image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Artikel

Primata Kecil Tarsius (Tarsius fuscus) di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung

Balao cengke (Tarsius fuscus) di TN. Bantimurung Bulusaraung. (foto: Iqbal Abadi Rasjid).

Sulawesi memiliki luas 187.882 km² dan merupakan pulau terbesar dan terpenting di daerah biogeografi “Wallacea“. Daerah biogeografi Wallacea meliputi Pulau Sulawesi dan pulau-pulau lain yang berada di antara garis Wallacea di sebelah barat dan garis Lydekker di sebelah timur. Ditinjau dari sejarah geologinya, pulau Sulawesi sangat menarik, karenya diduga di masa lampau pulau ini tidak pernah bersatu dengan daratan manapun (Hall dalam Shekelle dan Leksono, 2004).

Keadaan terisolasi dalam kurun waktu yang lama memungkinkan terjadinya evolusi pada berbagai spesies, sehingga pulau Sulawesi mempunyai tingkat endemisitas yang tinggi (Shekelle dan Leksono, 2004). Selain itu, Sulawesi merupakan pulau yang memiliki keanekaragaman hayati yang beragam, kekayaan ini meliputi keanekaragaman flora dan fauna endemik yang tidak dijumpai di daerah lain di Indonesia. Adapun tingkat endemisitas yang tinggi terjadi pada kelompok Mamalia. Dari 127 jenis hewan menyusui yang terdapat di Sulawesi, 61% di antaranya bersifat endemik (Whitten et al. 2002 dalam Shekelle dan Leksono, 2004).

Salah satu spesies endemik yang terdapat di Pulau Sulawesi yaitu tarsius yang setiap spesiesnya tersebar secara endemik di pulau Sulawesi dari Kepulauan Sangihe di sebelah utara, hingga Pulau Selayar. Genus ini berasal dari famili Tarsiidae, satu-satunya famili yang bertahan dari ordo Tarsiiformes. Tarsius dikenal dengan sebutan binatang hantu, yang hidup nokturnal atau aktif di malam hari, dengan bentuk wajah seperti monyet kecil bermata merah, besar dan bulat yang digunakan untuk melihat pada malam hari (Dephut 1978).

Tarsius tergolong dalam satwa yang dilindungi berdasarkan berdasarkan Peraturan Perlindungan Binatang Liar Tahun 1931 dan Peraturan Pemerintah No.7 Tahun 1999. Satwa ini termasuk Appendiks II dalamConvention on International Trade in Endangered Species (CITES 2003) dan termasuk vulnerable dalam Red List yang dikeluarkan oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN 2011).

Keunikan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN. Babul) terletak di Kabupaten Maros dan Pangkep Sulawesi Selatan adalah sebagian besar kawasannya merupakan ekosistem hutan bukit kapur (limestone forest) yang memiliki potensi sumberdaya alam hayati dan keanekaragaman jenis flora dan fauna yang tinggi dan endemik. Di daerah ini juga merupakan salah satu lokasi penemuan tarsius. Berdasarkan kecocokan morfologi dan sebaran diketahui spesies tarsius yang berada di daerah ini adalahTarsius fuscus Fischer 1804 (Groves dan Shekelle 2010).

A. Taksonomi

Tarsius adalah suatu genus monotipe dari famili Tarsiidae, primata endemik yang tersebar di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Filipina (Dephut 1978). Genus ini memiliki beberapa spesies diantaranya yaituTarsius bancanus yang ditemukan di Sumatera dan Kalimantan, Tarsius syrichta yang ditemukan di Filipina (Wirdateti dan Dahrudin 2006). Di Sulawesi terdapat 11 jenis tarsius, yaitu T. tarsier, T. fuscus, T. sangirensis, T. pumilus, T. dentatus, T. pelengensis, T. lariang, T. tumpara, T. wallacei dan 2 jenis yang diketahui dari jenis berbeda tetapi belum diberi nama (Groves dan Shekelle 2010).

Namun dalam perkembangannya, Groves dan Shekelle (2010) merevisi taksonomi genus tarsius dan mengklasifikasinya menjadi 3 genus, yaitu Tarsius, Chephalopacus dan Carlito sehingga hanya spesies yang berada di Pulau Sulawesi dan sekitarnya yang menjadi bagian dari genus Tarsius. Sementara, spesies yang berada di Kalimantan dan Sumatera, yaitu Tarsius bancanus menjadi bagian dari genus Chephalopacus dan namanya berganti menjadi Chephalopacus bancanus. Begitu juga dengan Tarsius syrichta yang berada di Filipina menjadi bagian dari genus Carlito dan berganti nama menjadi Carlito syrichta. Selain itu, Groves dan Shekelle (2010) juga membatasi penyebaran Tarsius tarsier. Pada awalnya T. tarsier menyebar dari kepulauan Selayar hingga Semenanjung Barat Daya Pulau Sulawesi, namun setelah revisi tersebut jenis ini hanya tersebar di Kepulauan Selayar. Sedangkan tarsius yang berada di Semenanjung Barat Daya Sulawesi kini disebut sebagai Tarsius fuscus. Perubahan ini didasarkan pada perbedaan morfologi dan jumlah kromosom tiap jenis. Berikut adalah peta distribusi genus dan spesies Tarsiidae menurut Groves dan Shekelle (2010).

Gambar 1. Peta Distribusi Genus dan Spesies Tarsiidae (Groves dan Shekelle 2010).

Klasifikasi Tarsius fuscus menurut Groves dan Shekelle 2010 adalah sebagai berikut:

Ordo : Primata 
Subordo : Haplorrhini 
Infraordo : Tarsiiformes 
Famili : Tarsiidae (Gray 1852) 
Genus : Tarsius (Storr 1780) 
Species :
Tarsius fuscus, Fischer 1804
B. Morfologi

Tarsius memiliki rambut tebal dan halus yang menutupi tubuhnya. Warna rambut bervariasi, tergantung dari jenis, yaitu merah tua, coklat hingga keabu-abuan. Tarsius yang berasal dari Sulawesi memiliki ciri khas bila dibandingkan dengan jenis lain yaitu adanya rambut warna putih di belakang telinga dan rambut penutupnya berwarna abu-abu. Panjang tubuh 85 - 160 mm, dan panjang ekornya 135 - 275 mm. Berat tubuh tarsius jantan dewasa sekitar 75 - 165 g. Panjang kaki jauh lebih panjang bila dibandingkan dengan panjang tangan bahkan panjang tubuh secara total. Hal ini berkaitan dengan cara bergeraknya, yaitu meloncat (Supriatna dan Wahyono 2000).

Niemitz dan Verlag (1984) menyatakan bahwa tarsius memiliki keistimewaan pada mata karena penglihatan pada malam hari lebih tajam. Organ mata pada tarsius merupakan organ terbesar dibanding organ kepala lainnya. Kepala dapat berputar sampai dengan 180°.

Bagian bawah jari-jari tangan dan kaki tarsius terdapat tonjolan atau bantalan yang memungkinkan tarsius untuk melekat pada berbagai permukaan saat melompat di tempat yang licin. Tarsius memiliki kaki belakang yang panjangnya dua kali lipat panjang badan dan kepala untuk memberikan kekuatan melompat karena sebagian besar gerakan tarsius adalah melompat secara vertikal (Wharton 1974). Berikut perbedaan ukuran badan, warna rambut, serta panjang dan bentuk ekor tarsius di Sulawesi.

Gambar 2. Perbedaan morfologi jenis-jenis tarsius yang terdapat di Sulawesi (Shekelle et al. 2008).

Pada Gambar 2 terlihat bahwa terdapat dua jenis tarsius yang memiliki nama yang hampir sama yaitu Selayar tarsier dan tarsier. Perbedaan yang dimiliki oleh kedua jenis tarsius tersebut adalah rambut pada ekor tarsier lebih lebat daripada Selayar tarsier. Setelah revisi yang dilakukan Groves dan Shekelle (2010), Tarsius tarsier berganti nama menjadi Tarsius fuscus sedangkan Selayar tarsier menggunakan nama Tarsius tarsier. Perbedaan morfologi lainnya dari kedua spesies ini adalah kaki belakang T. fuscuslebih pendek dibandingkan T. tarsier, warna bulu T. fuscus juga lebih coklat kemerahan dan hanya sedikit bagian yang berwarna abu-abu, panjang ekor T. tarsier adalah 221% dari panjang seluruh tubuh dan kepala. Menurut Musser dan Dagosto (1988), panjang ekor T. fuscus adalah 143 - 166% dari panjang seluruh tubuh dan kepala.

Tarsius (Tarsius fuscus) di TN. Babul di kabupaten Maros memiliki sebutan tersendiri oleh masyarakat setempat (nama lokal berbeda-beda). Tarsius disebut juga Balao Cengke di Pattunuang, Congali di Mallenreng, dan Pa’cui di Balang Lohe.  Menurut Shagir KJ, et al. (2011), tarsius jantan dewasa yang tertangkap di kawasan hutan Pattunuang memiliki ciri-ciri antara lain panjang kepala dan badan 120 mm, panjang ekor 270 mm, dan hampir seluruh tubuhnya ditumbuhi rambut tebal dan halus berwarna coklat dan abu-abu, seperti pada Gambar 3.

Gambar 3. Tarsius (Tarsius fuscus) di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung: jantan anak di kawasan hutan Mallenreng (Kiri, foto:Iqbal Abadi Rasjid), jantan remaja di kawasan hutan Pattunuang (Tengah, foto:Iqbal Abadi Rasjid), dan jantan dewasa di kawasan hutan Pattunuang (Kanan, foto: Kamajaya Shagir) (Shagir KJ, et al. (2011)).
C. Habitat dan Penyebaran

Tarsius banyak ditemukan di luar hutan lindung atau area perbatasan hutan antara hutan primer dengan hutan sekunder, hutan sekunder dengan perkebunan masyarakat serta areal perladangan atau pertanian. Sedangkan pohon tidur atau sarang tarsius umumnya ditemukan di sekitar hutan sekunder dan perladangan dengan vegetasi yang rapat (Sinaga et al. 2009). Sedangkan menurut Napier dan Napier (1986), habitat tarsius adalah berbagai tipe hutan yaitu hutan hujan tropis, semak berduri, hutan bakau dan ladang penduduk. Selain itu, tarsius juga dapat hidup di hutan primer yang didominasi oleh famili Dipterocarpaceae dan perkebunan karet (Niemitz dan Verlag 1984). Sebaran habitat tarsius di TN. Babul di Kabupaten Maros sangat luas, hutan karst, hutan riparian, hutan dataran rendah, hutan pegunungan bawah bahkan sampai perkebunan, persawahan dan pemukiman (Shagir KJ et al. 2011).

Pohon tidur merupakan pusat kehidupan bagi tarsius dan terdapat paling sedikit satu pohon tempat tidur dalam satu wilayah kawanan (Kinnaird 1997). Pohon tidur atau sarang tarsius lebih banyak menempati jenis-jenis pohon Bambusa sp., Ficus sp., Imperata cylindrica, Arenga pinnata dan Hibiscus tiliaceus (Sinaga et al. 2009). Menurut Widyastuti (1993), kelompok tarsius di hutan primer lebih sering memilih tempat tidur di rongga-rongga pohon yang berlubang terutama pohon Ficus sp., pandan hutan, bambu, dan umumnya jenis berongga, terlindung dari sinar matahari dan agak gelap. Sinaga et al. (2009) menambahkan bahwa ketinggian pohon tidur atau sarang tarsius adalah antara 0- 20 m di atas permukaan tanah serta lebih tergantung pada jenis tumbuhan dan kondisi habitatnya.

Menurut Shagir KJ et al. (2011), tarsius di TN. Babul di Kabupaten Maros ditemukan pada kisaran ketinggian 45 - 626 m dpl dengan kondisi topografi kemiringan lahan datar, berbukit hingga curam. Kemungkinan Tarsius juga dapat hidup lebih dari ketinggian 626 m dpl atau di atas kawasan hutan Mallenreng, yaitu Tondong Karambu yang merupakan gugusan pegunungan Bulusaraung. Sementara, tarsius di TN. Babul di Kabupaten Pangkep ditemukan di antara ketinggian 2 - 1.200 mdpl (Chaeril et al. 2011).

Karakteristik sarang tarsius yang teramati di TN. Babul di Kabupaten Maros adalah di lubang/celah pada tebing karst dan singkapan batu, di dalam rumpun bambu duri (Bambusa multiflex Raeusch.), dan rimbunan tanaman merambat.  Ketinggian sarang pada tebing karst berkisar antara 2 - 20 meter (Shagir KJ et al. 2011). Mansyur FI (2012) menambahkan bahwa tarsius di desa Tompobulu, Kabupaten Pangkep bersarang di celah tumbuhan Ficus sp. dan di kelilingi liana, sarang yang berada di celah batu karst yang diselimuti liana, sarang yang berada di pohon Nira (Arenga Pinnata), dan sarang yang berupa terowongan bawah tanah di bawah rumpun-rumpun bambu.

D. Populasi

Menurut Shekelle et al. (2008) sampai saat ini telah ditemukan 16 populasi tarsius di Sulawesi yang kemungkinan dapat menjadi spesies tersendiri dan baru lima spesies di antaranya yang sudah mempunyai nama yaitu T. spectrum, T. sangirensis, T. pumillus, T. pelengensis dan T. dianae. Sebelas spesies lainnya masih perlu pemberian nama untuk keperluan konservasi. Wirdateti dan Dahrudin (2006) menyatakan bahwa setiap sarang tarsius terdapat 3-6 individu dengan komposisi anak, remaja dan induk atau dalam bentuk keluarga.

Dari 12 lokasi pengamatan di TN. Babul di kabupaten Maros diperoleh kepadatan populasi berkisar antara 0,13 - 66,80 individu/km² dengan kisaran jumlah Individu 2 - 8 per kelompok. Jalur pengamatan tarsius sepanjang sungai Pattunuang (3.000 m) memiliki kepadatan populasi tertinggi sebesar 66,80 individu/km² dengan jumlah individu masing-masing kelompok berkisar antara 2 - 6 individu (Shagir KJ et al. 2011).

Sementara, dari hasil pengamatan tarsius pada 15 lokasi pengamatan di TN. Babul di Kabupaten Pangkep diperoleh jumlah total 67 kelompok dengan perkiraan jumlah Individu 2 - 4 per kelompok dan jumlah total individu 190 ekor (Chaeril et al. 2011). Berdasarkan hasil inventarisasi dengan metodeConcentration count di TN. Babul di desa Tompobulu, kabupaten Pangkep populasi terbanyak ditemukan berada di hutan sekunder, yaitu sebanyak 31 ekor, 9 ekor di kebun masyarakat dan 4 ekor yang berada pekarangan rumah penduduk. Kepadatan tarsius di lokasi ini adalah 151 individu/ km² di dalam lokasi hutan sekunder, sedangkan kepadatan di sekitar perumahan masyarakat lebih rendah, yaitu 36 individu/km² di dalam kebun masyarakat dan 23 individu/ km² di pekarangan rumah penduduk. Jika digolongkan berdasarkan struktur umur, individu tarsius yang paling banyak ditemukan di setiap lokasi adalah tarsius pada kelas umur dewasa (Mansyur FI, 2012).

Pola hidup tarsius selalu membentuk suatu unit sosial yang meliputi sepasang individu dewasa bersifat monogami dan tinggal bersama keturunannya dalam suatu teritorial. Sifat ini akan mempercepat pemusnahan spesies karena mereka akan sukar beradaptasi dengan kelompok lain apabila terjadi perusakan habitat dan hutan. Unit sosial Tarsius spectrum pada umumnya membentuk pasangan sebanyak 80% (monogamus) dan hanya sekitar 20% saja yang bersifat multi male-multi female (beberapa jantan atau betina dalam suatu kelompok) (Supriatna dan Wahyono 2000).

E. Perilaku

Tarsius mengeluarkan suara yang khas untuk berkomunikasi antar spesies (Niemitz dan Verlag 1984). Gursky (1999) menambahkan tarsius memiliki komunikasi vocal sebagai siulan kepada kelompok yang tidak dikenal atau sebagai tanda bila ada gangguan, komunikasi calling concerts dan family choruses.

Terdapat tujuh nada panggil yang dikeluarkan tarsius, baik sebagai alarm call untuk memanggil anggota kelompoknya keluar dan kembali ke sarang, teritorial call, fear call, threat call, nada-nada yang dikeluarkan induk maupun anak dalam masa pengasuhan, nada-nada yang dikeluarkan oleh jantan dan betina dalam mencari pasangan. Beberapa nada panggil tersebut memiliki frekuensi yang tinggi sehingga berada di luar jangkauan atau tangkapan manusia. Sinaga et al. (2009) menyebutkan bahwa dalam kondisi normal suara tarsius dapat terdengar dari jarak yang cukup jauh dan saling bersahut-sahutan antara satu kelompok dengan kelompok yang lain atau antar individu dalam satu kelompok.

Menurut Qiptiyah M (2009), perjumpaan tarsius di TN. Babul secara tidak langsung berdasarkan suara (vokalisasi) adalah pada jam-jam tertentu seperti pada saat keluar sarang sore hari sekitar jam 18.00 WITA, dan pagi hari sekitar jam 05.00 -  06.30 WITA menjelang masuk sarang. Tarsius mengeluarkan suara sebagai penanda teritori, dan hal yang sama dilakukan ketika kembali ke sarang pagi hari. Sesekali suara tarsius dapat terdengar ketika mereka sedang mencari makan (foraging), memberitahukan keberadaan dari pasangan masing-masing. Selama pengamatan tarsius lebih mudah dideteksi pada saat pagi hari, dibandingkan pada saat sore hari.

F. Status Konservasi

Sejak tahun 1931, tarsius sudah dilindungi berdasarkan Peraturan Perlindungan Binatang Liar No. 266 tahun 1931, diperkuat dengan Undang-undang No. 5 tahun 1990 dan Peraturan Pemerintah No.7 Tahun 1999 serta Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 301/Kpts-II/1991 yang dikeluarkan tanggal 10 Juni 1991. Tarsius juga termasuk dalam daftar hewan yang dilarang untuk diperdagangkan dalam daftar Appendix II CITES. Meskipun demikian International Union for Conservation of Nature (IUCN) masih memasukkan beberapa species tarsius dalam kategori data deficient (kurang data). Hal ini berarti masih diperlukan data penelitian untuk melengkapi data tersebut sehingga dapat ditingkatkan statusnya (Yustian 2006).

Kategori terbaru IUCN Red List of Threatened Species 2008 telah memasukkan tarsius dalam kategoriCritically Endangered (kritis) untuk spesies tarsius yang baru diidentifikasi, yaitu T. tumpara di Pulau Siau. Hal ini disebabkan karena spesies ini berada di suatu pulau yang memiliki kepadatan penduduk yang tinggi dan mempunyai kebiasaan untuk mengkonsumsi tarsius. Selain itu, pulau tersebut juga memiliki gunung berapi aktif yaitu Gunung Karengetang yang mengancam keberadaan spesies di alam. Dua spesies lain yang dikategorikan endangered dan terancam di alam dalam waktu dekat adalah T. pelengensis, dan T. sangirensis. Adapun spesies yang dikategorikan vulnerable (rentan punah) adalah T. tarsier dan T. dentatus, sedangkan dua spesies yang masih dalam kategori kurang data adalah T. pumillus dan T. lariang.

Status T. fuscus sampai saat ini masih tergolong dalam vulnerable dalam Red List yang dikeluarkan oleh IUCN 2011. Akan tetapi status ini dapat berubah apabila penelitian mengenai tarsius terus dilakukan dan populasi jenis ini dapat diperkirakan maka tidak menutup kemungkinan statusnya akan meningkat menjadi Endangered (Gursky 2008).

DAFTAR PUSTAKAChaeril, Suci AH, Nurhidayat M, Langodai RW, Sulkarnaen. 2011. Identifikasi dan Pemetaan Sebaran Tarsius di SPTN Wilayah I Balocci Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Bantimurung : Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.

DEPHUT] Departemen Kehutanan. Direktorat PPA. 1978. Pedoman Pengelolaan Satwa Langka; Mamalia. Bogor: Direktorat Perlindungan dan Pengawetan Alam.

Groves C, Shekelle M. 2010. The genera and species of tarsiidae. International Journal of Primatology 31 (6): 1071- 1082.

Gursky S. 2000. Effect of seasonality on the behavior of an insectivorous primate, Tarsius spectrum. International Journal of Primatology 21 (3): 477-495.

Gursky S. 1999. The Tarsiidae: Taxonomy, Behavior and Conservation Status. Di dalam: Dolhinow P, Fuentes. Non Human Primates. United States of America: The John Hopkins University Press.

IUCN] International Union for Conservation of Nature. 2011. Red List of Threatened Species. http://www.iucnredlist.org/. [15 September 2012].

Kinnaird MF. 1997. Sulawesi Utara Sebuah Panduan Sejarah Alam. Volume 1. Jakarta: Yayasan Pengembangan Wallaceae.

Mansyur FI. 2012. Karakteristik Habitat dan Populasi Tarsius (Tarsius fuscus Fischer 1804) di Resort Balocci Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung Sulawesi Selatan. [Skripsi]. Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.

Napier JR, Napier PH. 1985. The Natural History of The Primates. Cambridge: The MIT Press.

Niemitz C, Verlag FG. 1984. Biology of Tersier. New York: Pustet Reagensburg.

Qiptiyah M, Setiawan H, Rakhman MA, Mursidin, Ansari F. 2009. Teknologi konservasi biodiversitas fauna langka : Teknologi konservasi insitu tarsius (Tarsius sp.) di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Makassar : Balai Penelitian Kehutanan Makassar.

Shagir KJ, Rasjid IA, Wibowo P, Fajrin S dan Paisal. 2011. Identifikasi dan Pemetaan Sebaran Tarsius Pada Kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung di Kabupaten Maros. Bantimurung : Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.

Shekelle Myron dan Leksono, S. M. 2004. Rencana Konservasi di Pulau Sulawesi dengan Menggunakan Tarsius sebagai Flagship Spesies. Biota 9(1): 1-10.

Shekelle M, Groves C, Merker S, Supriatna J. 2008. Tarsius tumpara: A New Tarsier Species from Siau Island, North Sulawesi. Primate Conservation (23): 55-64.

Sinaga W, Wirdateti, Iskandar E dan Pamungkas J. 2009. Pengamatan habitat pakan dan sarang Tarsius (Tarsius sp.) wilayah sebaran di Sulawesi Selatan dan Gorontalo. Jurnal Primatologi Indonesia 6 (2): 41-47.

Supriatna J., Wahyono EH. 2000. Panduan Lapang Primata Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Wharton CH. 1974. Seeking mindanau’s strength creatures national geography. Journal Mammal. 51(3): 225-230.

Widyastuti Y. 1993. Flora Fauna Maskot Nasional dan Propinsi. Jakarta: Penebar Swadaya.

Wirdateti, Dahrudin H. 2006. Pengamatan pakan dan habitat Tarsius spectrum di Cagar Alam Tangkoko- Batu Angus, Sulawesi Utara. Biodiversitas 2 (9): 152-155.

Yustian I. 2006. Population density and the conservation status of Belitungs tarsier Tarsius bancanus saltator on Belitung Island, Indonesia. Universitas Sriwijaya. Sumatera Selatan.
Penulis: Kamajaya Shagir