image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Berita

Kontribusi Karst Bisa Dihitung Nilai Ekonominya

Ahmad (18), mengangkut hasil panen di Dusun Rammang-Rammang, Desa Salenrang, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Sabtu (7/4/2012), dengan latar belakang pemandangan batu gamping (karst). Di Rammang-Rammang terdapat karst seluas sekitar 10.000 hektar yang masih terjaga kelestariannya sehingga menjadi sumber air bagi warga sekitar. KOMPAS/ASWIN RIZAL HARAHAP.

BOGOR, KOMPAS.com - Ketimbang memberikan hak kepada perusahaan tambang untuk menggerus kapur di perbukitan karst, secara ekonomi mungkin lebih menguntungkan kalau keberadaan karst dipertahankan.

 

Selama ini, pemerintah daerah dan pengusaha hanya menghitung nilai bagi hasil pertambangan kapur. Namun, kerugian yang dialami masyarakat jika karst hilang terabaikan. Padahal, nilai ekonomi keberadaan karst sebenarnya bisa dihitung dalam rupiah.

"Belum ada yang menghitung secara rinci nilai rupiah dari jasa fauna," kata Yayuk R. Suhardjono, peneliti zoologi kawasan karst, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dalam acara di Cibinong, Bogor, Kamis (3/5/2012).

Dengan mengetahui, bisa diperhitungkan pula rupiah yang hilang jika kawasan karst rusak.

Saat ini, ada kesulitan dalam mengkomunikasikan perlunya pelestarian kawasan karst. Pengungkapan biodiversitas belum cukup mumpuni untuk membuat publik sadar. Diharapkan, hitung-hitungan rupiah bisa membuat masyarakat memahami.

Yayuk menuturkan bahwa kawasan karst di Indonesia kaya biodiversitas. Salah satu kawasan karst di Indonesia, Maros-Pangkep, menjadi hotspot biodiversitas, terkaya di dunia.

Tingginya biodiversitas perlu divaluasi nilainya. Lingkungan yang diberikan kawasan karst bagi kesejahteraan manusia perlu dihitung sehingga bisa menjadi alasan konservasi.

Contoh kecil, kawasan karst dikenal menghasilkan sarang walet yang memberikan penghasilan bagi warga lokal. Perlu diketahui, berapa kerugian yang diterima jika kawasan karst rusak.

Karst juga dikenal menjadi habitat kelelawar yang dikenal sebagai penyerbuk durian. Jumlah bunga yang diserbuki kelelawar dalam satu waktu perlu diketahui sehingga bisa diperhitungkan kerugian jika karst rusak dan kelelawar hilang. (Sumber: www.kompas.com)