image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Berita

Si Vampir Palsu Pengendali Hama Tanaman

Vampir Palsu (Megaderma spasma). Foto / DS Balete.

Surabaya - Istilah vampir sering digunakan menggambarkan sesuatu yang menyeramkan dan bersifat pembunuh. Namun, makhluk ini disebut vampir palsu. Dinamakan vampir palsu karena hewan kelelawar yang menghuni Gua Sio, Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Malang ini justru bertugas pengendali hama tanaman.

Temuan para mahasiswa pecinta alam Universitas Brawijaya (Impala Unibraw) ini bukan hanya berarti menggambarkan kondisi alam di Gua Sio yang masih natural. Karena selain sebagai tangkapan air, gua yang berada di posisi lembah ini pun rupanya masih dihuni populasi kelelawar yang bisa membantu petani setempat.

Saat menemukan kelelewar Megaderma spasma atau Vampire Palsu (Asian False vampires) di pedalaman gua gugusan karst, salah satu anggota tim bernama Eny Tazkiyah yakin hewan ini hanya tersedia satu genus dan satu spesies. Padahal, menurutnya famili Megadermatidae di dunia mempunyai empat genus dan lima spesies.

Di Indonesia, sebaran hewan ini sudah menuju ke kawasan Sulawesi, Sumatera, Jawa, Kalimantan, Kepulauan Maluku. Hewan ini tidak menghisap darah. Melainkan anggota Megadermatidae ini memakan serangga, sehingga dikenal sebagai pengendali hama tanaman dan penghasil pupuk guano.

"Dikatakan vampir palsu karena tidak menghisap darah. Anggota Megadermatidae ini memakan serangga, sehingga dikenal sebagai pengendali hama tanaman dan penghasil pupuk guano," kata Eny Tazkiyah yang masih terdata menjadi mahasiswa Perikanan dan Kelautan Universitas Brawijaya, Selasa (5/6/2012).

Seperti spesies kelelawar pada umumnya, Megaderma Spasma merupakan hewan yang memanfaatkan gua sebagai tempat berlindung dan berkembang biak. Namun, mereka keluar gua untuk mencari makan.

Kelelawar dikelompokkan dalam hewan trogloxene. Yakni kelompok hewan yang memanfaatkan gua untuk salah satu bagian hidupnya. Sedangkan untuk mencari makan kelompok ini harus keluar gua.

"Ciri-ciri morfologi vampire palsu adalah telinga besar dan tegak, bersambungan antara kanan dan kiri pada bagian pangkalnya. Tragus panjang dan terbelah. Ekor sangat pendek atau bahkan tidak ada. Kalaupun ada pasti terbenam dalam selaput kulit antar paha yang tumbuh baik," tutur Ermawati yang juga masih menjadi mahasiswa Pertanian Universitas Brawijaya semester 4.

Penelitian seputar fauna gua ini difokuskan untuk dua hal, identifikasi dan inventarisasi. Sebab menurut Roim, salah satu anggota tim, kawasan Gua Sio, Desa Kedungsalam, Kecamatan Donomulyo Malang ini ke depannya diprediksi akan dijadikan tempat penambangan batu gamping. Namun, sebelum itu terjadi, anggota IMPALA Unibraw ini ingin menggali potensi non tambang sebagai pertimbangan pengelolaan kawasan karst.

"Suatu saat lokasi ini (Gua Sio) ini kami prediksi pasti akan dijadikan tepat penambangan batu gamping. Sebelum itu terjadi, kami berusaha menggali potensi non tambang. Supaya ada pertimbangan pengelolaan kawasan karst, juga agar warga melek dan tahu manfaat Gua Sio untuk kehidupan mereka," terang Roim. (nrm/fat)(Sumber: www.surabaya.detik.com)