image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Berita

Menhut Tolak Proyek Tol Melintas Di Tahura

Taman Hutan Raya Bukit Soeharto

TRIBUN-MEDAN.com, SAMARINDA - Pupus sudah harapan Pemprov agar proyek pembangunan jalan tol ruas Balikpapan-Samarinda bisa melintasi Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Soeharto. Pasalnya, Menteri Kehutanan (Menhut) secara resmi telah menolak usulan Pemprov agar Tahura dilintasi megaproyek senilai Rp 6,2 triliun tersebut.

Melalui Dirjen Pemanfaatan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) Kementerian Kehutanan (Kemenhut) Darori disebutkan, Menhut tak memiliki dasar atau alasan apapun untuk memberikan izin atas panjang 24 kilometer yang akan dilintasi tol di Tahura itu. Dan lagipula, Tahura saat ini dalam tahap pembenahan atas kerusakan-kerusakan yang diakibatkan oleh tambang batu bara maupun aktivitas oknum tak bertanggungjawab lainnya.

"Sudah lama itu, saya sudah tak ingat lagi. Intinya Pak Menhut telah menolak usulan Pemprov Kaltim agar Tahura dilintasi proyek jalan tol, suratnya malahan sudah dikembalikan. Jangankan tol, seandainya jalan umum yang ada sekarang saja dilebarkan, barangkali kami pun akan mempertimbangkan untuk memberikan izin," kata Darori, kemarin.

Menurutnya, tol disarankan untuk melintas di pinggir-pinggir Tahura saja. Selain tak ingin merusak Tahura, juga bisa membantu kelestarian Tahura sebab jika di pinggirnya, sama saja dengan pembatas Tahura, sehingga aktivitas yang merusak tak akan terjadi lagi dikemudian hari.

"Kami pikir dipanjangkan lagi sedikit, proyek jalan tol itu dari yang sudah direncanakan tak akan jadi masalah kan, daripada kami mengizinkannya tapi harus melanggar undang-undang kehutanan dan konservasi alam," ujarnya dengan tegas. (Muhammad Khaidir/tribunkaltim.co.id) (Sumber: medan.tribunnews.com)