image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Berita

Aceh Tak Sabar Ingin Terapkan REDD+

Hutan /Irma Tambunan.

JAKARTA, KOMPAS.com - Warga Aceh yang tinggal dan menggantungkan hidupnya dari hutan, sudah tak sabar ingin mengetahui dan merasakan kesejahteraan hidupnya melalui mekanisme pengurangan emisi melalui pencegahan kerusakan hutan dan deforestasi (REDD+).

Karena itu, pada pertemuan Governors' Climate Forests (GCF) di Palangkaraya, 20-22 September 2011, diharapkan menghasilkan kemajuan dalam pembahasan implementasi REDD+.

Ini diungkapkan, Gubernur Aceh Irwandi Yusuf yang diwakili Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Aceh, Husnaini, dalam pertemuan GCF, Senin (20/9/2011) di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Husnaeni menjelaskan, Aceh telah menyediakan Hutan Ullu Masen dan Hutan Taman Nasional Leuser sebagai lokasi program pengurangan emisi melalui deforestasi dan pencegahan kerusakan hutan (REDD+). Luas kedua hutan ini sekitar 3,9 juta hektar atau 57 persen luas Aceh.

Aceh pun telah melakukan moratorium penebangan hutan. Upaya ini mampu menekan laju deforestasi 12.045 hektar per tahun.

Dari sisi penegakan hukum, Aceh merekrut 2.000 personel untuk menjadi petugas pengawas hutan.

Meski demikian, lanjut Husnaeni, perlu dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap langkah-langkah dan tujuan yang hendak dicapai. Masyarakat ingin melihat manfaat dari apa. "Rakyat di sekitar hutan sudah tidak sabar untuk hidup sejahtera," ujarnya.

Senada, Ketua Satuan Tugas Persiapan Kelembagaan REDD+, Kuntoro Mangkusubroto, melalui tayangan rekaman video karena sedang berada di New York AS, mengatakan, kini saatnya GCF membahas masalah implementasi REDD+.

"Sekarang saatnya menuju implementasi, implementasi, dan implementasi," ucap Kuntoro. (Sumber: www.kompas.com)