image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Berita

Karst di Luar Kawasan Lindung Lebih Terancam

Salah satu lokasi penambangan marmer (Foto: Andi A/okezone).

KKawasan karst yang berada di luar zona lindung lebih terancam dari kegiatan eksploitasi seperti tambang semen dan marmer.

"Kalau yang berada di kawasan dilindungi sudah jelas terlindungi. Yang tidak terjamin adalah yang di luar kawasan lindung, " kata Amran Achmad, Kepala Laboratorium Sumber Daya Hutan dan Ekowisata, Universitas Hasanuddin.

Amran mencontohkan kasus di kawasan karst Maros Pangkep di Sulawesi. Dari 40.000 hektar kawasan karst yang ada, hanya 20.000 hektar yang masuk zona dilindungi.

"Di luar kawasan, masih ada kawasan karst yang terpecah-pecah dalam beberapa lokasi," papar Amran dalam Lokakarya "Ekosistem Karst Untuk Kelangsungan Hidup Bangsa" di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Cibinong, Kamis (3/5/2012).

Kawasan karst yang berada di luar zona dilindungi bukan berarti kawasan yang minim kekayaan biologi maupun arkeologi.

Amran mengatakan, "Kalau kawasan karst-nya terpecah-pecah, justru biodiversitasnya lebih khas."

Ia juga menambahkan bahwa banyak gua di kawasan karst yang tidak masuk area dilindungi menyimpan kekayaan arkeologis, berupa artefak peninggalan kehidupan di masa lampau.

Saat ini, aktivitas pertambangan semen berlangsung di kawasan karst Maros Pangkep. Pertambangan berlangsung di dekat karst yang punya kekayaan arkeologis sehingga berpotensi menciptakan gangguan bagi ekosistem karst.

Peneliti LIPI yang menggeluti Kala Cemeti, Cahyo Rahmadi, mengatakan bahwa pertambangan, alih fungsi kawasan karst serta aktivitas manusia terbukti mengganggu keseimbangan ekosistem.

"Pada daerah yang tidak terganggu, proporsi jenisnya bagus. Kalau di daerah yang terganggu, ada semut yang jumlahnya sangat meningkat, jomplang. Ini jelas salah," kata Cahyo.

Untuk mendukung pengelolaan kawasan karst yang baik, Amran mengusulkan perlunya pendataan potensi kawasan. Wilayah yang memiliki kekayaan geologis, arkeologis maupun geologis seharusnya dilindungi.

Kawasan karst Maros Pangkep adalah salah satu hotspot karst di dunia, paling kaya biodiversitas. (Sumber: www.kompas.com)