image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Artikel

Pengamatan Burung Jenis Rangkong (Rhyticeros cassidix) Di Dusun Bonti dengan Tower Karst-nya yang Menawan

Burung rangkong yang sedang mencari makan di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung | Foto: Rely.

Kegiatan inventarisasi burung di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN. Babul) Tahun 2012 yang dilaksanakan oleh Balai TN. Babul terfokus pada burung rangkong (Rhyticeros cassidix) yang merupakan burung endemik pulau Sulawesi dan sekaligus menjadi fauna identitas Sulawesi Selatan. Pelaksana kegiatan ini dibagi dalam 2 (dua) Tim, yaitu tim 1 di kawasan Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II di Kabupaten Maros, dan tim 2 di kawasan SPTN Wilayah I di Kabupaten Pangkep.

Persiapan Tim

Sebelum dilakukan kegiatan inventarisasi burung rangkong yang oleh masyarakat setempat disebut juga sebagai burung Alo, tim melakukan persiapan terlebih dahulu. Persiapan yang dilakukan diantaranya perlengkapan camping seperti tenda, matras, sleeping bag, peralatan masak (nesting), dan kompor. Untuk logistik tim juga mempersiapkan segala kebutuhan untuk beberapa hari seperti beras, mie instan, ikan kaleng, air mineral, kue-kue kering, serta obat-obatan dan lain-lain. Persiapan peralatan lainnya diantaranya kamera dengan lensa tele, kompas, global position system (GPS) dan binokuler.

Pengumpulan data dan informasi awal tentang keberadaan jenis burung yang berparuh besar yang mempunyai bentuk menyerupai tanduk sapi ini juga dilakukan terhadap masyarakat sekitar kawasan TN. Babul. Data dan informasi tersebut diantaranya tempat bersarang, mencari makan maupun lokasi burung ini melintas. Setelah data dan informasi dirasa cukup, selanjutnya dilakukan briefing tim untuk menyusun rencana dan strategi dalam pelaksanaan pengamatan langsung di lapangan.

Tim inventarisasi burung rangkong beristirahat di TN. Babul | Foto: Rely.

Perjalanan Menuju Dusun Bonti

Dari hasil briefing, tim 2 sepakat  untuk pengamatan pertama dilakukan di Dusun Bonti, Desa Balocci Baru Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep. Berdasarkan informasi yang diterima dari masyarakat yang berada di Dusun Bonti, jarak antara Dusun Bonti dari kantor SPTN Wilayah I di Balocci berjarak sekitar 5 km.

Sesuai kesepakatan saat briefing ditentukan waktu dan tempat berkumpul untuk melakukan perjalanan ke dusun tersebut. Hari yang disepakati pun tiba dan tim telah berkumpul sesuai kesepakatan di Kantor SPTN Wil. I di Balocci. Setelah berkumpul dan barang-barang bawaan pun lengkap, selanjutnya tim menuju lokasi pengamatan. Berangkat dari Kantor SPTN Wil I dengan menggunakan kendaraan roda dua dengan jarak sekitar 2 km.  menyusuri jalan kecamatan yang melintasi pemukiman perusahaan Semen Tonasa 1, sesekali tim berpapasan dengan mobil pengangkut bahan semen dari tempat penambangan. Sekitar 1 km dari lokasi penghentian kendaraan roda dua kami melintasi jalan desa yang berujung pada jalan aspal yang buntu. Karena jalan menuju Dusun Bonti ini tidak dapat dilewati dengan kendaraan roda dua sekali pun, maka selanjutnya tim menitipkan kendaraan roda duanya pada rumah penduduk setempat.

Perjalanan pun dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 3 km. Di sekitar tempat penitipan motor tim, telah menunggu 2 orang penduduk asli Dusun Bonti, dimana salah satunya merupakan informan tim tentang keberadaan burung rangkong dan seorang lagi seorang porter meskipun tampak dari raut muka dan fisiknya sudah berumur hampir 50-an. Setelah basa-basi sedikit selanjutnya tim bersama dua orang tadi berangkat menuju lokasi dengan masing-masing membawa barang pribadi masing-masing dan Bapak yang bertugas sebagai porter pun membawa barang tim dengan tas karel besar (sekitar 60 liter). Satu kilometer pertama (jarak datar) tim disuguhi dengan pendakian yang tergolong cukup menantang. Dengan kemiringan cukup besar (sekitar 45˚-60˚) dan kondisi jalan yang berbatu besar dan kurang teratur membuat tim jadi ngos-ngosan dibuatnya. Hanya dua orang tadi yang merupakan penduduk lokal tampak terbiasa dan tidak menunjukkan kelelahan yang berlebihan padahal barang bawaannya pun tergolong lebih berat dari yang lainnya.

Sesekali dalam perjalanan mendaki ini tim dihibur dengan kicauan burung yang melintas dan terkadang hinggap di pohon sekitar jalan yang kami lalui. Haya berjarak sekitar 500 meter tim kemudian beristirahat sambil mengembalikan stamina dengan meneguk air mineral yang dibawa masing-masing anggota tim. Pada saat seperti ini pula salah seorang teman yang bertugas sebagai kamera-man mengabadikan burung yang bertengger sekitar tempat persinggahan.

Setelah dirasa cukup beristrahat, tim selanjutnya meneruskan perjalanan. Jalan yang dilalui kali ini sedikit lebih enteng dari sebelumnya tetapi masih cukup menantang karena jalannya masih menanjak. Setelah berjalan sekitar 1,5 km tim akhirnya sampe pada puncak jalan yang menanjak dan tak lama kemudian tim singgah lagi beristirahat sambil menikmati panorama dari ketinggian. Dari tempat beristirahat tim dihibur dengan hamparan sawah yang membentang yang nun jauh. Disisi lain tim juga terpukau dengan suguhan tebing karst yang menjulang tinggi tepat di seberang jalan (tebing) yang kami lalui, dimana diantara jalan yang kami lalui dengan tebing tinggi tersebut terdapat pepohonan yang hijau..

Perjalanan selanjutnya yang menurut masyarakat setempat ini tersisa 1,5 km dari tempat kami beristihat. Jalannya mulai menurun seiring menuju dusun yang kami tuju. Tak jauh dari tempat peristirahat kami menjumpai segerombolan monyet hitam (macaca maura) dengan jumlah anggota kelompok sekitar 10 ekor. Dimana awal perjumpaan kami terlihat 2 ekor burung srigunting jambul rambut (Dicrurus hottentottus) yang mengawal kelompok dare (basa lokal) mencari makan ini. Dari aktivitasnya tampak kelompok dare ini sedang mencari makan di pohon beringin (Ficus sp) yang berada pada tebing karst tepat di atas kami. Tak lupa primata khas Sulawesi ini diabadikan oleh salah seorang dari kami, sambil mencatat keberadaan dan koordinat lokasi perjumpaan sebagai data tambahan bagi tim.

Dengan suguhan tebing karst yang tepat berada di seberang kanan yang setia menemani sepanjang sisa perjalanan tim, akhirnya tim tiba juga di desa yang telah kami bayangkan sepanjang perjalanan. Kami takjub dengan keberadaan desa ini, walau hanya berkisar 20 rumah di perkampungan pertama dengan kedamaian yang tim rasakan. Seolah bagai seorang pengembara yang lelah berjalan dengan kejauhan di bawah terik matahari yang kehabisan bekal dan akhirnya sang pengembara menemukan air. Tim selanjutnya beristrahat di rumah penduduk setempat yang kebetulan merupakan keluarga dari informan tim.

Pohon nane (Bahasa Bugis) berbuah, pakan burung rangkong | Foto: Rely.

Pengamatan Rangkong di Dusun Bonti

Tak lama setelah tim beristirahat, kami dikagetkan oleh teriakan dari salah seorang anggota tim yang melihat seekor rangkong yang melintas di seberang tebing karst dari tempat kami beristirahat. Dengan rasa penasaran yang tinggi kami mencari keberadaan rangkong yang dimaksud. Mengingat jarak dari rumah ke pohon tempat bertenggeng burung tersebut cukup jauh (sekitar 500 meter) sehingga burung yang tergolong besar ini hanya tampak kecil dari kejauhan. Setelah diamati secara seksama ternyata burung rangkong tersebut ada dua ekor yang terdiri dari jantan dan betina. Pada masa tidak berbiak, rangkong selalu berpasangan walau seringkali bergerombol dengan teman-temannya di pohon pakan (Suers 2007). Sesekali Burung yang dilindungi ini terbang lurus dari pohon satu ke pohon lainnya. Dari aktivitasnya tampak sepasang burung ini sedang mencari makan. Tak berselang berapa lama kedua burung rangkong ini pun terbang menuju ke pepohonan yang berada di sisi lain dari bukit karst yang berada di depan kami, sehingga hilanglah dari jangkauan mata kami. Perjumpaan sesaat dengan burung dengan paruh berwana putih kekuningan ini seolah menjadi penghibur akan kelelahan tim menuju dusun ini.

Setelah beristihat dengan cukup, sore harinya tim meneruskan pencarian sarang burung rangkong yang menurut informan tak jauh dari rumah tempat kami beristirahat. Yang benar saja hanya berkisar 1 km dengan jalan menulusuri pematang sawah yang kering. Mengingat masih musim kemarau yang panjang sehingga sawah masyarakat di dusun ini tak dapat ditanami padi, bahkan sungai yang memotong persawahan para pak tani juga turut kering kerontang. Meskipun begitu masyarakat dusun ini tetap memanfaatkan lahan persawahan dengan menanam kacang tanah. Tepat di bagian barat tebing karst areal persawahan ini tampak lubang menganga yang cukup besar yang oleh masyarakat sekitar diyakini sebagai sarang dari burung Alo (sebutan masyarakat setempat). Oleh tim selanjutnya melakukan pengamatan dari jarak terdekat dari sarang burung alo tersebut. Jarak antara pengamat dan lubang yang diyakini sarang tersebut berkisar 150 meter. Tinggi lubang tersebut saja berkisar 100 meter dari areal persawahan pada tebing karst.

Setelah cukup lama menunggu kedatangan burung ini kurang lebih 2 jam. Tak jauh dari tempat kami mengamati sarang tepat pada tebing karst di bagian timur, oleh salah seorang dari tim melihat burung yang memiliki bentang sayap 3 – 4 cm ini terbang dari pohon ke pohon lainnya. Leher rangkong ini berwarna kuning-jingga sehingga tim mengidentifikasin sebagai pejantan. Mengingat betina dari jenis burung ini tetap berwarna gelap (suers 2007). Dengan semangatnya dua orang dari tim mengejar untuk mengambil gambar dari dekat. Tampak rangkong tersebut sedang mencari makan di antara cabang pohon satu dengan cabang pohon yang lainnya. Jika diamati secara seksama burung tersebut sedang mencari serangga ataupun satwa kecil lainnya, mengingat pohon yang dihinggapi daunnya telah berguguran dan tidak memiliki buah. Sesekali burung besar ini juga melakukan manuver ke bawah mencari pohon yang memiliki buah.  Pohon yang memiliki buah, yang diidentifikasi sebagai makanan burung pemakan buah masak ini. Oleh masyarakat di dusun ini menyebutnya sebagai pohon nane (bahasa lokal). Karena begitu penasarannya untuk mengabadikan burung langka ini dengan kualitas gambar yang tajam, maka 2 orang dari tim ini terus mendekati pohon yang menjadi tempat mereka mencari makan. Hanya saja, rangkong yang berjenis kelamin jantan terbang sebelum mereka berhasil mengabadikannya lebih dekat lagi. Hal tersebut terjadi karena burung rangkong ini belum terbiasa dengan kehadiran mereka. Burung alo tersebut terbang jauh ke balik tebing karts sehingga tidak terkejar lagi.

Tebing karst & puncak G. Bulusaraung yang mengelilingi Dusun Bonti | Foto: Rely.

Mataharipun mulai tenggelam dan jam telah menunjukkan pukul 5.30 Wita. Tim selanjutnya menunggu kepulangan burung ini ke lubang yang diyakini sebagai sarangnnya. Dan benar saja, 15 menit kemudian oleh tim tampak burung alo terbang dari arah timur menuju lubang sarangnya. Hanya saja lubang yang ditunjukkan warga tidak sesuai. Burung rangkong memiliki sarang yang terletak di bawah dari lubang yang dimaksud sebelumnya. Dengan gembira tim menyambut kedatangan rangkong ini, sehingga kemungkinan terdengar oleh sang penyebar benih ini, sehingga dia terbang menjauh dari sarangnya. Dia terbang kearah tebing karst di bagian utara. Sehingga akhirnya tim memutuskan untuk kembali beristirahat juga.

Keesokan harinya, setelah sebelumnya sepakat akan melalukan pengamatan sebelum matahari terbit untuk melihat burung rangkong tersebut keluar dari sarangnnya. Jam 6.00 Wita tim telah berada dari jarak terdekat dari sarang burung alo ini. Tak menunggu lama lagi tepat pukul 6.10 Wita seekor burung rangkong keluar dari sarangnya. Burung tersebut terbang kearah barat. Burung yang diyakini berkelamin jantan ini keluar dari sarang untuk mencari makan bagi betina yang yang ada di sarangnnya. Meskipun tak terlihat oleh tim, rangkong pasangan jantan ini diyakini ada di dalam sarang. Karena rangkong Sulawesi menganut paham monogami. Selama masa berbiak, sang jantan dengan setia bolak-balik ke sarang memberi ransum makanan untuk betina yang setia di dalam lubang (Suers 2007).

Setelah puas dengan pengamatan burung yang langka ini tak lupa tim mengabadikan diri di dusun yang damai nan indah ini. Dengan letak yang terlindungi oleh tebing – tebing karts yang menjulang tinggi dan dianugrahi hamparan lahan yang datar. Yang oleh masyarakat setempat digarap menjadi persawahan dan di bagian tengah persawahan melintas sungai yang hulunya berasal dari Gunung Bulusaraung. Tiga sisi dari dusun ini merupakan hamparan tebing karst yang kokoh. Di bagian utara mata akan takjub dengan pemandangan puncak Gunung Bulusaraung yang menjulang tinggi. Sungguh begitu menawan tebing – tebing kart yang mengelilingi dusun ini dengan ornamennya yang unik dan beragam.

Matahari pun mulai menanjak, tim pun menyudahi pengamatan di dusun terindah ini. Setelah mengemas barang bawaan, tim pun pulang dan tak lupa mengucapkan terima kasih kepada pemilik rumah atas tumpangannya selama tim di dusun ini. Perjalanan pulang pun teras begitu ringan karena terpuaskan oleh perjumpaan burung rangkong yang hidupnya hanya di atas pepohonan yang tinggi ini.

DAFTAR PUSTAKASuers. 2007. Rangkong Sulawesi, Pesawat Tempur Penebar Biji. http://suers.multiply.com/journal/item/15/Rangkong-Sulawesi-Pesawat-Tempur-Penebar-Biji?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem. Diakses tanggal 20 September 2012.
Penulis: Taufiq Ismail, S.Hut  (PEH Pelaksana Lanjutan pada Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung)