image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Berita

Keunikan Kawasan Karst Pangkep-Maros. Terbesar Kedua Setelah China

WORLD HERITAGE. Kawasan Karst Maros-Pangkep yang diakui sebagai terindah kedua setelah China Selatan./ LIONMAG.

KAWASAN Karst Maros-Pangkep ternyata terbesar dan terindah kedua setelah China Selatan.
Laporan: Arini Nurul Fajar, Maros.

BERBICARA kawasan karst memang cukup menarik. Selain memiliki keunikan tersendiri, bentukan dan bentang alam yang khas dengan keunikan flora serta faunanya juga menjadi daya tarik tersendiri. Baik bagi para ilmuwan maupun para pemerhati dan penikmat alam.

Keindahan itu rupanya tak hanya dimiliki China Selatan, namun bisa ditemui di Sulawesi Selatan khususnya di kawasan Maros-Pangkep. Tebing-tebing karst yang tinggi menjulang berbentuk menara (tower karst) yang berdiri sendiri maupun berkelompok membentuk gugusan pegunungan batu gamping yang menjulang tinggi merupakan fenomena alam yang menakjubkan.

Tidak hanya sebatas karstnya saja, kawasan karst Maros-Pangkep memiliki keunikan dan kekhasan tersendiri, yang tidak dimiliki oleh kawasan karst lainnya. Terbukti dengan keanekaragaman flora dan fauna.

Kawasan karst di Kabupaten Maros sendiri ada sekitar 20 ribuan hektare yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (Babul).

Kepala Seksi Pengelola Taman Nasional Babul, Dedy Asriady mengatakan jika berbicara luas kawasan hutan di Taman Nasional Babul sekitar 43.750 hektare. Tapi kawasan karstnya itu 20 ribu di kawasan Taman Nasional.

"Sedangkan kawasan karst Maros-Pangkep yang ada di dalam dan luar Taman Nasional itu jumlahnya kurang lebih 40 ribu, tapi yang masuk Taman Nasional khusus karstnya itu 20 ribu ditambah beberapa kawasan hutan masuk menjadi kawasan taman nasional menjadi 43 ribu," jelas Dedy.

Lebih lanjut, kata dia, kawasan karst Maros-Pangkep yang masuk menjadi taman nasional ada 20 ribu sementara yang di luar taman nasional itu dalam bentuk hutan lindung dan hutan produksi.

"Sebagian itu ada yang dikelola oleh hak guna usaha pertambangan seperti PT Semen Bosowa, PT Semen Tonasa, dan perusahaan marmer," katanya.

Dia mengatakan kawasan karst yang masuk dan di luar Taman Nasional, tetapi yang tidak ditambang itulah dijadikan sebagai destinasi wisata.

"Jadi kawasan karst yang dalam Taman Nasional ada sekitar 20 ribu di antaranya Bantimurung, Leang Leang, air terjun di Mallawa, Biseang Labboro (Bislab), Gunung Bulusaraung Pengkep dan Leang Lonrong di Pangkep itulah beberapa yang menjadi destinasi wisata," katanya.

Banyak hal menarik, kata dia, sehingga karst Maros-Pangkep diusulkan sebagai World Heritage atau warisan dunia sekitar tahun 2000an lalu.

"Pertama karena kawasan karst di Indonesia itu yang sebagian ditunjuk menjadi Taman Nasional itu satu-satunya di Indonesia yang luasnya 40 ribuan, kalau di Jawa hanya sekitar 5 ribuan. Sehingga dikenal sebagai kawasan karst terbesar kedua setelah China Selatan," jelasnya.

Kedua, lanjutnya, kawasan karst itu penuh dengan potensi yang belum tergali. "Mulai dari potensi budayanya yang ternyata banyak peninggalan prasejarah di dalamnya, juga ada gua-gua prasejarah," katanya.

Tidak hanya itu, kata Dedy, dari segi ilmu pengetahuan bidang flora dan fauna ternyata banyak dijumpai tumbuhan dan hewan yang punya ketergantungan dengan kawasan karst.

Dimana jenis fauna yang kerap ditemui di kawasan karst seperti jenis Kera Hitam atau Macaca Maura dan Tersius (Tarsius sp). Sedangkan jenis floranya seperti pohon ara atau beringin (Fiscus sp) dan jenis kayu hitam (Diospyros celebica).

Menariknya lagi, kata dia, kawasan karst itu tata guna air sehingga bisa menghidupi sebagai sumber cadangan air di musim kemarau dan untuk kepentingan-kepentingan seperti di persawahan.

Pengusulan karst Maros-Pangkep sebagai warisan dunia itu, kata dia, inisiasinya sekitar tahun 2000-an.” Sebelum Taman Nasional terbentuk pun tahun 2004 pun itu sudah diinisiasi. Hanya saja salah satu syaratnya kawasan itu harus jelas pengelolanya," katanya.

Karena itu, dibentuknya Taman Nasional merupakan salah satu alasan supaya ada yang bertanggung jawab terhadap calon lokasi World Heritage ketika dimintai pertanggungjawaban.

Namun untuk mengusulkan ke UNESCO, kata dia, ada tahapan-tahapan yang dilakukan sesuai kategori yang ditetapkan.

"Kan ada beberapa kategori yang ditetapkan UNESCO antara lain dari segi Natural, Budaya dan penggabungan keduanya. Nah itu bisa kita pilih," katanya.

Untuk Karst Maros Pangkep sendiri, kata dia kategori yang dipilih adalah yang ketiga. Yaitu penggabungan Natural dan Budayanya. Dia juga menjelaskan ketika Karst Maros-Pangkep dijadikan warisan dunia, tentu ada plus minusnya.

"Keuntungannya karena sudah pasti lokasi-lokasi itu menjadi perhatian dunia. Biasanya kalau perhatian dunia sudah fokus ke kawasan world heritage itu berarti sumbangsih terhadap kelestarian keberadaan warisan dunia dilakukan oleh semua pihak. Baik pihak nasional maupun luar negeri," ungkapnya.

Wujudnya, kata dia, boleh dalam bentuk bantuan finansial ataupun teknik. Keuntungan lainnya, menurut dia promosi terhadap lokasi world heritage itu mendunia. Jadi tidak hanya di pemerintahan Indonesia promosinya.

Sementara luasan karst Maros-Pangkep yang diusulkan sebagai World Heritage, kata dia, belum diketahui secara pasti. Itu dikarenakan deliniasi atau pengukuran batas mana yang masuk kawasan World Heritage belum ditentukan. "Jadi kita belum mendapatkan informasi berapa luasnya," katanya.

Terpisah Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala, Andi Muhammad Said mengakui adanya pengusulan Karst Maros-Pangkep sebagai warisan dunia.

"Memang dulu itu kita sudah nominasikan bersamaan semua termasuk Toraja, tapi ada prioritas," katanya.

Saat ini, kata dia, yang menjadi prioritas adalah Toraja. Sedangkan Karst Maros-Pangkep nanti setelah Toraja.

Keuntungannya setelah menjadi world heritage, kata dia, secara tidak langsung membantu kita untuk mempromosikan dan melestarikannya. Luasan atau wilayah, yang akan dijadikan World Heritage kata dia belum ditentukan karena masih akan dilakukan kajian-kajian.  (*/sil) (Sumber: www.fajar.co.id)