image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Berita

Karst, Lahan Subur Tambang Marmer

Salah satu lokasi penambangan marmer (Foto: Andi A/okezone).

Mengapa harus marmer? Data Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Propinsi Sulawesi Selatan (ESDM Sulsel) Januari 2012 menyebutkan sebanyak  29 izin Usaha Pertambangan (IUP) jenis marmer dikeluarkan di Kabupaten Maros. Wilayah Kabupaten Pangkep dikeluarkan 44 IUP untuk jenis tambang yang sama.

“Market (pasar) marmer Sulawesi Selatan bagus untuk marmer. Bisa bersaing dan lebih murah dari harga marmer produksi Eropa. Pasar penjualan kita dari dalam negeri hingga beberapa negara luar,“ jelas Hamdan Ketua Asosiasi Pengusaha Marmer Indonesia Sulawesi Selatan kepada Okezone.

Hamdan mengungkapkan, sebanyak 45 perusahaan marmer bergabung dalam asosiasi yang dipimpinnya. Data asosiasi ini mengungkapkan, rerata produksi marmer dari Sulsel setiap tahunnya mencapai 20 ribu meter kubik.

Asosiasi itu sendiri terbentuk sejak tahun 1998. Menurut Hamdan, tak hanya wilayah Maros dan Pangkep yang potensial menjadi lokasi tambang marmer. Bandung, Jakarta, Bali, dan Surabaya menjadi pasar lokal marmer asal Sulsel. Sedangkan China, Malaysia, Korea dan Singapura adalah pasar luar negerinya.

“China tidak memproduksi marmer krem dan putih. Sedangkan kualitas marmer Sulsel bisa seperti itu. Harganya yang lebih murah dari Eropa meningkatkan permintaan dari pasar dalam dan luar negeri,“ terang pria yang juga Direktur PT Andalan Prima Mandiri itu.

Beberapa kabupaten, kata dia, dapat dijajaki menjadi lokasi penambangan marmer di Sulawesi Selatan. “Contohnya Luwu, Enrekang dan Toraja. Tapi itu masih butuh pengkajian lebih jauh,“ tuturnya.

Dalam kesempatan terpisah, Kepala Bidang Geologi Umum Dinas ESDM Sulsel Khalil Suaib mengungkapkan, sebanyak 15 kabupaten di Sulsel memiliki potensi karst. Ke-15 kabupaten itu adalah Selayar, Bulukumba, Jeneponto, Takalar, Maros, Pangkep, Bone, Barru, Soppeng, Sidrap, Enrekang, Toraja, Toraja Utara, Luwu Utara, dan Luwu Timur.

“Tambang di kawasan karst masuk dalam jenis tambang bukan logam. Rerata tambang yang dibuka di sana adalah jenis marmer. Ada juga tambang batu gamping untuk bahan baku semen,“ ujarnya.

Perusahaan tambang marmer di Maros dari data Dinas ESDM Sulsel menyebutkan, dari 61 IUP yang diberikan oleh pemerintah, 29 IUP ditujukan untuk tambang marmer. Luasan tambang setiap IUP bervariasi dari 16,7 ha hingga 50 ha.

Tercatat 22 perusahaan dengan kawasan IUP marmer seluas 781 ha merambah masuk ke dalam wilayah enam kecamatan, yaitu Bantimurung (437,8 ha), Lau (163,5), Bontoa (54), Turikale (16,7), Simbang (63), dan Tanralili (46). Surat keputusan IUP itu terbit dalam rentang tujuh tahun terakhir. Masa berlaku IUP bervariasi antara enam hingga 10 tahun.

Sementara itu, di Kabupaten Pangkep, sebanyak 39 perusahaan mendapat 44 IUP dan menguasai lahan tambang marmer seluas 1.270 ha di lima kecamatan. Luas tambang untuk satu IUP berukuran variatif, yang terkecil lima hektare dan terbesar 50 ha.

IUP marmer terluas dimiliki PT Bumi Pangkep Sumber Sejahtera seluas 71 ha dalam dua lokasi di Balocci (50 ha) dan Tondong Tallasa (21 ha). Beda tipis satu hektare saja, PT Batara Indosurya Sejahtera Abadi pemegang tiga IUP yang menambang areal seluas 70 ha di Bungoro dan Labakkang. Diikuti PT Citatah (Tbk) dengan dua IUP pada tiga lokasi seluas total 60 ha.

Tidak jauh dari semaraknya penambangan dalam gugusan karst di Maros dan Pangkep, berdiri areal konservasi bernama Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul). Bersandingnya kedua kawasan itu seperti dua mempelai di atas pelaminan menjadi sebuah paradoks.

“TN Babul itu satu-satunya taman nasional di Indonesia yang ditunjuk pemerintah karena alasan kawasan karst, itu alasan khusus, sebab merupakan kawasan karst terbesar kedua di dunia setelah China. Karst itu bukit kapur dan pasti banyak goanya,” papar Dedy Asriady, Kepala Seksi Bantimurung TN Babul.

Dedi menambahkan, karena bukit kapur dan banyak goa, maka potensi pertambangannya tinggi. Dari 40 ribu hektare kawasan karst Maros-Pangkep, hanya 20 ribu ha yang termasuk TN Babul.

Menurutnya, perusahaan-perusahaan tambang yang ada di sekitar Maros-Pangkep tidak masuk kawasan TN Babul.

Di sisi lain, aktivis lingkungan dari WALHI Sulsel Ibrahim mengemukakan, sebanyak 44 perusahaan marmer termasuk dalam kawasan TN Babul. Kata dia, sebagian besar perusahaan itu sudah ada sebelum penetapan kawasan karst Maros menjadi TN Babul.

“Sebenarnya TN Babul itu tunduk pada kepentingan industri. Perusahaan-perusahaan itu tetap dibolehkan menambang dalam areal konservasi walaupun berada dalam karst kualitas satu. Padahal (kawasan) itu masuk hutan lindung,“ pungkas Mantan Kepala Divisi Tambang WALHI Sulsel itu. (kem) (Sumber: www.okezone.com)