image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Artikel

Terlena Dengan Pesona Leang-Leang

Taman Prasejarah Leang-Leang| Foto: Taufik Ismail.

Kota Makassar diguyur hujan. Namun anugerah Sang Khalik ini tak menghalangi saya untuk berkunjung ke Taman Prasejarah Leang-leang. Taman yang benilai sejarah ini terletak di Kabupaten Maros. Bersama dengan keempat teman yang lain, saya menikmati kunjungan ini. Dengan jarak sekitar 25 km dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin ini, dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Akses jalan ke munuju lokasi taman yang telah dikelola sejak tahun 1977 terbilang mulus. Hal ini mengingat jalan yang dilalui merupakan jalan poros menuju Kabupaten Bone. Salah satu kabupaten yang berada di bagian utara Sulawesi Selatan.

Memasuki desa dimana taman bersejarah ini berada saya disambut dengan gerbangnya yang megah. Jadi tak sabar rasanya untuk melihat taman yang konon memiliki lukisan yang berasal dari zaman prasejarah ini. Dengan jalan yang mulai menyempit menandakan kami sedang menyusuri jalan desa.  Dua kilometer terakhir kami disuguhi view karst yang seolah-olah berbaris menyambut kedatangan saya. Megahnya karst ini bagai bangunan pencakar langit seperti di kota-kota besar. Karenanya saya tak melewatkan moment ini. Bermodal kamera DSLR saya bersama teman yang lain memotret landscape menawan ini.  Kokohnya karst yang berada di sisi kiri dan kanan badan jalan terpadu hamparan sawah yang menghijau. Sesekali seekor burung elang (Spizaetus lanceolatus) terbang mengitari seolah mengintip keberadaan kami. Tak jauh dari persinggahan saya, tampak seorang petani mengembalakan sapinya. Sungguh suasana pedesaan yang terasa kental.

Setelah puas mengabadikannya, kami pun melanjutkan perjalanan. Sebelum sampai ditempat tujuan, saya mengamati ada beberapa gua diberi pagar dan nama gua untuk menarik wisatawan berkunjung. Setelah menempuh perjalanan beberapa menit dari tempat persinggahan, akhirnya kami sampai juga. Dengan keberadaan gerbang dan loket karcis menandakan taman ini telah terkelola dengan baik. Suasana yang asri dan tenang, begitu kesan pertama kali menginjakkan kaki di areal bersejarah ini. Suasana alami masih terasa kental di areal ini, hanya beberapa sarana saja yang dibangun untuk mendukung aktivitas wisata. Rumah panggung (museum), mushollah, MCK, jembatan serta jalan trail yang berada di taman yang secara administratif termasuk Kelurahan Kallabirang ini.

Rumah Adat Bugis-Makassar difungsikan sebagai Museum | Foto: Taufik Ismail.

Yang menarik bagi saya sejak awal masuk di area taman yang dikelola Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Makassar ini adalah rumah panggung yang berada di sisi kanan. Berdiri kokoh seolah bertingkat dengan background tebing karst. Rumah panggung ini juga menggambarkan jenis rumah yang umumnya dihuni oleh masyarakat di Sulawesi Selatan. Konon asal muasal rumah panggung ini dipilih karena memiliki fungsi untuk menghindarkan gangguan dari binatang buas. Yang pada akhirnya yang menjadi turun temurun hingga sekarang di tanah yang umumnya bersuku Bugis-Makassar ini.

Petualangan pun dimulai, didampingi seorang guide yang setia mendampingi selama kunjungan. Menyusuri jalan trail yang telah disiapkan untuk para pengunjung. Kami terhenti sejenak pada hamparan batu gamping yang berdiri tegak nan megah seolah berbaris menyambut. Berbagai bentuk yang saya temui, dengan posisi berdiri vertikal, miring, dan lainnya seolah berbaring (horizontal). Warnanya yang hitam memberi kesan yang sangar. Belum lagi ketahanannya yang tak lagi diragukan. Hal ini membuatnya tampak kokoh tak termakan zaman.

Sesekali dalam penelusuran saya di taman yang pengelolaannya di bawah kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini, dihibur dengan tarian khas kupu-kupu. Setidaknya jenis Papilio peranthus, Hebomia glaucippe, Graphium milon, Papilio gigon, Fanius menado, dan Idea blanchardi yang saya jumpai selama berada di arael wisata sejarah ini. Hal ini menandakan lingkungan Taman Purbakala Leang-leang ini masih baik. Mengingat kupu-kupu menyukai tempat-tempat yang bersih, sejuk, dan tidak terpolusi oleh insektisida, asap, bau yang tidak sedap, dan lain-lain. Tak heran jika serangga cantik ini sering dijadikan sebagai indikator biologi terjadinya perubahan lingkungan (IPB 2011). Kehadiran kupu-kupu di taman ini cukup beralasan, mengingat area ini juga dilintasi sungai. Karena umumnya kupu-kupu menyukai tempat yang basah seperti di pinggiran sungai.

Menyeberangi sungai melalui jembatan kayu yang telah disediakan pengelola, guide mengantar saya menuju gua. Gua pertama yang kami kunjungi adala Leang Pettakerre. Sejak pertama menuju lokasi gua yang terletak di tebing karst ini saya tak tahu potensi gua ini. Di pikiranku beranggapan jikalau “leang” ini begitu orang Makassar menyebutnya, sama halnya dengan gua-gua pada umumnya yang berada di kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Letaknya pada kaki tebing karst, memaksa kami sedikit mendaki menuju gua. Memasuki gua perasaan saya biasa saja. Kedalaman gua tak kurang dari sepuluh meter. Saya takjub tak kala menuju pada bagian sisi kanan atas gua melihat secara langsung lukisan tapak tangan. Jika menengok ke belakang, sejak awal-awal saya bertugas di taman nasional yang terkenal dengan kupu-kupunya ini. Maklum saya bertugas secara definitif di taman nasional yang umumnya kawasannya merupakan hamparan karst ini pada pertengahan tahun 2012. Lukisan tangan berdarah ini sudah sering saya saksikan pada layar laptop. Dan pada akhirnya saya menyaksikannya secara langsung. Saya pun tak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk mengabadikannya.

Gambar telapak tangan di dinding Gua Leang-Leang | Foto: Muh. Ridwan Wira.

“Untuk menjaga kelestarian lukisan tangan ini maka diberi pagar besi dan harus dipandu jika mau berkunjung ke tempat ini” kilah H. Lahab. Benar saja hal ini wajar dilakukan mengingat ulah beberapa wisatawan yang berkunjung di kawasan wisata alam sering melakukan aktivitas vandalisme. Belum lagi lukisan tersebut bukan sembarang lukisan, melainkan warisan nenek  moyang kita terdahulu.

Lebih lanjut guide yang berusia 50 tahunan ini mengemukan bahwa “di Kabupaten Maros sendiri lukisan semacam ini ada sekitar 60-an”. Jumlah yang tidak sedikit, ini mengindikasikan bahwa orang-orang terdahulu kita sering menjadikan gua sebagai tempat tinggal. Sehingga itu, warisan berupa lukisan pada dinding gua ini harus dijaga dari tangan-tangan yang tak bertanggung jawab.

Petualangan hari itu belum berakhir. Bapak yang selalu siap mengantar setiap pengunjung ini dengan sigapnya menuntun saya menuju gua yang berada sisi kanan taman. Dalam perjalanan menyusuri jalan trail saya dikagetkan dengan melintasnya seekor biawak (Varanus salvator). Paparang begitu masyarakat di Kabupaten Maros menyebutnya. Karena kelincahannya saya tak sempat mengabadikannya. Pada akhirnya saya tiba pada mulut gua yang diberi nama “Leang Pettae”. Mulut gua ini dihiasi stalaktit yang rupawan, seolah-olah menarik saya bersama teman lain untuk memasukinya. Gua ini tidak dalam (panjang), pada kisaran lima meter dari mulut gua tampak pagar yang diberi cat merah. Saya penasaran dan bertanya pada guide yang setia mendampingi. “Buat apa pagar ini?” tuturku. “Pagar ini untuk melindungi lukisan yang ada di dinding gua” begitu kilah Bapak berbaju putih saat itu. Saya pun menghampiri lukisan tersebut. Dan benar saja tampak lukisan tangan terpampang dengan klasiknya di dinding gua. Pada dasar mulut gua juga terdapat tumpukan fosil kerang (moluska). Hasil penggalian yang tersimpan di musem taman ini setidaknya fosil  kepala kambing, Tridacna maxima, serta beberapa jenis kerang lainnya ditemukan.

Jika diperhatikan secara seksama dapat ditarik kesimpulan bahwa daerah ini pernah digenangi air laut. Hal ini bisa dilihat dari ada fosil kerang dan jenis bebatuan yang berada di areal taman purbakala ini. Ini juga menjadi tantangan bagi para peneliti benda-benda purbakala untuk mengungkap misteri-misteri yang ada. Sungguh petualangan yang mengagumkan

DAFTAR PUSTAKAInstitut Pertanian Bogor. 2011. Klasifikasi dan Morfologi Kupu-kupu. Bogor
Penulis: Taufiq Ismail, S.Hut  (PEH Pelaksana Lanjutan pada Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung)