image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Berita

Berlanjut Pembangunan Pagar Listrik di Ujung Kulon

Induk badak dan anakan jantan yang terekam kamera video jebak yang dipasang di Taman Nasional Ujung Kulon /WWF/TNUK.

JAKARTA--MICOM: Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menyatakan pembangunan jalan dan pagar listrik di Taman Nasional Ujung Kulon, Banten, tetap dilanjutkan.

Direktur Jenderal Perlindungan Hutan Konservasi Alam (PHKA), Darori di  Jakarta, Senin (5/9), mengatakan pembangunan jalan sepanjang sekitar 30 km denganlebar 5 meter dan pagar listrik di Ujung Kulon tetap berjalan, walaupun masih banyak orang yang menentang karena dianggap melanggar UU konservasi alam.

Kawat berduri sepanjang 22,7 Km tersebut, dimaksudkan untuk menyelamatkan satwa langka Badak Jawa bercula satu yang terancam punah, katanya.

"Prinsipnya jalan terus, meskipun banyak yang belum paham karena tujuannya itu untuk melestarikan badak. Tidak benar pembangunan jalan dan pagar listrik itu untuk jalan perusahaan," ucapnya, menegaskan

Cara ini sudah dilakukan di Way Kambas, jadi bukan barang baru dan untuk kepentingan satwa dan karena itu Menhut memutuskan tetap dibangun terus, katanya.

Dalam peraturan Peraturan Pemerintah (PP) No 36 /2010 tentang pengusahaan pariwisata di taman nasional, menurut dia, pengelola diperbolehkan menggunakan 10 persen dari luas areal untuk pembangunan sarana.

"Kata siapa tidak boleh, boleh kok asalkan dilihat kepentingannya untuk siapa," ujarnya.

Dia menjelaskan, dari hasil survei, Badak Jawa tinggal 40-an ekor dan menurun tiap tahunnya. Sementara di satu sisi, populasi banteng terus bertambah dan dari hasil survei menunjukkan sudah hampir 800 ribu ekor.

"Badak ini kan binatang soliter, tidak bisa bergaul dengan satwa lain, sedangkan makanan Badak dan Banteng sama yaitu rumput, nah kita mau bikin pagar hanya sekitar 3 ribu meter agar bisa dipisahkan dan tidak punah," paparnya. (Ant/OL-2)  (Sumber: www.mediaindonesia.com).