image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Artikel

Pendidikan Konservasi (school visit) 2011 Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung

Kuis apa nama satwa ini ?

"Explore my jungle"

Adik-adik, ada yang tau ini binatang apa? “ALOOOOO!!!”

Kalo yang ini apa? “MEMUUUUU!!!”..

 

Itulah sepenggal diskusi di SD Negeri 24 Bajeng, Desa Tompobulu, Kec. Balocci, Kab. Pangkep. Antusiasme siswa dalam menebak satwa yang diperlihatkan ternyata tidak dibarengi dengan pengetahuan memadai terhadap kehati. Satwa endemic dan dilindungi tidak diketahui siswa-siswa ini secara mendalam. Jika ditanya mengenai penguin, gajah, atau harimau mereka akan cepat menjawab, karena binatang-binatang ini ternyata lebih familiar di mata dan pengetahuan mereka, dibanding “alo” maupun “memu” yang jelas-jelas berada di hutan sekitar tempat tinggal mereka dan nyata dilindungi.

Meskipun demikian, siswa – siswi ini tidak serta merta tidak mengetahui mengenai flora dan fauna di sekitar mereka. Terdapat kearifan lokal disini, hampir setiap flora dan fauna di kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung telah teridentifikasi oleh masyarakat sekitar. Bahkan, mungkin masyarakat sekitar umumnya dan siswa – siswi ini lebih mengetahui keberadaan mereka, habitat secara umum, maupun jenis pakan satwa tersebut. Hanya saja, secara ilmiah dan manfaat serta status dari flora fauna ini yang perlu disosialisasikan dan disadarkan sejak dini, oleh karena itu pendidikan konservasi dalam rangka school visit ini menjadi salah satu cara memperkenalkan dan memunculkan pengetahuan lokal agar masyarakat lebih peduli dalam menyikapi keberadaan flora fauna tersebut.

Beberapa satwa yang berhasil diidentifikasi oleh siswa Sekolah dasar tersebut antara lain Alo yang merupakan nama local untuk mengidentifikasi burung julang atau rangkong (Aceros cassidix). Memu merupakan nama untuk kuskus beruang (Ailurops ursinus). Kedua satwa ini merupakan satwa endemic sulawesi yang ada di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Rangkong (Alo) masuk dalam appendix II CITES dan kuskus beruang (memu) merupakan satwa vulnerable (rentan) kategorisasi IUCN (Mustari dkk, 2011).

Materi dan Peserta Kegiatan

Sasaran dan peserta kegiatan yang terlibat merupakan Sekolah Dasar dengan siswa – siswi yang tinggal di desa sekitar kawasan taman nasional. Prioritas pemilihan sekolah dasar adalah yang rata – rata muridnya memiliki intensitas yang cukup tinggi dan berinteraksi terhadap kawasan. Area ekowisata atau zona yang akan diarahkan menjadi lokasi wisata adalah salah satu criteria pemilihan. Kegiatan ini dilakukan selama bulan Oktober 2011 dengan melibatkan siswa kelas 4 – 5 Sekolah Dasar. Peserta masing – masing sekolah sebanyak 20 – 30 Orang. Adapun materi yang diberikan antara lain :

Materi Hutan dan Ekosistem Hutan.

1. Hutan dan Ekosistem Hutan

Dalam materi ini ditekankan pada pentingnya hutan, ciri – ciri hutan, manfaat hutan (jasa lingkungan air dan wisata), dan bencana akibat kerusakan hutan. Materi disertai dengan contoh – contoh kasus yang nyata di sekitar mereka.

2. Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung

Materi ini merupakan perkenalan bagi siswa terhadap kawasan hutan yang ada di sekitar tempat tinggal mereka, yang selama ini cenderung tidak diketahui oleh masyarakat. Tujuan utama disini adalah persuasi terhadap anak – anak untuk turut serta menjaga kawasan taman nasional dan meneruskan informasi terhadap masyarakat terutama masyarakat daerah penyangga taman nasional. Materi tersebut antara lain :

a. Asal nama Bantimurung Bulusaraung

b. Tahun berdiri dan status kawasan

c. Peta kawasan

d. Flora fauna dan keunikan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.

Materi Flora Fauna yang Dilindungi

3. Flora Fauna yang Dilindungi

Tujuan dari materi ini adalah memperkenalkan pada anak – anak flora fauna yang ada di sekitar, terutama flora fauna endemic dan dilindungi.

Adapun flora fauna yang diperkenalkan antara lain :

a. Mamalia: kuskus beruang-sulawesi

b. Primate: Macacca maura, Tarsius fuscus

c. Insekta: kupu kupu, Troides helena, Troides hipolytus, Troides haliphron, dan Chetosia myrina.

d. Burung: elang Sulawesi, rangkong, kangkareng

e. Flora: eboni (Diospyros celebica).

Materi Upaya Konservasi.

4. Upaya-upaya Konservasi

Partisipasi anak – anak dalam pelestarian alam dijelaskan secara sederhana di materi ini. Apa saja yang bias dilakukan? Apa saja yang tidak boleh dilakukan? untuk turut serta dalam upaya – upaya konservasi.

Pelaksanaan kegiatan

Antusiasme siswa dan pihak sekolah cukup tinggi ini terlihat dari kerjasama sekolah dalam pelaksanaan kegiatan. Apresiasi sekolah terhadap isi dan materi pendidikan konservasi inipun  Pihak sekolah mengharapkan kegiatan ini dapat dilaksanakan secara rutin, hal ini dikarenakan pendidikan konservasi merupakan sebuah ilmu yang baru bagi siswa, sehingga siswa memiliki kapasitas lebih. Dari sisi siswa, siswa menjadi lebih mengenal alam sekitar terutama di lingkungan tempat tinggal mereka. Kegiatan ini dilakukan mulai dari tanggal 5 Oktober hingga 12 Oktober dengan model roadshow-penyuluhan di tingkat sekolah. Sekolah – sekolah yang ikut berpartisipasi, antara lain :

1. SD Negeri 5 Samangki, Kec. Simbang, Kab. Maros

2. SD Inpres 25 Kalabbirang, Kec. Bantimurung, Kab. Maros

3. SD Inpres 26 Bantimurung, Desa Jenetaesa, Kec. Simbang, Kab. Maros

4. SD N 6 Bulu-bulu, Desa Tompobulu, Kec. Balocci, Kab. Pangkep

5. SD N 24 Bajeng, Desa Tompobulu, Kec. Balocci, Kab. Pangkep

Pemilihan sekolah ini didasarkan pada lokasi sekolah yang berada di daerah penyangga kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, sehingga baik guru maupun siswa berinteraksi dengan kawasan hutan. Lokasi ekowisata air terjun Bantimurung dan Gunung Bulusaraung menjadi salah satu dasar criteria pemilihan yang digunakan sebagai dasar pemanfaatan jasa lingkungan hutan.

Reaksi Sekolah dan Siswa

“…bisa diadakan kegiatan seperti ini mbak, tapi yang rutin...,” sepenggal komentar dari salah satu Kepala Sekolah. Antusiasme sekolah dan guru sangat diluar dugaan tim yang melaksanakan pendidikan konservasi / school visit.

Berdasarkan hasil survey monitoring kegiatan pendidikan konservasi, guru dan sekolah berharap kegiatan serupa dilaksanakan secara rutin. Pengetahuan siswa dan guru terhadap Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung masih dirasa sangat minim, sehingga pihak sekolah berharap pengetahuan mengenai flora fauna baik yang dilinduni maupun tidak dapat dikenalkan dan dipahami secara mendalam oleh siswa, sehingga kegiatan konservasi dapat diperkenalkan sejak dini.

Penulis dan Dokumentasi: Erista Murpratiwi