image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Artikel

Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung “The Kingdom of Butterfly ???”

Graphium androcles/ Zdenek Hanc.

Alfred Russel Wallace, adalah naturalis berkebangsaan Inggris yang pernah menjelajah Kepulauan Indo-Malaya dari tahun 1856 sampai dengan 1862. Wallace melakukan ekplorasi flora dan fauna di kawasan Bantimurung dari tanggal 11 Juli 1857 sampai dengan awal Nopember 1857 dan berhasil mengumpulkan cukup banyak koleksi speciemen di wilayah Maros. Ia kemudian menuliskan dan menerbitkan jurnal perjalanan selama enam tahunnya ke Kepulauan Indo-Malaya yang berjudul “The Malay Archipelago”. Sejak itu pula lah keanekaragaman hayati kawasan Indo-Malaya terutama kawasan Sulawesi dan pulau-pulau satelitnya mulai dikenal oleh para naturalis, ilmuan serta masyarakat di kawasan Eropa bahkan mungkin ke seluruh dunia.

Deskripsi kawasan Karst Maros-Pangkep dan keanekaragaman faunanya dianggap sudah cukup lengkap pada saat itu, dan Wallace sendiri memberikan julukan “The Kingdom of Butterfly” untuk kawasan Bantimurung dan sekitarnya karena kekayaan jenis kupu-kupu pada kawasan tersebut. Dalam bukunya, Wallace menggambarkan betapa menakjubkannya fenomena ratusan kupu-kupu, terutama Graphium androcles, beterbangan liar di sekitar pantai berpasir pada sisi kolam di atas air terjun Bantimurung (mungkin tempat yang oleh masyarakat sekarang disebut Kassi Kebo). Formasi ratusan Kupu-kupu ini membentuk awan beraneka warna.

Deskripsi Wallace dalam laporannya seakan membuka jendela dunia dengan menunjukkan betapa kayanya Bantimurung dengan keanekaragaman jenis kupu-kupunya. Pada masa penjajahan Belanda, Kawasan Bantimurung pun kemudian dijadikan sebagai kawasan konservasi berdasarkan Guvernements Besluits tanggal 12-2-1919 No. 6 Staatblad No. 90 dengan luas 18 Ha. Ketika Indonesia Merdeka, Pemerintah Indonesia menunjuk kawasan tersebut sebagai Taman Wisata Alam Bantimurung berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 237/Kpts/Um/3/1981 tanggal 30 Maret 1981 dengan luas 118 Ha.

Seiring dengan perkembangannya, pada tanggal 18 Oktober 2004, Menteri Kehutanan menerbitkan Keputusan Nomor SK.398/Menhut-II/2004 tentang Perubahan Fungsi Kawasan Hutan pada Kelompok Hutan Bantimurung-Bulusaraung seluas ± 43.750 Ha terdiri dari Cagar Alam seluas ± 10.282,65 Ha, Taman Wisata Alam seluas ± 1.624,25 Ha, Hutan Lindung seluas ± 21.343,10 Ha, Hutan Produksi Terbatas seluas ± 145 Ha, dan Hutan Produksi Tetap seluas ± 10.335 Ha yang terletak di Kabupaten Maros dan Pangkep, Provinsi Sulawesi Selatan menjadi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Penujukan kawasan ini didasarkan atas keunikan fenomena karst dan keanekaragaman jenis flora dan fauna yang ada di dalam kawasan karst Maros-Pangkep, salah satu diantaranya adalah keanekeragaman jenis kupu-kupunya.

A. PENGELOLAAN KUPU-KUPU

Upaya-upaya konservasi keanekaragaman hayati di dalam kawasan masih dalam tahap pengumpulan dan pengolahan data, serta pemetaan sebaran habitatnya di dalam kawasan. Kajian lebih lanjut tentang bagaimana kondisi populasinya di dalam kawasan, daya dukung habitat terhadap kelangsungan populasi jenis tersebut, serta hal-hal lain yang terkait dengan konservasi keanekaragaman hayati sudah mulai dirintis untuk dilaksanakan. Pengelolaan keanekaragaman hayati secara bertahap mulai diarahkan pada perumusan strategi pengamanan populasi yang ada saat ini, penertiban pemanfaatan spesies, terutama jenis kupu-kupu, serta peluang pemanfaatan atraksi keanekaragaman hayati untuk ikut mendukung pengembangan pariwisata alam.

Dalam hal konservasi keanekaragaman jenis fauna TN Bantimurung Bulusaraung, kupu-kupu bisa dianggap sebagai focal species. Sejak kunjungan Wallace ke kawasan ini, kupu-kupu seakan menjadi ikon yang sangat identik dengan Bantimurung. Julukan “The Kingdom of Butterfly” sangat melekat di kawasan ini. Namun seiring waktu, banyak pihak telah menilai bahwa keanekaragaman kupu-kupu Bantimurung telah jauh berkurang. Hal ini merupakan tantangan besar bagi pengelolaan keanekaragaman hayati TN Bantimurung Bulusaraung.

Menjawab tantangan tersebut, sejak tahun 2005, ketika pengelolaan TN Bantimurung Bulusaraung masih berada di bawah kewenangan Balai KSDA Sulawesi Selatan I, telah dibangun penangkaran kupu-kupu walaupun dengan ukuran yang kurang representatif. Kegiatan pengelolaan yang dilaksanakan saat itu masih terbatas pada penyediaan pakan ulat hingga imago. Jenis yang ditangkarkan pun masih terbatas pada jenis Troides dan Papilio yang sudah diketahui jenis pakannya. Sebagian hasil penangkaran dikembalikan ke alam, kembali ditangkarkan serta dijadikan offsetan, namun bukan untuk tujuan komersial.

Mengingat kupu-kupu adalah ikon TN Bantimurung Bulusaraung, maka sudah seharusnya kupu-kupu menjadi salah satu fokus upaya konservasi spesies. Untuk keperluan konservasi keanekaragaman hayati tersebut, dilakukan lah upaya secara insitu dan eksitu yang lebih intensif. Upaya eksitu dilakukan untuk mendukung kegiatan insitu dengan disertai adanya intervensi perlakuan oleh manusia.

Upaya konservasi jenis kupu-kupu yang selama ini hanya dilakukan dalam bentuk penangkaran kecil, dipandang sudah sangat tidak representatif dalam rangka konservasi jenis tersebut. Pada tahun 2010, dilaksanakan lah pembangunan dan pengembangan penangkaran kupu-kupu TN Bantimurung Bulusaraung. Penangkaran ini selain ditujukan untuk pengawetan jenis kupu-kupu, juga arahkan untuk dikembangkan sebagai wahana rekreasi alam dan pendidikan. Untuk tujuan tersebut, mengingat letak penangkaran kupu-kupu yang dahulu cukup strategis, maka pembangunan dan pengembangan penangkaran pun dilaksanakan di lokasi yang sama. Pembangunan penangkaran ini dilengkapi dengan laboratorium, shelter, toilet, pagar dan gerbang masuk serta penataan lansekapnya. Diharapkan mulai tahun 2011, dapat diselenggarakan konservasi kupu-kupu yang lebih baik, sehingga pada 2 tahun ke depan telah dapat dikembangkan kegiatan wisata yang profesional berbasis kupu-kupu.

Seiring dengan pengambangan penangkaran kupu-kupu, konservasi kupu-kupu pun dilakukan melalui kegiatan identifikasi  jenis kupu-kupu dan pengamanan dan penertiban pemanfaatan spesies tersebut, mengingat masih maraknya aktivitas penjualan souvenir berbahan dasar kupu-kupu dan penangkapan kupu-kupu di sekitar kawasan.

Papilio blumei.

B. PEMANFAATAN KUPU-KUPU

Sejak diterbitkannya tulisan Wallace tentang penjelajahannya di Indonesia, kupu-kupu Indonesia banyak dicari/diburu orang asing, baik itu kolektor, peneliti yang ingin melengkapi biosistematikanya ataupun masyarakat umum yang mengagumi keindahan kupu-kupu untuk dijadikan hiasan dirumahnya. Peluang “pasar” ini tentu mendapat respon positif dari masyarakat di sekitar Bantimurung.

Sejak tahun 1970-an, kupu-kupu pun telah menjadi komoditi ekspor andalan dari wilayah Bantimurung dan sekitarnya. Tak hanya dijual ke luar negeri, di pasar lokal, kupu-kupu pun diolah menjadi beranekaragam souvenir, antara lain berupa specimen mentah, bingkai kupu-kupu, hingga gantungan kunci dan asesoris lainnya.

Hal ini sangat ditunjang oleh potensi wisata Bantimurung yang merupakan primadona wisata keluarga di Sulawesi Selatan. Sebagaimana dijelaskan di muka, kawasan wisata Bantimurung mulai diperkenalkan sejak kunjungan Wallace ke kawasan tersebut. Deskripsinya yang menggambarkan keindahan panorama alam, indahnya air terjun Bantimurung, dan yang utama adalah atraksi beraneka ragam jenis kupu-kupu bersayap indah, sedikit banyak telah mempromosikan potensi kawasan Bantimurung sebagai objek wisata yang menarik untuk dikunjungi. Sejak saat itu (1980-an), kunjungan ke Bantimurung terus meningkat, baik untuk wisata, penelitian, maupun koleksi spesimen kupu-kupu.

Tingkat kunjungan ke kawasan wisata ini pun kian lama kian meningkat seiring dengan animo dan kebutuhan masyarakat akan wisata alam. Hingga saat ini, tingkat kunjungan ke kawasan wisata ini rata-rata mencapai 600.000 orang per tahunnya. Bahkan pada tahun 2010, secara keseluruhan jumlah kunjungan ke TN Bantimurung Bulusaraung mencapai angka 619.862 kunjungan. Secara rinci tingkat kunjungan ke kawasan wisata Bantimurung dan TN Bantimurung Bulusaraung adalah sebagaimana dijabarkan dalam Tabel berikut ini.

Tabel 1. Kunjungan Wisata di Kawasan TN Bantimurung Bulusaraung 5 Tahun Terakhir.

Keterangan:

DN :  Wisatawan Dalam Negeri
LN :  Wisatawan Luar Negeri
Pengelolaan wisata Taman Wisata Pattunuang baru diberlakukan efektif seiring operasionalnya Balai TN Bantimurung Bulusaraung sejak tahun 2007.

 

Kegiatan wisata Bantimurung pun sejak awal tahun hingga akhir tahun 2010 telah mampu menyumbang PAD Kabupaten Maros sebesar  ±4,3 Milyar dan jumlah PNBP sebesar Rp. 1.242.180.000,-. Besarnya retribusi dan/atau tingkat PNBP dari kegiatan pemanfaatan jasa lingkungan dan wisata alam pada kawasan konservasi akan memberikan nilai tambah dan memperkuat posisi tawar (bargaining position) kawasan konservasi dalam pembangunan nasional.

Menilik hal tersebut, pengelolaan pemanfaatan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya sudah seharusnya bergeser dari pemanfaatan yang bersifat ekstraksi menuju pemanfaatan hayati dan eksositemnya sebagai atraksi wisata. Di Bantimurung, sumber daya alam hayati yang sudah lama dimanfaatkan adalah kupu-kupu. Pemanfaatan kupu-kupu ini dilakukan baik dengan pemanfaatan langsung (ekstraksi), maupun sebagai potensi atraksi satwa. Pemanfaatan jenis ini sangat erat kaitannya dengan pemanfaatan kawasan sebagai lokasi wisata keluarga. Kupu-kupu biasa menjadi souvenir khas Bantimurung. Yang menjadi masalah kemudian adalah kupu-kupu yang dimanfaatkan tersebut bukanlah hasil kegiatan penangkaran ataupun budidaya, tetapi merupakan hasil tangkapan di habita aslinya. Meskipun sebagian besar bukan berasal dari dalam kawasan TN Bantimurung Bulusaraung, namun tetap saja kegiatan pemanfaatan kupu-kupu ini perlu ditertibkan lebih lanjut.

Tak hanya dijual lokal, beberapa jenis kupu-kupu bahkan memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi dan dicari oleh para kolektor. Penggiat kolektor kupu-kupu yang paling banyak adalah berasal dari Jepang. Tidak hanya dengan mengkoleksi spesimen kupu-kupu, namun dengan mulai adanya kesadaran konservasi, para penghobi kupu-kupu pun mulai beralih mencoba menangkap kupu-kupu untuk kemudian mereka lepas kembali ke alam (catch and release). Mereka cukup puas dengan menikmati pengalaman menangkap beragam jenis kupu-kupu yang mereka impikan, tanpa harus mengkoleksinya.

Dengan berkembangnya animo baru di kalangan penghobi kupu-kupu, yang mayoritas berasal dari Jepang, maka sangat terbuka peluang dikembangkannya wisata minat khusus berbasis kupu-kupu. Sebagai modal dasar, sebaran beragam jenis kupu-kupu harus diidentifikasi dengan baik untuk memudahkan penentuan lokasi dimana kupu-kupu yang dimaksudkan berada.

Troides haliphron.

C. FAKTOR PENDUKUNG DAN KENDALA KONSERVASI

Penunjukan sebagian besar habitat kupu-kupu, termasuk kawasan Bantimurung dan sekitarnya menjadi kawasan konservasi TN Bantimurung Bulusaraung merupakan salah factor yang sangat mendukung bagi upaya konservasi kupu-kupu. Penunjukan kawasan ini memberikan perlindungan hukum pada habitat alami kupu-kupu. Perangkat peraturan pun turut mendukung upaya konservasi tersebut. Dalam Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: P. 57/Menhut-II/2008 tentang Arahan Strategis Konservasi Spesies Nasional 2008 – 2018, berbagai spesies kupu-kupu ditetapkan menjadi salah satu spesies prioritas untuk kelompok serangga.

Di sisi lain, perhatian masyarakat luas terhadap upaya konservasi kupu-kupu pun semakin lama kian signifikan, salah satunya ditengarai dari beragamnya topic penelitian tentang kupu-kupu. Pengetahuan masyarakat yang telah lama berkecimpung dalam dunia kupu-kupu pun memberikan peluang bagi pengelola kawasan untuk belajar dan bersama-sama berupaya mengembangkan konservasi dan pembudidayaan kupu-kupu.

Adapun kendala-kendala yang ada dalam pengembangan upaya konservasi spesies kupu-kupu antara lain adalah sebagai berikut:

1. Status konservasi kupu-kupu

Sebagian besar jenis kupu-kupu Bantimurung bukan merupakan jenis yang dilindungi. Dari ratusan jenis yang telah diketahui, hanya 4 jenis kupu-kupu Bantimurung yang telah secara resmi dilindungi oleh peraturan perundang-undangan di Indonesia. Hal ini tentu saja menjadi aspek legalitas usaha berbasis kupu-kupu, meskipun kupu-kupu tersebut ditangkap di alam, kecuali jika kupu-kupu tersebut ditangkap dari dalam kawasan TN Bantimurung Bulusaraung. Hal ini terkait dengan upaya konservasi keanekaragaman hayati dan ekosistem pada TN Bantimurung Bulusaraung yang dilakukan secara komprehensif dan menyeluruh.

2. Nilai Ekonomi kupu-kupu

Sejak Wallace melaporkan hasil penjelajahannya di Indo-Malaya, animo para kolektor serangga, khususnya kupu-kupu semakin meningkat. Hal ini membuka peluang alternatif matapencaharian bagi masyarakat lokal. Beberapa kupu-kupu bahkan memiliki nilai jual yang sangat tinggi. Nilainya bisa mencapai jutaan rupiah, apalagi jika kupu-kupu tersebut merupakan spesies baru, langka, dan/atau bahkan merupakan individu yang heteroseksual.

3. Mobilitas dan daya jelajah

Satwa cenderung memiliki daya jelajah dan mobilitas tinggi yang tidak dapat dibatasi oleh batas kawasan. Kupu-kupu misalnya. Kupu-kupu memiliki daya jelajah yang tinggi. Dia mampu terbang melintasi daratan ataupun lautan hingga bermili-mil jauhnya saat bermigrasi. Kawasan TN Bantimurung Bulusaraung sebagai habitat alami kupu-kupu memang telah ditunjuk sebagai kawasan konservasi, namun kupu-kupu seringkali terbang hingga keluar dari kawasan. Hal ini tentu saja menyulitkan dalam hal pengamanan dan perlindungannya.

4. Kualitas dan daya dukung habitat

Kupu-kupu sangat bergantung pada kualitas dan daya dukung habitatnya. Achmad (1998) telah meneliti secara khusus habitat dan pola sebaran kupu-kupu jenis komersil di hutan wisata Bantimurung selama satu tahun. Ia juga menginformasikan bahwa kupu-kupu Troides haliphron dan Papilio blumei adalah dua jenis endemik yang mempunyai sebaran yang sangat sempit, yakni hanya pada habitat berhutan di pinggiran sungai.

5. Jenis Pakan

Ketersediaan pakan merupakan salah satu syarat mutlak bagi kehidupan makhluk hidup. Untuk menunjang upaya konservasi kupu-kupu maka ketersediaan berbagai jenis pakan merupakan prasyarat penting. Hingga saat ini jenis-jenis pakan kupu-kupu yang ada pada TN Bantimurung Bulusaraung belum seluruhnya diketahui. Keterbatasan pengetahuan jenis pakan ini merupakan salah satu kendala dalam pengembangan konservasi dan pembudidayaan kupu-kupu pada TN Bantimurung Bulusaraung.

6. Ketergantungan masyarakat sekitar

Masyarakat, khususya sekitar Bantimurung memiliki sejarah pemanfaatan kupu-kupu yang cukup panjang. Sejak tahun 1970-an, aktovitas pemanfaatan kupu-kupu sudah mulai berkembang. Nilai ekonomi kupu-kupu pada saat itu sangat lah tinggi. Bahkan pemanfaatan kupu-kupu tersebut dapat menunjang perekonomian masyarakat yang sangat baik dan berkembang. Ketergantungan masyarakat ini masih berlangsung hingga saat ini, meskipun nilai ekonomi kupu-kupu tidak lagi setinggi dulu lagi.

D. STRATEGI KONSERVASI KUPU-KUPU

Deskripsi Wallace tentang keindahan dan kekayaan jenis kupu-kupu Bantimurung tak saja membawa dampak positif untuk perlindungan dan pengawetannya, namun terdapat ekses negatif yang mengancam eksistensi kupu-kupu pada habitat aslinya tersebut. Beberapa hasil penelitian melaporkan terjadinya fluktuasi kehadiran kupu-kupu Bantimurung yang diduga cenderung kian menurun populasinya.

Wallace melaporkan bahwa selama eksplorasinya (1957) telah menemukan 256 species Kupu-kupu dari kawasan Bantimurung. Berbeda dengan laporan tersebut, Mattimu (1977) melaporkan bahwa ada 103 jenis kupu-kupu yang ia temukan di hutan wisata Bantimurung, dengan jenis endemik antara lain adalah: Papilio blumei, P. polites, P. sataspes, Troides haliphron, T. helena, T. hypolitus, dan Graphium androcles.

Jika kita berkunjung ke Bantimurung ketempat Wallace pernah tinggal beberapa saat 150 tahun yang lalu, momen-momen indah tentang keindahan alam dan beratus kupu-kupu yang dapat ditemani bercanda sudah tidak bisa lagi dirasakan. Apa karena adanya perubahan alam yang bersifat alami atau karena campur tangan manusia?.

Pertanyaan ini sangat sulit dicari kebenarannya, setiap orang atau instansi yang terkait dengan keberadaan Bantimurung pasti punya jawabannya masing-masing, malah cuma akan mendatangkan polemik yang berkepanjangan dan tidak akan mendapatkan keuntungan buat keberadaan kupu-kupu itu sendiri.

Yang perlu kita tempuh sekarang ini adalah bagaimana berupaya mengembalikan keadaan alam dan kupu-kupu yang ada di kawasan Bantimurung bisa sedapat mungkin membuat perasaan kita mendekati perasaan Wallace seperti dulu dengan mengembalikan keadaan alam yang dapat mendukung keberadaan kupu-kupu supaya dapat lestari serta yang tak kalah penting adalah bagaimana potensi kupu-kupu tetap menjadi sumber pendapatan buat masyarakat sekitar tanpa mengganggu kelestariannya?

Papilio polytes.

Kondisi ini mendorong dilakukannya upaya konservasi kupu-kupu yang lebih efektif. Dengan ditunjukkannya kawasan Bantimurung sebagai taman nasional, maka kekayaan jenis kupu-kupu tidak hanya dilindungi dan diawetkan, namun juga membuka peluang pemanfaatan jenis secara lestari dan berkelanjutan. Ada beberapa strategi pengelolaan yang dilakukan oleh Kementerian Kehutanan dan Balai TN Bantimurung Bulusaraung untuk mengkonservasi kupu-kupu, yaitu:

1. Perlindungan Spesies

Pemerintah telah menetapkan beberapa jenis kupu-kupu sebagai satwa liar yang dilindungi berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan RI No. 576/Kpts/Um/8/1980 dan No. 716/Kpts/10/1980 serta Peraturan Pemerintah N0 7 tahun 1999. Dalam aturan tersebut, terdapat 4 jenis kupu-kupu pada kawasan Bantimurung-Bulusaraung yang dilindungi, yaitu Chetosia myrina, Troides haliphron, T. helena, T. hypolitus. Meskipun dalam aturan tersebut hanya 4 jenis yang dilindungi namun seyogyanya pemanfaatan terhadap jenis yang lain perlu dilakukan secara bijaksana dan dibutuhkan kearifan dari semua pihak untuk menjaga kelestariannya.

2. Perlindungan Habitat

Berkurangnya vegetasi baik sebagai sumber pakan maupun sebagai tempat berlindung menyebabkan terjadinya migrasi kupu-kupu mencari daerah baru. Bahkan hilangnya sumber pakan akan menyebabkan kematian. Karena itu tekanan-tekanan pemanfaatan habitat dalam hal ini areal untuk tujuan pengusahaan wisata serta pemanfaatan kupu-kupu oleh aktifitas manusia perlu di atasi terutama di tempat hidup dan berkembangbiaknya melalui program-program antara lain: pengamanan habitat dan pengkayaan/pembinaan habitat.

3. Penelitian

Sebagai dasar pengelolaan konservasi satwa liar kupu-kupu, beberapa program penelitian berikut perlu dilaksanakan. Agar dapat menunjang upaya restorasi  terhadap kupu-kupu di Kawasan Bantimurung seperti: Jenis-jenis Pakan kupu-kupu untuk menunjang budidaya, tingkat reproduksi perjenis kupu-kupu, penelitian terhadap jumlah populasi di alam perlu dikontrol tiap tahun sebagai dasar untuk pengusulan jenis-jenis yang perlu dilindungi ataupun untuk kuota pemanfaatan tiap tahunnya.

4. Penangkaran

Kegiatan penangkaran diluar habitat (Ex-Situ) yang dikembangkan hendaknya didasari atas pertimbangan-pertimbangan berikut:

a. Pemilihan jenis yang tepat, yaitu yang secara alami populasinya mengalami penurunan secara tajam dari waktu ke waktu sehingga terancam punah dan mempunyai potensi ekonomi yang tinggi serta tingkat pemanfaatannya terus meningkat, yang pada akhirnya mengancam kelestariaanya.

b. Melaksanakan “Restocking” atau pemulihan populasinya di alam, dengan melepas sebagian hasil penangkaran kembali ke alam.

5. Peran serta Masyarakat

Salah satu ancaman kelestarian kupu-kupu saat ini adalah adanya aktifitas manusia berupa penangkapan kupu-kupu dari alam untuk kemudian diperjual belikan. Salah satu bentuk peran serta aktif masyarakat yang bersifat konstruktif dalam upaya konservasi kupu-kupu adalah melakukan kegiatan penanaman tumbuhan pakan di pekarangan rumah masing- masing dan tidak lagi memperdagangkan kupu-kupu yang diperoleh langsung dari alam, tetapi yang diperoleh dari hasil penangkaran.

 

DAFTAR PUSTAKA

Achmad, Amran. 2001. Potensi dan Kondisi Kawasan Karst Maros-Pangkep. Prosiding Simposium Karst Maros-Pangkep: Menuju Perlindungan dan Pemanfaatan Kawasan Karst Maros-Pangkep sebagai World Heritage di Era Otonomi Daerah. Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Regional III. Makassar.

Alikodra, H.S.. 1990. Pengelolaan Satwa Liar Jilid I. Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. 2007. Formulir Data Non Spasial Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Maros. Tidak dipublikasikan.

Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. 2009. Rencana Strategis Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung 2010-2014. Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Maros. Tidak dipublikasikan.

Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. 2009. Rencana Kerja Tahun 2010. Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Maros. Tidak dipublikasikan.

Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. 2011. Laporan Tahunan 2010 Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Maros. Tidak dipublikasikan.

Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. 2011. LAKIP Tahun 2010 Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Maros. Tidak dipublikasikan.

Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. 2011. Statistik Tahunan 2010 Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Maros. Tidak dipublikasikan.

Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. 2009. Identifikasi kupu-kupu pada Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Maros. Tidak dipublikasikan.

Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. 2010. Identifikasi jenis kupu-kupu pada kawasan Bantimurung, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Maros. Tidak dipublikasikan.

Mattimu, A.A., H. Sugondo dan H. Pabittei. 1977. Identifikasi dan Inventarisasi Jenis Kupu-kupu di Daerah Bantimurung Sulawesi Selatan. Proyek Penelitian Universitas Hasanuddin. Ujung Pandang.

Sriyanto, Agoes. 2002. Pengelolaan Taman Nasional. Materi Pendidikan dan Pelatihan Dasar-Dasar Konservasi. Tidak dipublikasikan.

Wallace, Alfred Russel. 1890. The Malay Archipelago. Periplus Editions (HK) Ltd. Singapore.

Whitten et al. 2002. The Ecology of Indonesia Series Volume IV: The Ecology of Sulawesi. Periplus Editions (HK) Ltd. Singapore.

 

PENULIS: Suci Achmad Handayani, S.Hut, PEH Pertama pada Balai TN. Babul.