image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Berita

Pemberdayaan Masyarakat Kunci Konservasi

Ilustrasi

PEKANBARU, KOMPAS.com — Pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan hutan menjadi kunci sukses pengelolaan kawasan konservasi dan hutan. Pola kolaborasi pengelolaan kawasan hutan yang melibatkan para pemangku kepentingan mempermudah peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat.

Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan mengemukakan hal itu seusai membuka Workshop Internasional Kerja Sama Selatan-Selatan untuk Pembangunan Berkelanjutan di Pekanbaru, Riau, Selasa (4/10/2011).

Program yang disponsori Kementerian Kehutanan, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, dan Komite Nasional Man and Biosphere (MAB) UNESCO diikuti sedikitnya 300 pemangku kepentingan hutan tropis dari Indonesia, Kongo, dan Brasil.

"Kawasan hutan akan lestari kalau ada manfaat bagi masyarakat. Itu sebabnya masyarakat memperoleh bagian terbesar dari pihak mana pun dalam pembagian skim perdagangan karbon, yaitu 70 persen, agar masyarakat lokal bisa sejahtera," kata Zulkifli.

Saat ini, ada sedikitnya 48,8 juta orang yang tinggal di 19.410 desa di sekitar kawasan hutan. Tingkat kesejahteraan mereka sangat menentukan apakah hutan tersebut rusak atau lestari.

Dalam lokakarya ini, kolaborasi pengelolaan kawasan cagar biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu di Kabupaten Kampar, Riau, oleh pemerintah, swasta, ilmuwan, dan masyarakat, menjadi bahan kajian dan pelatihan bersama para peserta.

Cagar biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu yang telah diakui  Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO), berada di hutan produksi dalam konsesi kelompok Sinar Mas yang didedikasikan untuk konservasi hutan alam di lahan gambut seluas sedikitnya 72.000 hektar. Sejumlah negara pemilik hutan tropis basah kini mulai tertarik dengan pengelolaan kawasan hutan dengan pola cagar biosfer.

Indonesia memiliki enam cagar biosfer lainnya, yakni, Ujung Kulon (Banten), Cibodas (Jawa Barat), Tanjung Puting (Kalimantan Timur), Lore Lindu (Sulawesi Tengah), Siberut (Sumatera Barat), dan Komodo (Nusa Tenggara Timur).

Dalam kesempatan yang sama, Ketua LIPI Lukman Hakim mengungkapkan, pengelolaan kawasan hutan hendaknya dapat menekan kemiskinan. Kesejahteraan masyarakat di sekitar hutan turut berkontribusi menurunkan tekanan deforestasi.

Ketua Komite Nasional MAB-UNESCO Bambang Prasetya mengatakan, jaringan kerja sama Selatan-Selatan menjadi penting untuk penguatan pengetahuan dan kemampuan meneliti kelestarian alam. Seluruh negara pemilik hutan tropis menghadapi masalah yang sama, deforestasi hutan dan degradasi lahan. (Sumber: www.kompas.com)