image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Berita

Indonesia Punya Modal dalam Tangani Perubahan Iklim

Hutan/Irma Tambunan.

Indonesia punya modal dalam menangani masalah perubahan iklim yang menjadi perhatian masyarakat dunia saat ini. Modal itu adalah hutan serta keanekaragaman hayati yang tersisa. Demikian tersirat dalam diskusi "Ekonomi Rendah Karbon: Antara Persoalan Kehutanan & Peluang Ekonomi Indonesia", Selasa (23/8) di Jakarta.

"Kita ini spesial. Kita punya hutan," kata Candra Kirana, pengamat dari Climate Policy Institute. Kawasan hutan di Indonesia, menurut data yang diungkapkan Kementerian Kehutanan pada kesempatan yang sama, memiliki luas kurang lebih 130 juta hektare. Dari jumlah tersebut, 49 juta hektare merupakan hutan primer. Indonesia juga memiliki 20 juta hektare gambut yang 80 persennya termasuk kawasan hutan.

Hutan akan berfungsi sebagai penyerap dan penyimpan karbon, selain berfungsi untuk konservasi. Selain itu, ada hutan juga berfungsi sebagai hutan produksi. Konversi hutan menjadi kawasan produksi ini yang perlu dicermati.

Menurut Heru Prasetyo, Deputi I Unit Kerja Presiden bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4), saat ini Indonesia berada di persimpangan. "Ada persoalan kehutanan dan peluang ekonomi Indonesia," kata Heru menjelaskan dua masalah yang harus dihadapi. Kebijakan pemerintah diharapkan bisa mengakomodasi seluruh masalah. Moratorium yang diterapkan di Indonesia diharapkan bisa menyelamatkan hutan dengan menunda izin pembukaan lahan baru. "Meskipun demikian, pemerintah juga perlu menerapkan prinsip pro terhadap perkembangan, lapangan kerja, dan orang miskin, bahkan pro bisnis," jelas Mubariq Ahmad dari Universitas Indonesia dalam presentasinya.

Candra sendiri menjelaskan beberapa kemungkinan lain apabila "kondisi spesial" Indonesia dengan hutannya sulit ditangani. "Indonesia bisa jadi ahli dalam bidang tertentu, misalnya ahli dalam bidang sustainable energy. Indonesia juga bisa beradaptasi dengan tren perubahan iklim. Contohnya dengan berdagang karbon," tambah Candra.  (Sumber: www.nationalgeographic.co.id).