image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Berita

"Spectacular Tower Karst" Milik Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung

Karst Maros Pangkep (Foto: Mangiwau/www.flickr.com)

Jakarta - Indonesia ternyata memiliki pegunungan karst terluas kedua di dunia,yang terletak di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Sulawesi Selatan. Karena keindahannya yang begitu memesona, pegunungan kapur tersebut diberi gelar "Spectacular Tower Karst". Sayang, keindahan tempat wisata ini belum banyak dikenal masyarakat.

"Kawasan Ekosistem Karst ini merupakan yang kedua terluas setelah Cina, terdapat pada dua wilayah, yaitu Maros dan Pangkep," tutur Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Sri Winenang, di sela-sela pameran "Deep and Extreme Indonesia 2012", di Jakarta Convention Center, pada pekan lalu.

Sri Winenang menambahkan, Maros menjual keindahan alam air terjun, dan gua-gua dibawah tanah yang menyimpan jejak purba, gerabah, dan tulang. Sedangkan Pangkep, menghadirkan kebudayaan masa kuno berupa gambar dan relief di dinding-dinding gua.

Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, yang memiliki luas lebih dari 45 ribu ha, juga memiliki keanekaragaman flora dan fauna yang unik dan mempesona. Hal ini dikarenakan taman nasional ini terletak di peralihan antara zona Asia dengan zona Australia. Beberapa binatang yang menjadi kekhasan lokasi ini adalah Kupu-Kupu, Kumbang, Musang Sulawesi, Kera Hitam Sulawesi, Kuskus, Tarsius, dan berbagai jenis burung.

"Karena kelimpahannya, Taman Nasional ini bahkan diberi julukan The Kingdom of Butterfly oleh Alfred Russel Wallace" jelas Sri Winenang,

Namun, keunikan dan pesona dalam taman nasional ini belum sepenuhnya tereksplore, terutama pada wisata minat khusus. Hal ini dikarenakan Taman Nasional ini belum banyak dikenal masyarakat sebagi salah satu tujuan wisata. Padahal jaraknya cukup dekat, yaitu hanya berjarak 15 km dari Bandara Sultan Hasanuddin, akses jalan dan transportasi ke arah sana juga sudah baik.

Selama ini, masyarakat hanya mengunjungi lokasi wisata massal, tetapi lokasi wisata minat khusus seperti gua belum tersentuh. "Tahun 2011, tercatat sekitar 600 ribu orang datang hanya mengunjungi taman nasional ini, bukan untuk mencoba wisata minat khusus," ujar Sri Winenang.

Sri Winenang mengungkapkan, selain penjelajah Prancis, belum ada yang mampu menjelajahi isi gua. "Yang telah menjelajahi gua tersebut hanya penjelajah asing dari Prancis sejauh 20 km. Dari Indonesia belum ada yang pernah coba. Mungkin dipengaruhi faktor medan yang sulit, peralatan yang lebih canggih, dan mental juga," demikian Sri Winenang. [WS] (Sumber: www.gatra.com)