image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Berita

Indonesia Ajukan 70 Juta Dollar AS

Hutan /Irma Tambunan.

JAKARTA, KOMPAS.com — Indonesia mengajukan proposal kepada Program Investasi Kehutanan (FIP) senilai 70 Juta dollar AS. Ini bagian dari upaya pengurangan emisi gas rumah kaca melalui pencegahan kerusakan lahan dan deforestasi (REDD+).

Staf Ahli Menteri Kehutanan Hadi Pasaribu, Jumat (30/9/2011) di Jakarta, mengatakan, Indonesia dinilai paling siap dalam mengelola dana FIP. Karena itu, Indonesia dipilih sebagai proyek percobaan FIP.

Hadi mengaku sedang mempersiapkan delapan program untuk didukung FIP. Isinya, yaitu program REDD+ pada hutan rakyat di Jawa, reformasi pengaturan kepemilikan lahan dan hutan, penegakan hukum penebangan ilegal dan perdagangannya, unit pengelolaan hutan dan REDD+, pengembangan lahan terdegradasi, konsesi restorasi ekosistem dan REDD+, insentif pada pasar REDD+, serta pembangunan subnasional REDD+.

Dana FIP ada pada Multilateral Development Bank dari para donor Australia, Denmark, Norwegia, Inggris, AS, dan Jepang. Peserta FIP adalah Republik Demokratik Kongo, Romania, Indonesia, Brasil, Maroko, dan Nepal.

"Tanggal 31 Oktober nanti saya ke Washington (AS) untuk bertemu para steering committee. Semoga proposal kita itu disetujui," ucapnya di sela-sela Director's Meeting Climate Leadership Program (CLP): Natural Resource Management.

Indonesia ikut serta dalam FIP karena dinilai sebagai pengemisi gas rumah kaca senilai 1,4 gigaton setara karbon yang 58 persennya diakibatkan pengubahan fungsi hutan/lahan dan gambut. (Sumber: www.kompas.com)