image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Berita

NTT Pasrah Komodo Ditarik dari Finalis New7Wonders

Antara/Fanny Octavianus/vg

KUPANG--MICOM: Pemerintah dan Masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) pasrah terhadap keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik yang menarik Taman Nasional Komodo dari finalis tujuh keajaiban dunia (New7Wonders).

Kepala Bidang Promosi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTT Ubaldus Gogi mengatakan keputusan tersebut telah diperhitungkan secara matang sehingga tidak perlu disesali.

"Kita ambil hal positifnya saja karena pasti sudah dipertimbangkan secara baik," kata Ubaldus di Kupang, Rabu (17/8).

Akan tetapi menurut Dia, arus kunjungan wisatawan ke Komodo tidak akan menurun, apalagi berhenti sama sekali. Pasalnya komodo sudah dikenal luas di seluruh dunia.

Terkait keputusan itu, pemerintah NTT langsung menghentikan kampanye vote komodo yang saat ini berlangsung di arena pameran pembangunan di Kupang.

Di lokasi itu, pemerintah daerah menyiapkan lokasi khusus bersama perangkat komputer dan internet untuk memberikan kesempatan kepada warga yang akan memberikan dukungan kepada komodo.

Seperti diketahui, pemerintah menarik mundur komodo dari finalis tujuh keajaiban alam baru atau "New Seven Wonders of Nature" (N7WN) karena keputusan yang diambil penyelenggara kampanye New7Wonders (N7W) Foundation dinilai tidak profesional, tidak konsisten, dan tidak transparan.

Yayasan itu pada awal Desember 2010 menyatakan setuju Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggaraan deklarasi 7 keajaiban dunia alam.Namun, mereka mensyaratkan pemerintah membayar license fee sebagai tuan rumah penyelenggaraan deklarasi sebesar US$ 10 juta atau menyiapkan US$35 juta sebagai biaya penyelenggaraan acara deklarasi. Syarat itu yang kemudian ditolak oleh pemerintah. (PO/X-12) Palce Amalo (Sumber: www.mediaindonesia.com)