image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Berita

609 Kura-Kura Ilegal Dikembalikan Ke Indonesia

Ilustrasi

JAKARTA: Kementerian Kehutanan bekerja sama dengan pemerintah Hong Kong melakukan repatriasi (pengembalian) 610 ekor kura-kura moncong babi pada 5 Oktober 2011 di hanggar Bandara Soekarno Hatta.

"Nunu Anugerah,Kepala Subdit Lembaga Konservasi dan Perburuhan Ditjen Perlindungan Hutan Alam dan Konservasi Kementerian Kehutanan, mengatakan informasi itu didapatkan dari convention international trade in endangerd species of wild flora and fauna (CITES) Hong Kong dengan CITES Management Authority Indonesia.

"Kita menerima pengembalian kura-kura moncong babi sebanyak 609 ekor yang di repratiasi, karena jenis satwa itu dilindungi," ujarnya saat konferensi pers proses repratiasi kura-kura moncong babi, hari ini.

Pihaknya menyepakati untuk bekerja sama proses repratiasi kura-kura moncong babi. Kura-kura itu selanjutnya, kata dia, akan dihabituasi di Papua bagian selatan dan setelah dihabitasi, maka akan dilepaskan ke habitat asalnya.

Dia menambahkan kerja sama repratiasi itu juga untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat.

Menurut Nunu, CITES Hong Kong menangkap kura-kura asal Indonesia itu pada Januari 2011. Namun, karena proses pengembalian cukup lama, sehingga proses pengembalian ke Indonesia baru dilakukan saat ini.

"Komunikasi terus dilakukan dengan Hong Kong, soal pelaku adalah ranah kami, karena ada proses penyelidikan dulu, jadi [pelaku atau eksportir] belum bisa kami sebutkan."

Nunu menuturkan proses repratiasi itu merupakan yang pertama dilakukan. Harga kura-kura tersebut di pasar internasional US$1.500-US$2.000 per ekor. "Beri waktu kepada kami untuk melakukan proses penyelidikan."

Oza Olivia, Kepala Kantor Bea Cukai Soekarno Hatta, mengatakan pihaknya belum mengetahui dari mana dan bagaimana proses keluarnya satwa tersebut. Jika proses keluarnya kura-kura itu melalui Bea Cukai, maka perlu untuk mengetahui dokumen yang digunakan seperti apa.

"Atau jangan-jangan mereka tidak tahu barang ekspornya, karena kita juga belum tahu. Mungkin ada dokumen yang tidak sesuai." (sut) (Sumber: ww.bisnis.com)