image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Berita

Otot Super Cepat, Rahasia Ketangkasan Kelelawar

Kelelawar telinga panjang (Plecotus auritus).

KOMPAS.com - Kelelawar menemukan mangsa dengan ekolokasi, menghasilkan gelombang suara ultrasonik yang digemakan sehingga lokasi mangsa bisa diketahui. Ilmuwan mengetahui bahwa dalam 1 detik kelelawar bisa mengeluarkan gelombang 190 kali, namun proses produksi tersebut sampai kini masih misteri.

Coen Elemans, peneliti dari University of Southern Denmark dan rekannya dari University of Pennsylvania melakukan penelitian tentang hal tersebut dan mengetahui bahwa rahasia kemampuan kelelawar tersebut ada pada otot vokal super cepat yang dimilikinya.

Otot super cepat pada kelelawar memiliki struktur yang sangat lemah. Namun demikian, otot itu bisa berkontraksi 100 kali lebih cepat dari otot biasa manusia dan 20 kali lebih cepat dari otot tercepat pada manusia yang terdapat di mata.

Penemuan otot super cepat itu dipublikasikan dalam jurnal Science minggu ini. Otot super cepat pada kelelawar ialah yang pertama kalinya ditemukan pada mamalia. Sebelumnya, otot super cepat hanya ditemukan pada burung pengicau, ular berbisa, dan beberapa jenis ikan.

"Saya sudah berpikir, jika menemukan otot ini pada mamalia, pasti pada kelelawar. Jika Anda berburu mangsa yang bergerak cepat dan menghindari Anda, sangat penting untuk memproduksi suara pada tingkat yang sangat tinggi," kata Elemans seperti dikutip the New York Times, Jumat (30/9/2011).

Untuk sampai pada hasil penelitian, Elemans merekam panggilan kelelawar dan menentukan saat panggilan itu mencapai telinganya. Elemans menemukan bahwa otrak kelelawar bisa memproses sinyal panggilan lebih cepat, hingga 800 panggilan per detik. Sumber :New York Times. (Sumber: www.kompas.com)