image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Berita

Taman Nasional Tesso Nilo Terancam

Harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) /ANTARA/FB Anggoro)

JAKARTA, KOMPAS.com — Aktivis lingkungan Greenpeace yang mengikuti tur Mata Harimau menjelajah kawasan hutan di Riau tiba di Taman Nasional Tesso Nilo, Kabupaten Pelalawan, Kamis (29/9/2011). Saat melintasi kawasan hutan menggunakan sepeda motor, mereka menyaksikan kelestarian ekosistem yang mulai terancam ekspansi perkebuan dan hutan tanaman industri untuk bahan baku industri pulp di sekitarnya.

Peserta tur Mata Harimau disambut gajah-gajah yang kini dirawat World Wildlife Fund (WWF) di Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Pelalawan. Mereka pun ikut memandikan gajah sumatera di sungai.

Koordinator Flying Squad WWF, Riau Syamsuardi, mengatakan, gajah dan harimau menjadi satwa payung karena membutuhkan daerah jelajah yang luas. Seekor harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) dapat menjelajah hingga 100 kilometer persegi dan gajah mampu menjelajah sampai 60 kilometer persegi.

”Bila habitat yang menjadi daerah jelajah terjaga, spesies lainnya juga dapat lestari keberadaannya,” ujar Syamsuardi. 

Seusai memandikan gajah, peserta tur menyertai patroli gajah di sekitar kawasan hutan TN Tesso Nilo. Sedikitnya terdapat 200 gajah di kawasan hutan alam ini dan ada 11  harimau sumatera di wilayah hutan dataran rendah.

Juru kampanye hutan Greenpeace Asia Tenggara, Rusmadya Maharrudin, mengatakan, saat ini hutan yang sedemikian indah ini sedang terancam rusak. Saat melintas menggunakan sepeda motor, tim menemukan kawasan hutan konservasi ini sudah dirambah. 

Tim Mata Harimau juga menemukan jejak harimau saat menuju sungai tempat pemandian gajah. Kondisi ini menunjukkan bahwa kawasan ini memang habitat asli harimau sumatera yang masih tersisa.

”Seluruh keindahan ini sangat rentan terhadap rencana konversi lahan. Untuk itu kami meminta kepada pemerintah untuk memastikan kondisi taman nasional ini tetap terjaga karena peran ekologisnya sangat penting,” tutur Rusmadya. (Sumber: www.kompas.com)