image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Berita

Kisah Pencari Gua-gua di Kabupaten Pangkep

Ilustrasi: Kompas Images/Fikria Hidayat.

Kawasan karst yang membentang dari Kabupaten Maros -Pangkep merupakan terbesar dan terindah kedua di dunia setelah kawasan karst di Cina. Di dalam kawasan karst seluas 43.750 hektar banyak ditemukan gua-gua yang aktif maupun yang sudah mati. Seperti apa pencarian gua-gua tersebut?

Selintas, mata Anda hanya menangkap deretan karst atau tebing saat melintas di Kabupaten Maros dan Pangkep. Pernahkah terbersit di pikiran Anda bahwa di antara belantar batuan cadas itu ada puluhan dan bahkan ratusan gua. Karst Maros yang menyerupai menara-menara itu menyimpan banyak fauna dan flora.

Sedikitnya, ada 200 lebih gua yang terbentang di kawasan karst tersebut. Bahkan gua terdalam dan terpanjang di Indonesia ditemukan di karst Maros. Gua vertikal berkedalaman 260 meter berada di Leang Leaputter sedangkan gua terpanjang adalah Gua Salukangkallang, mencapai 27 kilometer.

Gua yang ditemukan tersebut menjadi tempat spesies manusia berlindung di masa lampau atau disebut juga gua prasejarah. Ada beberapa jejak peninggalan manusia zaman dulu. Seperti lukisan batu dan perkakas dari batu di Gua Leang-leang saat penulis ke gua tersebut. Juga ada di Gua Sumpang Bita.

"Banyak jejak sejarah peninggalan zaman dulu. Ada telapak tangan dan ada juga saya temukan tengkorak kera. Banyak sekali," ujar Mahsyud, salah satu pencari dan penemu gua Sumpang Bita dan Gua Mimpi, saat ditemui di Kabupaten Pangkep, Minggu 14 November.

Jejak manusia prasejarah juga ditemuinya di Gua Pising yakni berupa tulang manusia dan kera. Pria tamatan Sekolah Dasar ini berprofesi sebagai pencari gua sejak tahun 1973. Ia terdaftar di dinas suaka sejarah dan perlindungan Rotterdam untuk wilayah kerja di Pangkep. Bapak yang usianya sudah memasuki 50-an tahun ini punya cara sendiri untuk menemukan gua-gua tersebut.

"Kalau kelihatannya agak-agak gundul ya bisa jadi pertanda bahwa di kawasan karst itu ada gua," ujar bapak empat anak ini. Dan, biasanya tanda itu tepat. Terbukti sudah lebih 40 gua yang ditemukan bersama anggota pencari gua lainnya di Pangkep. Sebut saja, Gua Pising, Gua Garunggung, Leang Pokko. Leang Biringere 1 dan 2 yang ditemukan tahun 1999.

Gua lain yang ditemukan di Minasatene Pangkep adalah Gua Ulutedong, Kassi, Gua Babi, dan Gua Batulamara. Sedangkan di kawasan Tonasa ia menemukan gua Leang Kappara dan Teppung.
Banyak kisah menarik saat ia menemukan gua tersebut.

"Saya sempat ketemu lipan besar. Malah ada gua yang kita masuki membuat saya merinding.Entah kenapa," ujarnya. Di Gua Garunggung ia menemukan jejak telapak tangan dan cap ikan di dinding gua,juga ada jejak atau gambar merpati dan babi. Sedangkan tumpukan tengkorak atau fosil kera ditemukan Mahsyud di Gua Lanlang Buto.

Sebagai pencari sekaligus pelindung gua-gua di kawasan karst Pangkep, ia merasakan kesulitas tersendiri. "Kita perlu pagar itu gua-gua dan dibuatkan jalan setapak. Sudah ada tujuh gua di Minasatene yang sudah dikerja. Tapi ada kawasan gua juga perlu diperhatikan di kawasan Tonasa yakni Leang Kappara dan Leang Teppung," ujarnya. Di kawasan itupula kata dia, akar bisu terlahir yakni lokasi Biring ere.

Saat ini, kawasan cantik itu tertekan oleh usaha pertambangan batu gamping untuk semen, marmer dan industri lainnya. Diantaranya Semen Tonasa dan Bosowa. Penambangan karst mengancam ketersediaan air tanah di sekitar kawasan karst dan keunikan geomorfologi serta biodiversity (keanekaragaman hayati).

Kita hanya berharap pengelola penambangan bersikap bijak memperlakukan alam dan mengorbankan karst Maros Pangkep dengan keunikan menara karstnya, kekayaan arkeologi dan keanekaragaman hayati. *** (Sumber: www.fajar.co.id)