image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Berita

Bunga Tetepok dan Katak Api Jadi Ikon 2011

Bunga Tetepok /Wikipedia.

JAKARTA, KOMPAS.com — Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) 2011 yang jatuh pada 5 November akan mengambil tema Lestarikan Puspa dan Satwa untuk Keberlanjutan Kehidupan dengan subtema "Selamatkan Keanekaragaman Hayati Perkotaan". Kali ini, ikon HCPSN mengambil spesies bunga tetepok (Nymphoides indica) sebagai Puspa Nasional 2011 dan katak api (Leptophyre kruentata tschudi) sebagai Satwa Nasional 2011.

Pemilihan puspa dan satwa berkaitan dengan tema ekosistem perairan tawar flora dan fauna. Bunga tetepok merupakan tumbuhan air yang patut dibudidayakan dan masih famili dengan teratai. Keunikannya membuat tumbuhan ini hanya dapat berkembang di habitat tertentu yang dikhawatirkan kepunahannya. Bunga tetepok diperkenalkan sebagai salah satu tanaman air di perkotaan selain lotus dan teratai. Di Kebun Raya Bogor, bunga tetepok yang dikembangkan berasal dari wilayah Sumatera dan Jawa.

Pemilihan katak sebagai Satwa Nasional 2011 dikarenakan peranannya yang sangat penting sebagai indikator pencemaran lingkungan. Tingkat pencemaran lingkungan pada suatu daerah dapat dilihat dari jumlah populasi katak yang dapat ditemukan di daerah tersebut. Pengurangan jumlah katak dalam rantai makanan menyebabkan terganggunya dinamika pertumbuhan predator katak. Hal yang lebih perlu diperhatikan lagi adalah penggunaan pestisida di sawah yang merusak telur-telur berudu katak dan semakin berkurangnya habitat katak.

"Pemerintah telah melakukan berbagai upaya dalam melindungi dan melestarikan sumber daya alam hayati termasuk perlindungan puspa dan satwa yang dilakukan untuk mendukung pemanfaatan secara berkelanjutan, salah satunya dengan melaksanakan Konservasi Spesies dan Ekosistem," tutur Menteri Lingkungan Hidup Gusti M Hatta, Rabu (12/10/2011), di Jakarta.

Ade F Meyliala, Ketua Panitia HCPSN 2011, menjelaskan, peringatan HCPSN setiap tanggal 5 November ini dimulai tahun 1993 yang betujuan untuk meningkatkan kepedulian, perlindungan, pelestarian puspa dan satwa nasional. Peringatan ke-18 tahun ini akan menggaungkan kembali Gerakan Masyarakat Mencintai Puspa dan Satwa Nasional.

Menurut Ade, keberadaan keanekaragaman hayati harus dijaga dan dimanfaatkan secara berkesinambungan. Ini karena manfaatnya sebagai sumber pangan, papan, sandang, obat-obatan, jasa ekosistem, sumber ilmu pengetahuan dan teknologi, dan mengembangkan sosial-budaya masyrakat. Puspa dan satwa sebagai bagian dari keanekaragaman hayati merupakan modal penting bagi pemenuhan kebutuhan dasar manusia serta penjaga keseimbangan ekosistem.

Peringatan HCPSN 2011 akan dilaksanakan di Istana Negara dan dibuka Presiden Republik Indonesia. Beberapa rangkaian acara di istana di antaranya penyematan Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Pembangunan Bidang Lingkungan Hidup dan penyampaian penghargaan Menuju Indonesia Hijau oleh Presiden, serta penandatanganan Sampul Hari Pertama Prangko seri Puspa dan Satwa 2011. (Sumber: www.kompas.com)