image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Berita

Jadi Relawan Pusat Konservasi, Mau?

Para relawan di Pusat Konservasi Primata Jawa, Bandung, Selasa (13/9/2011). Mereka bekerja sukarela tanpa mendapat honor /KOMPAS/DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO.

BANDUNG, KOMPAS.com- Pusat Konservasi Primata Jawa yang diresmikan Selasa (13//20119), bakal menjadi salah satu sumber referensi maupun studi mengenai primata endemis pulau Jawa. Namun, kita tidak cuma hanya bisa datang dan belajar melainkan bergabung menjadi relawan.

Kesempatan itu diungkapkan salah satu staf pengelola pusat konservasi, Sigit Ibrahim. Pihaknya membuka kesempatan seluasnya bagi lulusan SMA atau universitas yang ingin mendapat pengalaman dengan bergabung sebagai relawan.

"Jadwalnya bisa diatur secara bergantian. Setiap kelompok terdiri dari empat orang," kata Sigit.

Saat ini terdapat 20 relawan yang bergabung dengan Pusat Konservasi Primata Jawa yang bekerja tanpa imbalan. Tugas mereka mulai dari membantu memberi makan hingga pengamatan harian untuk 10 primata yang ada di sana.

Salah satu relawan bernama Ryan Ibayana mengungkapkan bahwa ia bersama rekan-rekannya merupakan warga sekitar di Kecamatan Rancabali maupun Ciwidey. Ada yang sudah lulus sekolah dan berharap mendapat pengalaman dengan bekerja di sana.

"Ada juga yang masih sekolah dan sengaja meminta izin tidak masuk untuk menjadi panitia dalam acara pembukaan," kata Ryan.

Relawan lain bernama Yadi Supriyadi menjelaskan, bukan uang yang mereka cari dengan bergabung sebagai relawan. Salah satu harapan memang nantinya bisa dilibatkan dalam proyek konservasi tapi yang paling utama adalah menimba ilmu agar nantinya bisa dimanfaatkan di daerah asal. (Sumber: www.kompas.com).