image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Berita

Rangka Utuh Badak Bercula Satu Dirangkai Kembali

Rangka utuh badak bercula satu dirangkai lagi, Jumat (23/9/2011) /Kompas/Lasti Kurnia.

BANTEN, KOMPAS.com — Rangkaian tulang belulang utuh dari satu spesimen badak bercula satu dirangkai kembali di kantor Balai Taman Nasional Ujung Kulon, Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten, Jumat (23/9/2011).

Rangka itu berasal dari seekor badak yang ditemukan mati pada tahun 2003 di dalam kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), tepatnya di daerah Cibunar. Badak berjenis kelamin jantan tersebut ditemukan mati karena usia tua.

Setelah menjalani proses otopsi oleh Balai Besar Penelitian Veteriner (BBalitvet) Bogor, bangkai badak itu oleh staf Balai TNUK dikubur sekitar tiga bulan. Setelah diperkirakan tulang telah terpisah dari dagingnya, bangkai diambil kembali. Kemudian tulang-tulang dibersihkan dari sisa daging.

Tulang-belulang itu sempat tersimpan lama, sekitar dua hingga tiga tahun di dalam gudang. Awal tahun 2011 tulang-belulang tersebut mulai dirangkai kembali untuk membentuk rangka tubuh utuh sang badak.

”Kami belum tahu akan dipasang di mana. Mungkin nanti di Visitor Centre (yang bertempat di kantor balai TNUK),” kata Andri Novi, staf Urusan Bagian Pemanfaatan Balai TNUK.

Saat ini rangka utuh badak bercula satu yang telah dirangkai kembali baru ada satu buah, yaitu yang terpasang di Kantor Gubernur Banten.

”Jarang ditemukan bangkai yang utuh seperti ini. Karena itu, sewaktu di dikubur, dilakukan patroli untuk penjagaan,” lanjut Andri.

Namun, dalam proses pengawetan dan penyimpanan, Balai TNUK terkendala metoda teknis pelaksanaan, keberadaan tenaga ahli, dan ruang penyimpanan.

”Kami belum tahu bagaimana cara mengawetkan kulitnya (untuk membentuk specimen badak yang dikeringkan). Tidak ada tenaga khusus untuk itu. Penyimpanannya juga di gudang, hanya diberi kapur barus. Padahal, seharusnya ada bahan kimia untuk mengawetkan,” kata Andri.

Proses perangkaian tulang-belulang tersebut saat ini dikerjakan oleh Mumu, salah seorang staf balai. Namun, karena dikerjakan di sela-sela pekerjaan, sudah sekitar dua bulan rangka badak yang telah berdiri dengan penopang besi ini tertunda.

Tampak sejumlah sarang laba-laba bergelantungan di antara rangka yang telah terpasang. Di rangka bagian kepala, tulang-tulangnya tampak sedikit mengkilat oleh lapisan pelindung sejenis vernis. Cula juga tidak tampak.

”Culanya tidak besar. Rencananya tidak kami pasang. Takut dicuri, takut diambil. Yang di Pendapa Gubernur Banten juga tanpa cula,” kata Andri.

Cula satu adalah keunikan dari satwa yang disebut juga badak jawa atau Rhinoceros sondaicus. Di dunia, hanya Indonesia saja yang memiliki jenis badak bercula satu dan badak bercula dua (badak sumatera).

Sementara Afrika hanya memiliki badak bercula dua dan India hanya badak bercula satu.  (Sumber: www.kompas.com)