image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Berita

Ditemukan, 2 Spesies Katak Pemakan Semut

Katak Batuan Kutini (Cophixalus kulakula), salah satu dari dua spesies katak baru yang ditemukan di Australia /Conrad Hoskin

KOMPAS.com — Dr Conrad Hoskin dari Australia National University (ANU) dan Kieran Aland dari Queensland Museum berhasil menemukan 2 spesies katak batuan. Dua spesies katak tersebut diberi nama Katak Batuan Katini (Cophixalus kulakula) dan Katak Batuan Bertudung Emas (Cophixalus pakayakulangun).

Nama dua spesies tersebut, menurut Hoskin, berasal dari bahasa Kuuku Ya'u, bahasa lokal masyarakat tempat katak itu ditemukan. Hoskin juga mengatakan bahwa dua spesies katak tersebut telah beradaptasi dengan lingkungan batuan di hutan hujan tropis.

"Katak itu memiliki lengan yang panjang, jari yang ramping serta bantalan jari berbentuk segitiga dan berukuran cukup besar. Sifat tersebut membuat katak ini mampu memanjat di antara labirin batuan," ungkap Hoskin seperti dikutip Physorg, Jumatb (7/10/2011).

"Mereka hanya terdapat di batuan dan tak pernah dijumpai di lingkungan sekitarnya. Meski mereka sangat terlokalisasi, mereka terdapat dalam jumlah melimpah ketika ditemui. Anda bisa duduk saat mulai gelap dan melihat katak-katak menakjubkan ini muncul dari batuan," tambah Hoskin.

Kedua spesies katak ini ditemukan di dua wilayah berbveda Cape York Peninsula. Menurut Hoskin, tak banyak spesies yang bisa ditemukan di tumpukan batuan. Selain katak batuan, hanya ada beberapa spesies kadal, serangga dan laba-laba yang bisa ditemukan.

"Dua spesies ini umumnya memakan semut. Mereka meletakkan telur di darat dan tahap berudunya berlangsung di dalam telur. Katak kecil kemudian menetas sebelum akhirnya pergi ke wilayah hutan atau batuan," jelas Hoskin.

Dibanding katak yang sekerabat, dua spesies ini tergolong unik karena ukurannya yang cukup besar. Katak batuan sekerabat lainnya hanya punya ukuran panjang 2 cm. Dua jenis katak ini juga hanya keluar ke permukaan batuan ketika ada hujan di musim panas yang basah.

Untuk menemukan dua jenis katak ini, ilmuwan harus menjelajah di musim panas yang basah dan menelisik tiap batuan. Menurut Hoskin, yang paling membanggakan dari penemuan ini adalah masih adanya spesies baru dalam sains yang bisa ditemukan di negara maju seperti Australia. Sumber: Physorg. (Sumber: www.kompas.com)