Kupu-kupu Brazil, Heliconius numata, secara genetik mampu mengubah-ubah pola pada sayapnya menjadi tujuh pola berbeda. Bagaimana mereka melakukannya?

Diberitakan New York Times, perilaku meniru pola sayap dilakukan kupu-kupu untuk melindungi diri mereka dari ancaman. Pola yang ditiru Heliconius numata adalah pola sayap kupu-kupu Melinaea, yang dikenal mengandung racun alkaloid pirrolizidin yang ditakuti burung. Burung tidak akan memakan kupu-kupu beracun, jadi Heliconius numata menirunya.

Tapi penyamaran ini tidak dilakukan dengan mudah. Perubahan pola sayap menjadikan mereka kupu-kupu beracun, yakni dengan menyerap racun sianogenik glikosida dari tanaman yang mereka makan.

Ahli biologi Prancis dan Inggris, yang dipimpin Mathieu Joron dari National Museum of Natural History di Paris, mengatakan bahwa kupu-kupu ini dapat menciptakan tuiuh pola berbeda karena mereka memiliki rangkaian 18 gen pengatur pola sayap, yang susunannya acak.

Lalu jika cara penyamarannya sama, mengapa Heliconius yang menjadi peniru, sementara Melinaea jadi modelnya? Kenapa tidak berlaku sebaliknya?

Untuk pertanyaan itu, peneliti belum menemukan jawabannya. [mor] (Sumber: www.inilah.com)