image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Artikel

Keanekaragaman Jenis Anggrek Alam di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung

Anggrek bulan (Phalaenopsis amabilis).

Sulawesi merupakan pulau terbesar keempat di Indonesia. Keunikan pulau ini dikenal karena letaknya pada garis Wallacea yang merupakan pusat pertemuan persebaran tumbuhan dari Asia dan Australia dan diduga mempunyai keanekaragaman tumbuhan yang sangat tinggi (Van Steenis, 1950). Sulawesi juga dikenal memiliki cukup banyak kawasan konservasi. Salah satu kawasan konservasi tersebut adalah Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN. Babul) di Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.

Anggrek merupakan salah satu tumbuhan yang memiliki keanekaragaman sangat tinggi. Walaupun banyak informasi yang mengungkapkan tumbuhan ini, namun hingga saat ini informasi detail mengenai distribusi dan karakter ekologinya khususnya di kawasan konservasi masih sangat terbatas (Sulistiarini & U.W. Mahyar, 2003). Inventarisasi jenis-jenis anggrek di Sulawesi dilaporkan oleh Smith (1929) diperkirakan terdapat sekitar 161 jenis anggrek. Publikasi terakhir yang merupakan penelitian pendahuluan yang dilakukan oleh Thomas & Schuiteman (2002) untuk anggrek yang ada di Sulawesi dan Maluku menyebutkan ada sekitar 820 jenis, 60 % (548 jenis) diantaranya dijumpai di Sulawesi. Jenis-jenis tersebut merupakan koleksi yang disimpan di BO (Herbarium Bogoriense), CP (Herbarium Departmen of Plant Pathologi, Copenhagen), G (Herbarium Conservatoire et Jardin Botaniques de la Ville de Geneve), K (Kew), L (Leiden), NSW (National Herbarium of New South Wales) dan PNH (Philippine National Herbarium). Koleksi tersebut sebagian besar dikoleksi dari Sulawesi Selatan.

Dalam rangka penyedian data dan Informasi jenis anggrek alam di TN. Babul, Balai TN. Babul melakukan kegiatan identifikasi keanekaragaman jenis anggrek alam. Hasil dari identifikasi ini diharapkan dapat digunakan sebagai informasi keanekaragaman dan sebaran anggrek alam, serta bahan untuk konservasi anggrek alam di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.

A. Keanekaragaman Jenis Anggrek Alam

Hasil identifikasi keanekaragaman jenis anggrek alam di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN. Babul) telah berhasil diperoleh sedikitnya 85 jenis anggrek alam yang terdiri atas 43 marga. Diantaranya terdapat 66 jenis anggrek alam yang teridentifikasi pada tingkat jenis, dan 19 jenis pada tingkat marga.

Pada kegiatan ini, setiap jenis anggrek alam memiliki karakteristik khusus yang dibagi menjadi beberapa kategori yaitu tipe tempat tumbuh dan tipe habitat dimana anggrek alam tersebut tumbuh. Tipe tempat tumbuh anggrek alam dibagi kedalam 4 kategori, yaitu epifit, terrestrial, litofit dan saprofit. Sedangkan habitat anggrek alam dibagi kedalam 3 kategori, yaitu area vegetasi hutan yang berbatasan langsung dengan tepi sungai (HTS), area hutan dengan pola vegetasi yang rapat dan lembab (HTL), dan area hutan dengan pola vegetasi yang tidak terlalu rapat/cenderung terbuka (HVT). Semakin sedikit jumlah tipe habitat yang dapat ditumbuhi anggrek alam, maka diduga semakin spesifik pula kondisi habitat dimana anggrek alam tersebut tumbuh.

Vandopsis lissochiloides memiliki kemampuan adaptasi yang baik untuk dapat menyesuaikan terhadap ketiga tempat tumbuh yang berbeda, yaitu baik secara epifit, terestrial, maupun litofit.

B. Tipe Tempat Tumbuh

Sebagian besar anggrek alam di kawasan TN. Babul hanya memiliki 1 tipe tempat tumbuh secara epifit atau terrestrial saja, yaitu 80 Jenis dari 85 jenis yang ditemukan. Pada kegiatan ini  pula terdapat 4 jenis spesies anggrek alam yang dapat tumbuh baik pada 2 tipe tempat tumbuh, yaitu Appendicula laxifolia, Appendicula cornuta, Calanthe vestita dan Didymoplexis pallens. Sedangkan 1 jenis anggrek alam yang dapat tumbuh pada 3 tipe tempat tumbuh diduga memiliki kemampuan adaptasi yang baik untuk dapat tumbuh baik secara epifit, terrestrial maupun litofit, yaitu Vandopsis lissochiloides. Pada kegiatan ini, tidak ada anggrek alam yang spesifik hanya tumbuh secara litofit atau saprofit.

Terdapat sekitar 66 jenis anggrek alam yang hanya ditemukan hidup secara epifit. Sedangkan 14 jenis anggrek alam yang hanya ditemukan tumbuh secara terrestrial. Hanya 4 jenis anggrek alam yang ditemukan memiliki 2 tipe tempat tumbuh, dan 1 jenis anggrek alam yang ditemukan tumbuh pada 3 tipe tempat tumbuh, yaitu baik secara epifit, terestrial, maupun litofit. Anggrek alam Vandopsis lissochiloides memiliki kemampuan adaptasi yang baik untuk dapat menyesuaikan terhadap ketiga tempat tumbuh yang berbeda. Meskipun diketahui dapat tumbuh pada 3 tipe tempat tumbuh, anggrek alam V. lissochiloides ini lebih dominan tumbuh secara litofit pada bebatuan tepi sungai dan secara epifit di tepian sungai. Sangat sedikit sekali yang memilih tumbuh secara terestrial. Sistem perakarannya yang kuat dan berdiameter besar mampu menembus lapisan tanah dan celah-celah bebatuan untuk memperoleh air dan unsur hara.

1. Anggrek Alam Epifit

Terdapat sekitar 69 jenis anggrek alam yang tumbuh secara epifit di kawasan TN. Babul. Sebagian besar anggrek alam epifit ini menempel pada batang pepohonan yang tumbuh di tepi sungai, area hutan dengan pola vegetasi yang rapat dan lembab, dan area hutan dengan pola vegetasi yang tidak terlalu rapat/cenderung terbuka. Kelembaban udara yang relative tinggi dengan sirkulasi udara yang tinggi pula nampaknya sangat mendukung pertumbuhan anggrek alam epifit, terutama karena akar anggrek alamepifit menyerap kelembaban dari udara sekitar, sedangkan sirkulasi udara yang lancar akan menjaga kondisi tanaman tidak terlalu basah dan lembab yang dapat menyebabkan busuk.

Anggrek epifit hidup menempel pada tumbuhan inang. Hal ini disebabkan karena jenis tumbuhan inang umumnya memiliki kulit yang tebal, lunak, permukaannya kasar, kulit tidak mengelupas dan lepas, tajuknya rimbun dan daun tidak menggugurkan seluruh daun pada musim kemarau sehingga dapat memberikan iklim mikro yang lebih sesuai untuk anggrek di kawasan ini.

Anggrek alam epifit yang cukup sering dijumpai antara lain Aerides inflexa, Coelogyne celebensis, Dendrobium crumenatum dan Pholidota imbricata. Dari anggrek alam epifit Appendicula laxifolia, Bulbophyllum agapethoides, Bulbophyllum auritum, Bulbophyllum pachyneuron, Ceratostylis sima, Coelogyne celebensis, Dendrobium rantii, Dendrobium thysanophorum dan Luisia celebica merupakan anggrek alam endemik Sulawesi

Phalaenopsis amboinensis jenis yang penyebarannya luas, namun jumlah individu di habitatnya sangat jarang dijumpai.

2. Anggrek Alam Terestrial

Terdapat sekitar 17 jenis anggrek alam tumbuh secara terestrial, 2 jenis diantaranya juga tumbuh secara epifit, 1 jenis juga tumbuh secara saprofit, dan 1 jenis juga tumbuh secara epifit sekaligus litofit. Anggrek alam terestrial sebagian besar menyukai kondisi daerah perakaran yang lembab bahkan cenderung basah. Tipe habitat di sekitar tepian sungai dan hutan dengan vegetasi yang rapat dan lembab merupakan wilayah dimana banyak anggrek alam terestrial. Diduga anggrek alam terrestrial memiliki struktur perakaran dan system fisiologis yang lebih toleran terhadap kelembaban tinggi.

Salah satu jenis anggrek alam terestrial yang unik yaitu Calanthe vestita. Dari berbagai referensi telah dilaporkan bahwa anggrek  alam ini tumbuh secara terrestrial dan terkadang litofit, namun di kawasan TN. Babul ternyata juga tumbuh baik secara epifit.

Calanthe vestita tumbuh secara terrestrial dan terkadang litofit dan epifit.

C. Tipe Habitat

Terdapat sekitar 50 jenis anggrek alam yang  merupakan anggrek alam yang spesifik menghuni pada salah satu jenis tipe habitat saja, karena tidak dapat ditemukan di tipe habitat lainnya. Anggrek alam yang hanya menghuni satu tipe habitat saja lebih mudah terancam punah di alam karena daya adaptasinya terhadap faktor lingkungan eksternal sangat terbatas. Apabila terjadi kerusakan habitat atau terjadi eksploitasi besar-besaran pada salahsatu area tipe habitat tertentu, maka populasi anggrek alam ini akan turun secara drastis karena sangat sulit untuk berkembangbiak pada tipe habitat yang lain.

Sedangkan jenis anggrek alam yang menghuni dua tipe habitat terdapat 25 jenis anggrek alam, dan 10 jenis anggrek alam yang dapat tumbuh pada ketiga tipe habitat. Anggrek alam yang memiliki kemampuan adaptasi luas akan memliki populasi yang cenderung stabil meskipun terjadi kerusakan pada salah satu atau beberapa tipe habitat karena kemampuannya untuk berkembangbiak tidak dibatasi oleh faktor lingkungan yang spesifik. Selaini tu, anggrek alam tipe ini juga memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai komoditas untuk dibudidayakan oleh masyarakat, mengingat kemampuannya untuk menyesuaikan diri yang baik pada berbagai kondisi lingkungan.

D. Sebaran Anggrek Alam

Dari 13 lokasi yang dieksplorasi di TN. Babul, lokasi Mallawa (Bentenge dan Ballanglowe), Pattunuang (di sekitar sungai Pattunuang), Tondong Tallasa (Dusun Bonto Birao) dan Gunung Bulusaraung ditemukan banyak jenis anggrek alam tumbuh. Di lokasi tersebut banyak jenis anggrek alam karena kelembaban, intensitas cahaya dan temperatur di sekitarnya lebih mendukung untuk kehidupan beberapa jenis anggrek alam.

Terdapat 4 jenis anggrek alam yang paling dominan di TN. Babul, yaitu Aerides inflexa, Coelogyne celebensis, Dendrobium crumenatum dan Pholidota imbricata. Dominasi ini didasarkan atas sebarannya yang mencakup di semua tipe habitat serta jumlah individu yang sering dijumpai selama eksplorasi dilaksanakan. Sementara itu jenis-jenis anggrek alam yang sebarannya terbatas hanya ditemukan di satu lokasi saja adalah Abdominea minimiflora, Bulbophyllum agapethoides, Bulbophyllum auritum, Bulbophyllum odoratum, Bulbophyllum orthoglossum, Bulbophyllum pachyneuron, Bulbophyllum sessile, Calanthe triplicata, Calanthe vestita, Ceratostylis sima, Ceratostylis sp., Eria flavescens, Eria javanica, Eria merrillii, Eria sp.1, Eria sp.3, Flickingeria fimbriata, Gastrochilus sororius, Liparis elegans, Malleola sp., Pholidota articulata, Taeniophyllum malianum, Thrixspermum purpurascens, Trichotosia ferox dan Vanda sp. Selain itu, terdapat juga jenis yang penyebarannya luas, namun jumlah individu di habitatnya sangat jarang dijumpai yaitu Phalaenopsis amabilis dan Phalaenopsis amboinensis.

Kerusakan habitat dan eksploitasi liar anggrek alam memungkinkan populasinya anggrek alam di habitat aslinya di TN. Babul berkurang. Apabila populasinya di habitatnya berkurang, maka proses regenerasinya secara alami akan sangat terhambat. Oleh karena itu, sangatlah penting untuk menjaga kelestarian populasi anggrek alam ini dihabitat aslinya di TN. Babul.

Dokumentasi Anggrek Alam (Orchidaceae) di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung

DAFTAR PUSTAKA[BTN BABUL] Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. 2011.  Identifikasi Anggrek Alam di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Maros: BTN Babul.

Smith, J.J. 1922. Orchidaceae selebenses kjellbergianaea (Selebenses Expedition 1929) Bot. Jahr. Band LXV, Heft 4/5.

Sulistiarini D dan Mahyar UW, 2003. Jenis-jenis Anggrek T.N.B.N. Wartabone. Pusat Penelitian Biologi–LIPI.
Penulis: Putri Cenderawasih dan Kamajaya Shagir. Dokumentasi: Kamajaya Shagir