image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Berita

Sulitnya Menjadi Taksonom di Indonesia

Ilustrasi species /David Liittschwager-NG.

KOMPAS.com - Apa tantangan yang harus dihadapi oleh taksonom atau ahli mengenai penamaan tumbuh-tumbuhan dan hewan yang ada di Indonesia? Dr Dwi Listyo Rahayu, peneliti Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan salah satu dari hanya lima taksonom kelomang di dunia berbagi cerita.

Dalam Kongres dan Seminar Taksonomi Kelautan Indonesia I yang diadakan hari ini (20/9/2011) di Jakarta, Dwi Listyo Rahayu yang akrab disapa Yoyok mengatakan bahwa salah satu tantangan menjadi taksonom di Indonesia adalah kurangnya senior. "Kita kekurangan pembimbing dalam bidang taksonomi," kata Yoyok.

Jumlah penelitian yang terlibat penelitian taksonomi di Indonesia saat ini diketahui sebanyak 20-30-an. Namun, peneliti yang bisa dikatakan sebagai taksonom hanya 3 orang.

"Lalu juga akses pustaka yang minim," tambah Yoyok. Beberapa pustaka memang sudah tersedia dalam format digital, namun Yoyok mengatakan bahwa taksonom masih perlu pustaka tua yang hingga saat ini belum tersedia dalam format tersebut.

Kesulitan lain yang dihadapi adalah akses terhadap holotype suatu spesies. Selama ini, banyak spesimen spesies yang ada di Indonesia disimpan di museum luar negeri. Raffless Museum di Singapura bahkan disebut memiliki koleksi spesies Indonesia yang lebih lengkap.

"Publikasi juga menjadi kesulitan. Ada beberapa jurnal yang gratis memang tapi harus menunggu lama. Sementara pada beberapa jurnal internasional, kita masih harus membayar," jelas Yoyok yang meneliti kelomang sejak tahun 1982.

Untuk mengirimkan ke jurnal nasional pun, tidak serta merta mendapat kemudahan. "Saya pernah kirimkan ke jurnal nasional, waktu itu diminta dibuat dengan kunci identifikasinya. Tapi akhirnya dikatakan terlalu panjang, apakah tidak bisa disingkat," ceritanya.

Beragam kesulitan menjadikan taksonomi kurang populer, bukan hanya di kalangan pelajar, tetapi juga di kalangan ilmuwan itu sendiri. Sebagai akibatnya, inventarisasi keanekaragaman hayati di Indonesia pun mengalami hambatan.

Yoyok mengatakan bahwa minat taksonomi harus digiatkan. Ia mengatakan, bahwa sebenarnya banyak kesempatan untuk menjadi taksonom. Ketika sudah dipercaya, banyak kesempatan penelitian dan kerjasama internasional yang bisa diraih.

"Kita harus memilih jenis yang tepat, harus reasonable. Misalnya, kalau tidak bisa selama jangan menilih koral. Kemudian memperkuat network dan meraih kesempatan kerja sama," ujar Yoyok yang menyelesaikan studi master dan doktoral dalam bidang biologi kelautan di Perancis.

Sementara, untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi taksonom di Indonesia saat ini, satu hal yang bisa diupayakan adalah menambah jumlah reference collection. Dengan bertambahnya reference collection, lebih mudah bagi taksonom untuk melakukan penelitian taksonomi. (Sumber: www.kompas.com)