image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Berita

Tebing Karst di Maros - Pangkep Akan Diusulkan ke UNESCO

Karst Maros - Pangkep/ LIONMAG.

Makassar, Tribun-timur.com -- Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan memproyeksikan kawasan Karst Maros-Pangkep menjadi world heritage (warisan budaya dunia) ke badan dunia United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO).

Saat ini Pemprov Sulsel tengah melakukan pemetaan dan zonasi kawasan sebagai syarat awal pengusulan Karst Maros-Pangkep sebagai warisan dunia.

Belum dapat diketahui persis zona Karst dimaksud namun  diprediksikan zona tersebut menghubungkan taman nasional Bantimurung hingga lereng Gunung Bulusaraung.

Kepala Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Sulsel, Tamzil Tajuddin mengatakan kawasan Karst Maros-Pangkep yang akan diusulkan sebagai warisan budaya dunia memiliki luas kurang lebih 43 ribu hektar.

Diakuinya, masih terdapat serangkaian proses yang harus dilalui sebelum pengusulan, dan ini diakuinya akan memakan waktu yang lama dan proses yang cukup panjang. Salah satunya adalah aspek legalitasnya.

"Prosesnya akan panjang dan lama sekali, kita akan lakukan dulu zonasi atau pemetaan sebelum memperoleh legalitas kawasan Karst ini," kata Tamzil saat memaparkan pencapaian kinerjanya di Kantor Gubernur Sulsel, Kamis (1/12/2011).

Aspek legalitas menjadi penilaian pertama yang diminta oleh Pemerintah Pusat sehingga perlu dilakukan pemetaan lebih dulu. Setelah itu selesai, tahap selanjutnya adalah membuatkan peraturan daerah (perda) untuk menetapkan batas-batas wilayah masing-masing.

Setelah pemetaan program aksi pengelolaan ekosistem karst Maros-Pangkep selesai, langkah selanjutnya adalah penetapan delinasi kawasan, penanggulangan peningkatan potensi longsor dan erosi, serta penurunan kualitas dan kuantitas air tanah.

BLHD mengaku sendiri saat ini telah melakukan berbagai upaya untuk merealisasikan terwujudnya kawasan warisan budaya dunia di Sulsel diantaranya membentuk konsorsium untuk menyusun rencana aksi dan melakukan koordinasi dengan Pemkab Maros dan Pemkab Pangkep.

Pengendalian kerusakan ekosekarts dan endokarts, rehabilitasi tutupan vegetasi kawasan karst, rehabilitasi kehati, peningkatan kapasitas, peningkatan pendapatan masyarakat serta pengembangan institusi. Editor: Imam Wahyudi (Sumber: www.tribunnews.com)