image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Berita

Ungkap Kekayaan Karst Sebelum Dirusak

Kawasan Karst Maros-Pangkep yang diakui sebagai terindah kedua setelah China Selatan./ LIONMAG.

JAKARTA, KOMPAS.com - Kawasan karst menyimpan kekayaan arkeologi, geologi dan biologi. Jejak peninggalan manusia purba, menara kapur yang cantik dan beragam biota terdapat di kawasan karst.

"Kekayaan kawasan karst harus diteliti sebelum karst-nya dirusak," ungkap Yayuk R Suhardjono, peneliti biota karst dari Puslit Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Yayuk mengungkapkan, kawasan karst kini menghadapi beragam ancaman. Sumber daya alam di karst seperti kapur, semen, marmer, fosfat dan guano ditambang. Sementara eksploitasi telah terjadi, pengungkapan kekayaan karst berlangsung lambat.

"Keanekaragaman hayati kawasan karst belum sepenuhnya terungkap," kata Yayuk dalam Lokakarya "Ekosistem Karst Untuk Kelangsungan Hidup Bangsa" di LIPI Cibinong, Kamis (3/5/2012).

Kekayaan arkeologis sudah dieksplorasi namun belum seluruhnya. Sedangkan kekayaan geologis justru terancam. Contohnya, menara karst cantik di kawasan karst Maros-Pangkep berada di luar kawasan lindung, terancam oleh aktivitas tambang semen.

Eko Haryono, peneliti karst dari Universitas Gadjah Mada (UGM) mengungkapkan urgensi dukungan penelitian kawasan karst, baik dalam konteks arkeologis, biologis maupun geologis.

"Yang menjadi masalah saat ini adalah kurangnya dukungan riset untuk mengangkat potensi kawasanm karst. Dalam geologi misalnya, publikasi karst tertua itu tahun 1936, dan itu oleh orang Jerman," katanya.

Pengungkapan biodiversitas karst menjadi perhatian Bambang Prasetya, Deputi Kepala Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI. "Setiap biota itu kan punya gen. Gen ini yang suatu saat mungkin bisa kita manfaatkan," katanya.

Sementara, Yayuk menekankan pentingnya valuasi kekayaan kawasan karst. Diharapkan, pengungkapan kekayaan dan valuasinya dalam rupiah akan membantu membangun kesadaran pentingnya konservasi kawasan karst ini.

Eko mengungkapkan, dalam pengungkapkan kekayaan karst, perlu ditunjuk satu pihak sebagai pengelola atau wali data. "Ini juga perlu dipikirkan, siapa nanti yang akan jadi walinya?" tuturnya.

Luas kawasan karst di Indonesia mencapai 15,4 juta hektar. Indonesia menyimpan hotspot biodiversitas karst di Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan. Kekayaan biota di wilayah ini adalah salah satu yang tertinggi di dunia.(Sumber: www.kompas.com)